Kamis, 01 Agustus 2013

3 Rumah ....

"Innalillahi wa innalillahi rojiun"
 Kalimat pertama yang terucap dibibir dengan hati bergetar saat berita duka datang mengguncang Senja. Suara sedih bude diujung telepon, seakan melayang diatas awan. Separuh tak percaya tapi bener terjadi, berusaha menyimak baik - baik. " Kabari adik - adikmu ya, Nik. Bude disini urus jenazah Bapa dan Mama jadi sampai Bandung Tinggal dimakamkan."
"Ya Bude, terimakasih,"bisiknya lirih.
" Kamu harus tabah, Nik, demi adik-adikmu,"kata Bude lagi.Setahu Nika,sebetulnya bude juga berkata itu untuk menguatkan dirinya sendiri.Kepergian mendadak menyentakan kesadaran bahwa umur titipan tuhan, tak pernah bisa ditebak kapan diambil oleh sang pemilik.
"Ya,Bude, terimakasih," ulang dengan suara tersendat. Beberapa detail pengurusan jenazah disebut Bude berikutnya sudah tak bisa dingat lagi hanya pasang tenda dan pesan makam yang membekas,tak peduli apalagi isi pesan itu , segera memeluk Andi yang sedari tadi memandangnya dengan penuh cemas.
" Bapa, Mama...kecelakan mobil...meninggal di Solo," katanya terbata- bata disela air mata yang tumpah dipelukan Andi tunangannya. Andi Memeluk Erat dan terhanyut dalam kesedihan tunangannya.Calon mertuanya pasangan yang sehat dan bahagia. Minggu kemarin beliau antusias menghadiri pesta pernikahan putri Bude di Solo. Sementara sebari memeluk , Andi berusaha menegarkan tunangannya." Ikhlaskan Ade...relakan.Ingat adik-adikmu."
Perlahan-lahan, Nik mengangguk,bersadar pada pundak Andi, dan mulai menelepon Adik adiknya, Gita dan Gilang,berserta kerabat, dan sahabat yang lain. Tangis pecah dimana mana.Memacu mobil menuju rumah di wilayah Bandung selatan.

Pukul Sembilan malam berdentang, Gita tiba dari Jakarta. Dia menjerit - jerit, " Apa kubilang, apa kubilang! harusnya naik pesawat saja ndak usah mobil sambil menangis dalam pelukan Nika.
" Aku ndak rela mbak, aku belum bisa bahagiakan mereka.Mbak ingat, betapa aku mengecewakan bapa mama dengan nekat kabur ke jakarta untuk menjadi model. Masih Banyak " Mbak ingat..." diucapkan Gita disela isak tangisnya. Kepergian mendadak menyadarkan Gita akan rasa sesal karena telah menggoreskan kekecewaan dan kesedihan di hati orangtuanya. Sementara ada sosok yang nyaris luput dari perhatian, seorang bungsu bernama Gilang. Dia duduk disudut rumah dengan hati tak kalah retak.Berita ini mengejutkan, Dia ndak siap, tak sanggup untuk siap. Dalam ruang keluarga tempat berkumpul saat ini, air mata mulai menetes satu demi satu.Gilang membayangkan wajah teduh mama yang begitu tulus mencintainnya tanpa syarat walaupun narkoba telah merusaknya, wajah tegas bapa pun terbayang didepan walaupun pada awalnya bapa sangat marah tapi beliaulah yang sibuk mencari beberapa tempat rehab agar anaknya terbebas dari narkoba.Berbeda dengan Mbak Nika dan Mbak Gita yang menganggapnya sampah keluarga yang ndak berguna.Jika Mbak Gita dengan air matanya berhasil menarik perhatian simpati dan rasa kasihan sanak saudara yang melayat malam itu, Gilang lebih nyaman sembunyi dibelakang Mba Nika yang tabah menerima ucapan duka cita dari seluruh keluarga. Para tamu memeluk dan menghibur Mbak Nika dan Mbak Gita serta mengusap usap kepala gilang seakan mempertanyakan, kasihan kau adik kecil bagaimana masa depanmu setelah bapa dan mama tak ada. Tangis masih pecah dimana mana.

Hari berganti hari, bulan berlalu. Mbak Nika kembali sibuk dengan perusahaan yang dikelola olehnya sejak tiga tahun lalu sebelum bapa tiada. Mbak Gita sudah kembali ke Jakarta, menerima kenyataan bapa mama berpulang dan kembali sibuk dengan perkerjaan modelnya.Hanya Gilang yang masih Galau dan akhirnya datang menemui Mbak Nika untuk bicara.Gilang Juga mengundang Mbak Gita untuk datang, ada rapat keluarga begitu Gilang bilang pada mbak mbaknya.
" Mbak, Aku meminta pendapat mbak," Gilang mengawali rapat keluarga
"Soal?" tanya Nika nyaris tak peduli
"Kita harus apakan rumah ini?"
"Maksud kamu ?" tanya Nika alis terangkat.
"Kamu kan yang bakal tinggal disini, urus saja rumah itu," kata Mbak Gita datar.
"Aku tidak bisa kalo biayain rumah ini sendirian. Listrik mahal, Air juga mahal , pembantu sama sopir sudah aku berhentikan semua. Mbak kan tahu beberapa sih penghasilan fotocopy gini."
" Jadi ini semua soal uang? Kamu ingin mbak bantu biayain rumah itu?" tanya mbak Nika dengan nada tinggi.
Inilah akibatnya narkoba !
" Daripada pusing, kita jual saja,lalu kita bagi."usul Mbak Gita tiba tiba
" Terus? Bagaimana kita membaginya?
" Bagi bertiga sama rata,Beres,kan," kata mbak Gita
" Menurut hukum Islam , hak perempuan separo hak laki laki," Gilang berusaha membagi ilmu yang iya dapat di tempat rehab berbasis pesantren, tanpa niat buruk apapun. Gilang tak menyangka Mbak gita akan marah gitu.
"Dasar Bocah!" Senaknya saja bicara, aku mau hak yang sama, sudah banyak uang bapa mama yang kau habiskan untuk mengobati narkoba." Mbak gita berapi- api.
" Gilang cuma menyampaikan yang benar," kata Mbak Nika menengahi.
Kemarahan Mbak Gita segera berpindah arah. " Mbak juga serakah ! sudah Bapa kasih Perusahaan masih juga mau pembagian rumah.
Tuduhan Mbak Gita menyulut kenyataan yang Mbak Nika pendam selama ini.Dengan nada tinggi " ini bukan mauku!!! ini juga bukan pilihanku!!! Bapa mama tidak punya pilihan lain tidak bisa mengandalkan kalian. Cuma aku yang bisa diandalkan.Cuma aku!!!
Gilang dan Mbak Gita cuma bisa tertegun mereka ndak menyangka , Mbak Nika bisa begitu emosional.
Beberapa menit berlalu dalam kebisuan.Dengan suara bergetar " Aku sendiri punya impian memiliki travel seperti temen kuliahku , Aku korbankan impian buat meneruskan bisnis bapa. Kalian ingat,cuma aku yang ada di sini. Cuma Aku! Coba Tanya diri masing masing tiga tahun kalian dimana ?"
Mbak Gita membuang muka kejendela, Gilang cuma tertunduk mereka tak menyangka kemarahan mba Nika seperti itu. Mbak Nika bener tiga tahun lalu kita cuma dia yang ada.Mbak Gita dijakarta sibuk dengan kegiatan Model sedangkan Gilang asyik dugem narkoba.
Pertemuan keluarga ini berakhir buntu." Kita ketemu lagi Lusa dikantor om Robby, Mbak sampaikan dulu pada beliau mungkin beliau bisa bantu" ujar mbak Nika. Mbak Gita pulang dengan rasa kesal dan Gilang Pamit pulang sambil berbisik ok Mbak lusa Insya Allah aku datang. Om Robby adalah seorang notaris dan pengacara yang biasa membantu perusahan untuk urus urus surat kontrak dan lain lain.

Ketika Lusa akhirnya datang juga, Mbak Gita datang tepat waktu ke kantor Om Robby. "silahkan duduk dulu, Bu. Pak Robby segera turun," kata seorang perempuan manis. Perempuan itu April asisten Om Robby, dia mempersilahkan untuk duduk diruang meeting yang telah disiapkan.
"Sudah datang Mbak dan adikku?" tanya Mbak Gita ketus
" Maaf, Bu. Baru ibu yang datang." kata April sambil tersenyum
Untung Pak Robby segera datang sehingga April langsung berlalu. Didepan pintu hampir menabrak seseorang.
"Maaf ,saya terburu buru. Om Robby ada ?"
"Sudah diruang meeting dengan ibu Gita, Pak," kata April
Sebuah suara lembut milik mbak Nika terdengar, " Gilang,tunggu mbak!"
April segera mempersilahkan Nika dan Gilang ke ruang meeting.

Pertemuan dimulai dengan kata- kata Om Robby ." Seperti yang diminta Nika kemarin, Om sudah mengumpulkan kembali semua surat surat legal peninggalan bapa dan mama kalian. Bapa dan mama kalian tidak meninggalkan surat wasiat.
"Kami berencana menjual rumah itu Om, Karena Gilang sudah tidak sanggup merawatnya." kata Nika membuka
"Boleh saja ,Pasti cepat laku karena letaknya strategis." kata Om Robby
"Bagaimana mengurus pembagiannya,Om? untuk itulah kami datang kesini meminta pendapat om," kata Gita cepat.
"Om Robby mulai dengan hati hati menjelaskan, Om sudah kumpulkan semua akta akta yang pernah dibuat bapa kalian namun dari surat surat itu sebagian mengenai perjanjian bisnis dan penunjukan Nika sebagai Presiden direktur disana menggantikan Bapamu.Seperti yang kalian tahu ini sudah berjalan tiga tahun.
"Bapa tidak pernah meminta pendapatku tentang pengangkatan Mbak Nika jadi presdir, dan mewarisi seluruh aset perusahaan." kali ini Gita menggygat.
Muka Mbak Nika memerah menahan marah. Nika hanya berucap, " Bagaimana pendapat Om Robby?"
"Itu hak Bapa kalian. Om rasa tidak perlu meminta pendapat Gita. lagi pula saat itu, kamu ngga ada , justru dulu om yang memberikan masukan agar pengangkatan itu disahkan notaris , supaya secara hukum bahwa itu kehendak bapa kalian."
"Jadi Bapa tidak meninggalkan surat wasiat tentang rumah itu?" kali ini Gilang Bicara
" Sayangnya, begitulah.
" Karena Bapa dan mama kalian tidak meninggalkan amanat apa pun, tentu saja om kembalikan kepada kalian bagaimana pembagiannya, apa mau sesuai syariat Islam atau kalian punya kesepakatan sendiri.Om nanti yang bantu urus legal jual beli dan surat suratnya.

Pertengkaran kembali pecah. Gita yang emosi karena gugatan tentang perusahan yang diwariskan ke mbak Nika di mentahkan om Robby . Gita bersikap keras agar penjualan dibagi rata sama besar. Gita keluar sambil membanting pintu sambil memaki. Sementara Nika tersinggung dengan sikap adiknya yang tidak menghargai usahanya untuk mempertahankan perusahaan ini dan mengorbankan mimpinya sendiri, Nika pun keluar ruang dengan rasa kesal.Hanya Gilang yang tinggal sejenak menikmati kopi bersama om Robby lalu pamit pulang.

Waktu berputar, hari bergulir, minggu berlalu dan bulan berganti, Gilang didera gelisah karena tidak kunjung ada putusan nasib ini rumah akhirnya dia berkemas lalu menerima ajakan temennya untuk kerjaan di Surabaya.
Musim berganti dan dua tahun berlalu, Walau sudah betah di surabaya kerinduan akan kota kelahirannya membuat Gilang kembali ke Bandung.Sekadar ingin melihat rumah yang penuh kasih sayang dulu Gilang mampir, terkejut didepan pagar nyaris habis berkarat, atap mulai runtuh menyisikan dinding dinding berlumut. Gilang merasa sedih ,hatinya pedih mendapati kenyataan dia tak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan rumah itu. Sedih tidak merubah sesuatu akhirnya Gilang nekat menemui Mbak Nika.

Nika menyambut dengan hangat, lama tak bertemu membuat mbak nika ingin tahu keadaaannya. "Gimana kerjamu di Surabaya?" tanya Nika basa basi.
"Sungguh menyenangkan Mbak disana. Aku Betah dan senang tinggal dan kerja diSurabaya.
" Mbak , bagaimana jika kita buatkan bapa dan mama rumah disurga?"
Nika berpaling." Maksudmu?"
" Rumah Bapa dan mama daripada ngga terawat dan ambruk, lebih baik tanahnya kita wakafkan saja , lalu dibangun mesjid!" kata Gilang Semangat.
Kalimat yang diucapkan Gilang dengan mantap itu ternyata membuat Nika kagum, Subhanallah ,benarkah Gilang Adikku yang berucap begitu?"
Nika jadi malu sendiri , sebelum ini dia selalu merasa lebih baik dari adiknya tanpa ragu Nika setuju dengan usulan Gilang, ini kesempatan berbuat baik buat bapa mama yang telah tiada dengan membuat rumah disurga.

Pertemuan Selanjutnya digelar kembali di kantornya Om Robby. Gita yang mendengar rencana pembangunan masjid itu datang dengan kesal.Nika mengawali pertemuan dengan , " Gita, seperti yang mungkin sudah kamu dengar, aku dan Gilang berniat mewakafkan tanah rumah bapa dan mama membangun mesjid, aku yakin kamu juga akan setuju.
Hal itu justru membuat Gita kesal dan balik marah." Mbak, tanah itu, rumah itu lebiih bermanfaat buat kita yang masih hidup. Mbak bisa mengembangkan perusahaan. Aku bisa menambah modal untuk outlet baruku.
Om Robby segera menengahi." Kalian bertiga harus sepakat untuk melepas hak atas tanah itu.jangan sampai ada sengketa tanah dikemudian hari. Gita geram dan mengganggap pertemuan ini akan sia sia tidak akan mencapai titik temu seperti sebelumnya terjadi. Akhirnya Gita berlalu meninggalkan ruangan dengan emosi.

Om Robby mendekati Nika dan Gilang lalu berkata, " Kita coba minta bantuan Bude? mungkin beliau bisa yakinkan Gita buat tanda tangain surat menyurat legal pembangunan mesjid.Sebulan berlalu tanpa kepastian. Nika dan Gilang hanya bisa mendengar kabar Bude mengajak Gita umroh melupakan kesedihan atas kepergian bapa dan Mama. Namun saat keduanya pulang Bude membawa kejutan. Bude berhasil membujuk , Gita setuju menandatanganin surat surat itu melepaskan haknya atas lahan dan menyetujui mewakafkan tanah untuk pembangunan sebuah mesjid.

Nika dan Gilang kembali antusias dengan proyek ini, Nika meminta tolong temen - temen arsiteknya untuk mendesain masjid dengan konsep hablu minalallah, hablu minanas . Mesjid dibangun dua lantai.Gita tak pernah menengok proyek pembangunan mesjid. Tepat tiga tahun berpulangnya bapa dan mama, masjid itu telah tegak berdiri dengan indahnya.Sejak matahari pagi masih malu tersenyum, masjid mulai rame dengan kedatangan orang yang berkumpul.Suara ayat ayat suci dilantunkan dengan indah menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya. janur kuning yang melengkung disudut pagar pintu masuk menandai hari ini adalah hari bahagia.Hari ini Mbak Nika akan menikah. Dia dipersunting oleh Andi , Seorang Penerbang salah satu maskapai ternama. Keluarga pengantin wanita sudah siap diruang serba guna masjid. Gilang menyapa saudara saudara dengan hangat berusaha menjadi tuan rumah yang baik.Suasana hangat kekeluargaan itu dikejutkan oleh Gita yang kembali hadir dengan berurai air mata masuk keruang serbaguna dan langsung memeluk Mbak Nika."Maafkan Gita , Mbak. Maafkan Mbak," cuma itu yang sanggup terucap sambil sedu. Gilang memandang kejadian heboh itu dengan heran.Setelah menunggu tenang barulah Gita berucap " Sebetulnya Gita sering kesini.Luar biasa. Ini mesjid yang indah, tapi aku terlalu gensi untuk bertemu kalian."Sampai dengan semalam, aku bermimpi bapa dan Mama datang dalam mimpiku, mereka tersenyum, memelukku dan berbisik, terimakasih telah membuatkan kami rumah disurga" dan tangis perempuan itu kembali pecah,air matanya kembali berlinang.Nika mengusap matanya yang basah, Gilang sudah lebih dulu menangis sambil memeluk erat kakak perempuannya.Ingatan mereka bertiga kembali melayang pada bapa dan mamanya yang telah mewariskan hal besar yang mereka butuhkan.Mereka memerpercayai Nika memimpin perusahaan, merestui Gita jadi model dan menyembuhkan Gilang dari narkoba,semua berarti banyak buat masing masing, Kini saatnya membalas semua kebaikan bapa dan mama dengan membangun sebuah rumah disurga.
NEXT - Rumah ....

Senin, 01 Juli 2013

2 Cita cita yang hampir terwujud ...

Ketika kecil, saat usiaku belum genap 6 tahun om ma tante bertanya padaku, "Wan , kalau sudah besar kamu mau jadi apa?".Saat itu belum ngerti apa cita cita jadi sebagai jawaban atas pertanyaan itu aku hanya tersenyum dan melirik ke mama .

Ketika usiaku genap 6 tahun , mama mengajak ku sebuah pernikahan , pernikahan sahabatnya mama di kota  jakarta dan aku merasa senang melihat gedung gedung menjulang tinggi ,dan saat itu pun aku berkata ," Ma , kalo udah gede aku mau jadi orang yang suka bikin gedung gedung tinggi itu." itulah pertama kalinya aku mengenal cita cita walau tak tahu itu apa sebutnya yang penting bikin gedung gedung tinggi ...:P , Yang benar saja nak , kau tak mungkin menjadi arsitek kamu kan ndak suka gambar." Sejak saat itu, kutanamkan dalam hati bahwa aku tak layak bercita cita menjadi Arsitek ."

Tak terasa aku sudah masuk sekolah dasar . Aku senang sekolah , hingga pada suatu hari aku bolos sekolah diajak eyang uti ke bandara Husein Sastranegara untuk menjemput bude dari jogja , itulah pertama kalinya aku melihat seorang pilot dan kagum kepadanya jadi ketika Ibu Ika guru bahasa Indonesia kasih tugas mengarang dengan tema  " Gantungkanlah cita cita mu setinggi langit ." aku dengan bangga menulis aku ingin menjadi Pilot. Guruku berkata, kau tak bisa jadi pilot jika rankingmu jelek. Ya aku memang bukan anak pintar dikelas , lagi lagi aku membuang cita cita untuk menjadi pilot.

Usiaku makin bertambah dan tak terasa sudah duduk disekolah menengah pertama ,aku senang bermain basket, maka ketika Wali Kelasku  bertanya ." Apa yang ingin kau raih dimasa depan ?" aku menjawab " ingin menjadi pemain Basket Nasional." Tiba tiba seisi kelas bersorak .." Huuu... badan pendek gitu mau jadi pemain basket , mana bisa ..?" Tanpa pikir panjang lagi , saat itu aku melupakan cita citaku untuk menjadi seorang atlet basket.

Masa sekolah menengah pertama pun berakhir , berganti seragam abu abu dan ketika guru BP memanggilku keruangannya " Kau hendak meneruskan kemana setelah lulus nanti?" tanya beliau. Aku berpikir sejenak lalu menjawab mauu jadi  arsitek gambarku jelek , mau jadi pilot ndak terlalu pintar ,aku mauu jadi atlet basket kependekan jadi setelah lulus nanti aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja , aku yakin kali ini tak bakal ada yang bisa menghalangiku ."

Dan benar saja pelan tapi pasti  , sekalipun belum resmi menjadi seorang istri plus Ibu Rumah tangga ( tinggal menghitung hari sih...:P ) tapi salah satu cita cita ku hampir terwujud yaitu jadi seorang istri pilot yang pintar gambar dan jago main basket ... ( Insya Allah ..^_^ )



NEXT - Cita cita yang hampir terwujud ...

Minggu, 26 Mei 2013

1 komentar Ini Terminal, Kawan!"

Kulirik jam dipergelangan tangan kiriku, pukul 10.15 pagi. Setelah membayar tiket di loket , ku langkahkan kaki memasuki terminal Leuwi Panjang. Dengah susah payah , ku gendong ransel dipunggungku , mirip pendaki. Berat. Bagaimana tidak berat ? Hampir setengah lusin kaos oblong , tiga celana , dua kemeja, satu jaket , si mungil Axioo dan si hitam manis S 2980 ada dalam ransel itu. Itu pun tidak semuanya ku bawa. Sebuah Tripod kamera dan sekantong cemilan yang dengan berat hati kuhibahkan pada ponakan ponakan manisku dirumah. Sekitar dua setengah jam lagi akan ku habiskan liburan di kota jakarta. Kota besar , Ibu Kota negara Indonesia , kota yang katanya tak pernah tidur dan serba cuek. Kurang lebih enam hari akan kuhabiskan disana mulai dari Gambir , Kota Tua , dunia fantasi hingga sepasang pulau Iidung besar dan Tidung kecil. Sudah kebayang gimana serunya liburanku kali ini.
   
     "Copet!" seorang wanita paruh baya berteriak tak jauh dariku, sambil menunjuk seseorang yang membawa kabur dompetnya.Jangan heran , Namanya juga terminal. Semua tahu, kalau tidak hati hati dalam sekejap nasib akan berubah. Ini terminal , BU! ujar seorang pedagang asongan, mirip macam iklan layanan masyarakat yang mengingatkan supaya berhati - hati di terminal.

Suara pedagang asongan menjajakan permen, rokok, air mineral, ada juga keluhan memohon para pengemis dan suara cempreng para pengamen adalah hal yang tak asing dijumpai diterimal. Ku hapus keringat didahi, beberapa orang menghampiri menarik - narik menawarkan bantuan. Pura - pura mau tawarkan jasa angkut barang tapi niat sebenarnya mencopet, bukan aku berprasangka buruk, tapi sering begitu kejadiannya.

"Bade kamana, teh ? Jakarta ? Bogor ? Bekasi ?" seorang laki - laki tiba -tiba menanyakan kemana tujuanku,logat sundanya begitu khas.

" Henteu.... Parantos kagungan tiket, Aa!" jawabku dengan logat yang diusahakan sehalus dan selembut mungkin dalam bahasa sunda. Buru - buru ku jawab itu , sebab jika kelamaan nanti makin banyak yang mengdekati, hal ini merupakan kesempatan emas bagi pencopet. Sebab, ini terminal,Kawan!"

" Koran , teteh?" seorang bocah sembilan tahunan dengan aksen sunda mengagetkanku. Disodorkannya sebuah harian surat kabar pikiran rakyat padaku. Aku mengambil koranitu, tidak ada niat untuk membeli, tapi biarlah. Lagian, Bus Primajasa yang akan mengantarkanku ke Ibu kota Jakarta baru akan berangkat sekitar setengah jam lagi. Lumayan surat kabar ini bisa jadi temen selama nunggu. kusodorkan uang lima ribu rupiah.

" Teh,Bade nu sanes? Ieu aya majalah sae." sambil menyerahkan uang kembalian dua ribu rupiah, bocah itu menyodorkan sebuah majalah dewasa dengan cover depan seorang wanita mengunakan pakaian renang.
"Memang enggeus baca majalah ieu?" tanyaku
"Parantos, sering malahan, teteh."
Aku menggeleng, begini kehidupan anak jalanan, lingkungan yang tak ramah bagi seorang bocah. Bocah itu lalu pergi sambil memasukan majalah dewasa tadi kebagian tengah koran - korannya.

Aku menoleh pandangan ke belakang , baru ada sembilan penumpang, sepuluh denganku. Pantas Bus masih belum berangkat juga.

                RVP Hattrick, MU Juara Liga Inggris
Itulah judul besar dihalaman pertama harian itu.Katanya, Tga gool Robin Van Persie yang bersarang digawang Aston Villa dini hari tadi merupakan kunci sukses setan merah meraih gelar Premier League ke - 20 United.

                Komisi X DPR Panggil Mendikbud Pekan Ini
Berita Basi. Sudah Hampir seminggu ini beritanya cuma seputar lembar jawaban UN ( LJUN) mulai dari soal, kertas , sama distribusi soal soal UN yang terlambat. Kulipat koran itu, lalu pandangan menuju jendela, berusaha merekam semua kejadian di terimal. Siapa tahu dapat ide untuk membuat cerpen buat lomba Akhir bulan April ini.

" Permisi,mbak." Seorang wanita muda, sudah berdiri disamping kursiku.Kugeser posisi dudukku merapat ke jendela. Lalu dia pun duduk. Usianya sekitar 25 Tahun , beda sedikit denganku. Dandanannya rapi, ada sebuah tas selempang dibahu dan menenteng sebuah kresek supermarket.

"Kemana,Mbak?"tanyanya
"Lebak bulus, Kalau Mbak ?"
"Cawang mabk" jawabnya
" Sudah panggil Ning saja, Mbak!" Aku meminta dipanggil Ning tanpa tambahab mbak, ngga enak aku kan lebih muda."

" Kebandung liburan Mbak ?" tanya ku lagi
"Ngga juga Ning." Jawabnya.
"Sebetulnya saya ke kota Bandung ini cari pacar saya, dia kuliah diBandung.Karena tidak ketemu dan uang mulai menipis, akhirnya saya putuskan pulang saja."

"Enam bulan lalu, saya berkenalan dengan seorang dari bandung lewat sebuah room chat." Tanpa kuminta, dia mulai bercerita."
Dia super baik sama saya, nggak cuma saat chat beberapa kali kopi darat juga begitu dan lama - lama kami pun akrab , saking akrabnya saya mau memberikan semua pintanya, termasuk....." Dia terdiam kulihat setetes air jatuh dipipinya.
" Dia berjanji akan menikahi saya, dia minta waktu buat cerita ke orang tuanya. Tapi sudah satu bulan tak ada kabar berita. akhirnya saya memutuskan untuk ke Bandung karena lama - lama perut saya makin membesar."

Wow ......Wanita ini? Pikirku. Dari penampilan terlihat wanita baik - baik. Tapi ternyata penampilan luar tak menjamin bagaimana kelakukan seseorang?

Tak Tahu apa yang Harus kukatakan. Apakah ikut marah, memang aku ini siapanya ? atau kah harus ikut iba. Lama kami terdian.

"Mbak asli dari Jakarta?" tanyaku. Tak enak juga diam - diaman."

" Saya dilahirkan di Jakarta dan dibbesarkan di Bali. Setelah Selesai Kulia, Papa mengajak saya ikut beliau ke Jakarta untuk bantu bantu bisnis PUBnya."

Aku ber " O " dalam hati , Pantas hasil produk peceraian

" Sekarang, Mbak bakal ngapain? maksud saya, setelah sampai dirumah nanti."

"Sebenarnya saya berniat menggugurkan kandungan ini. Tapi Sabat saya melarang."

"Sahabat mbak benar, Mbak tidak boleh sampai melakukan itu." Bayi itu tidak berdosa Mbak.

" Tapi, saya Malu1" Apa yang harus saya katakan pada orang tua? Bahwa saya telah diperkosa?" Dia kembalii menangis.

apa dulu kamu tidak malu terhadap Allah saat melakukannya? Tanyaku dalam hati.

" Mbak malu adalah bukti bahwa seseorang itu masih beriman."

Hening wanita dihadapanku menunduk. Ku perhatikan penumpang semakin banyak. Sepertinya tidak lama lagi Bus ini berangkat.

" Maaf , Ning bolehkah saya titip belanja yang di kresek di sebelah tasmu ? Nanti saya ambil pas masuk Cawang."

"Jangan Takut isinya cuma makanan kecil , sedikit oleh - oleh buat orang rumah."

Lima menit berlalu dan semua kursi penumpang telah terisi. Sopir naik dan langsung menghidupkan mesin Bus. Tiba - tiba dari arah pintu belakang terdengar suara keras dengan nada memerintah.

" TUNGGU! Harap matikan dulu mesinnya!"

Semua menoleh kebelakang,dan tujuh anggota polisi berseragam lengkap telah berada diatas bus.

" Semua tenang. Kami cuma mau memeriksa barang bawaan bapak - bapak  dan ibu - ibu."
Aku menarik nafas. Ada razia. Mbak disebelah tanpa gugup enta kenapa.

" Tolong , Mbak, tasnya?" ku dengar suara seorang polisi menanyai mba disebelahku.Tiba - tiba aku terpikir sesuatu...Jangan - jangan

" Kau, Dek sini barangnya." seorang polisi sudah mengambil kresek disebelah tas ranselku dan memeriksa isinya. Aku berharap, berdoa, semoga....

" Mari ikut kami!" polisi itu langsung menarik tanganku.
"Tapi pak..."
" Tidak ada tapi - tapian, bergerak!"
" Tas ransel saya gimana ?"
"Bus ini belum akan berangkat, Ayo1"

Wajahku pucat pasi, keringkat dingin , dan semu mata penumpang menatap kearah ku. Seperti dugaanku sebelumnya. apa yang tadi melintas di benakku memang benar. Kresek itu ternyata berisi pil - pil kecil warna - warni dan beberapa daun kering>"

Pikiranku melayang pada Mbak disebelahku. Aku yakin, semua sudah direncanakannya. Polisi sudah mencium asa pengedaran GPS ( Ganja, putaw dan shabu - shabu ) yang memasuki terminal. Meras dirinya akan tertangkap, mbak itu bersandiwara di depanku . Mengaku dari jakarta. Lalu, cerita tentang dirinya yang dihamili pacarnya, semuaannya agar aku simpati dan tak berkeberatan begitu dia titipbawaannya. Sempurna dan aku berhasil dijebak. Aku cuma berdoa, semoga para polisi itu percaya dengan penjelasanku nanti.

Dalam hati aku berkta, Ini Terminal, Kawan!"

NEXT - Ini Terminal, Kawan!"

Kamis, 16 Mei 2013

6 Buat Kamu ...

Buat Kamu ....

Janji jangan tertawa saat kamu membacanya . Mungkin ini tulisan yang begitu aneh bukan gue banget pokoknya.

Bayangan ku tentang kamu begitu superhero. Pria Tampan berperut sispek....^_^ , humoris , pinter dan berpengetahuan mirip Ensiklopedia yang dapat membuatku betah berdiskusi tentang dunia ,bercerita tentang banyak rencana dan keinginan, dengan sedikit bumbu tawa. Ya Cuma kamu yang dapat membuat ku tertawa.

Kamu senang sekali bercerita tentang pekerjaanmu , teman teman baru mu dan aku pun bersedia duduk lama lama untuk mendengarkannya.

Tapi aku pun bukan wanita tanpa cela. Aku belum bisa dandan ala wanita feminim , aku belum bisa pakai high heels. Tapi aku kan berusaha menjadi partner yang baik untukmu dan sesuai dengan impinan mu.

Menjadi partner yang siap mendengar keluh kesah mu pada saat pulang

Menjadi Partner yang memberikan kenyamanan

Dan Kamu semoga juga dapat menjadi teman hidup yang tak bosan memberikan bahu pada saat aku membutuhkannya. Dan menjadi teman diskusi dalam setiap keputusan.

Dimanapun kamu berada sekarang, aku akan menunggu, hingga waktunya tiba untuk aku menitipkan hati ku pada mu.

# coret coret ndak jelas efek mati lampu ....^_^
NEXT - Buat Kamu ...

Senin, 08 April 2013

3 Mika ...

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita yang sama sekali tidak kita mengerti. Pagi ini , lagi lagi aku melewati jalan ini, seperti hari hari yang lalu. Tergesa - gesa menuju kantor tersayang, tanpa sempat sarapan, tanpa sempat lirik kanan kiri, tanpa sempat memikirkan hal lain, hanya soal waktu. Aku tahu akan terlambat lagi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Seorang penyapu jalan muncul disana. " Wanita itu lagi " keluhku, seolah olah wajahnya sudah begitu akrab dimataku. Setiap kali aku lewat sini, selalu kujumpai ia. Dan entah kenapa, ketika memandangnya, semua resahku mengenai keterlambatanku pupus sudah,berganti dengan pikirian mengenai wanita itu. Siapa ia ? dimana rumahnya ? sudah bersuami kah ? berapa anaknya? cukup kah gajinya?
Aku melengos ketika pandangan mata kami bersapa. Kupercepat langkahku. Aku tak mau tahu mengenai siapapun saat ini. Aku hanya ingin cepat sampai kantor kesayanganku.
" Terlambat lagi, " tegur mbak Ririn my bos rangkap kaka tersayangku juga tepat ketika hatiku hendak melonjak gembira karena mengira tak satupun yang melihat terlambat. Langkah ku terhenti tepat diambang ruanganku." Maaf, Mbak," jawabku dengan raut menyesal. Mbak Ririn mendekat. " Ini sudah berkali - kali, Mika!"
  " Ya, aku tahu," desahku.
 " Mungkin kita perlu bicara mengenai ini, Mika."
 " Ya", sahutku lemah, aku segera masuk ke ruanganku sesaat setelah mbak Ririn meninggalkanku. Bukan kemauanku datang terlambat. Aku tak sengaja, Kuhempaskan diriku keatas kursi. Disebelah ruangan terdengar telepon menjerit, sesaat kemudian terdengar suara Dewi. Pagi pagi sudah begini ribet, keluhku.Aku hanya menginginkan kenyamanan, hanya ingin sedikit celah ditengah kesibukanku. Mungkin aku butuh refreshing. Apa aku ambil cuti saja barang seminggu? Tapi tak mungkin, bantahku kemudian, lantas siapa yang akan menghandel kerjaanku ? Aku tak rela bila orang lain yang menanganinya, meskipun itu mbak ririn sendiri. Telepon diatas mejaku menjerit dengan malas kuangkat.
" Ya, halo." ujarku.
"Mbak Mika, ada telepon dari Pak Raul," ujar Dewi.
 Pak Raul adalah salah satu pengusahan terkenal di bandung. Dua hari yang lalu aku buat janji ketemu dengan beliau." Ya, boleh deh." jawabku
" Assalamualaikum, Pak Raul,"  sapaku kemudian ketika telepon tersambung dengan Pak Raul.
"Alaikumsalaam, Mbak Mika, gimana kabarnya?"  "Alhamdulillah, baik."
" Begini, saya mau minta maaf dulu nih, Mbak Mika.
" lho, kenapa, Pak? " tanyaku heran.
" Mengenai janji kita tempo hari, kebetulan rabu besok saya akan ke Semarang untuk seminar, undangannya baru datang kemarin sore, jadi maaf sekali, saya nggak bisa nepati janji.
"Aku terdiam seketika. Bukan hal yang mudah janji ketemuan sama beliau.Aku berpikir sejenak, sekarang hari selasa, lalu melirik jam, sekarang setengah sembilan lewat sedikit.
" Bapak bisa ketemua hari ini?"
" Maaf sekali, hari ini penuh sampai sore. Nanti malam saya juga sudah ada janji dengan Pak Yadi.
 " saya jamin ketemunya hanya setengah jam, " ujarku.
" setengah jam mungkin mungkin waktu bapak tempuh untuk mencapai rumah Pak Yadi."
Hening sejenak. Masih hening, hampir saja hatiku mencelos, tapi kemudian terdengar suara Pak Raul.
" Anda bisa datang ke kantor nanti jam dua siang, tunggu saya di kantor.Hatiku melonjak.
" Ya, baik, Pak ."
" Tidak, kurang , tidak lebih , hanya setengah jam."
" Beres," aku tersenyum.
Sebentar kemudian hubungan terputus. Masih ada waktu enam jam lagi untuk bertemu Pak Raul, kuhidupkan komputer, kucari file gambar Ruangan Pak Raul.
Aku seorang Desigen interior,salah  satu dari desigen  di tempatku bekerja. Aku diberi tugas menggarap proyek kantornya Pak Raul yang baru. Beruntunglah aku dibantu Dewi salah satu staf dikantor, juga Revi dan wawan yang selalu siap kapanpun. Lagi lagi telepon berdering, ku jangkau telepon,
 "Ya halo, " ujarku kemudian.
" Mbak, ada Revi. "
" Ya, " jawabku, sebentar kemudian hubunganku dengan Revi tersambung.
 " Apa, Vi? " tanyaku. Revi menyebutkan tempatnya berada kini, lalu mengabarkan keadaannya .
" Tunggu disana, Vi, kakak segera kesana ! " ujarku.
" Ya, Kak."
kututup telepon, lalu mematikan komputer. Aku bergegas pergi.Ada demo pekerja di proyek Pak David , sambil menuruni tangga aku memikirkan jalan terpendek untuk mencapai proyek Pak David, satu yang terpikirkan olehku adalah jalan  yang sering kulewati tiap hendak ke kantor. Aku bergegas, pikiranku dipenuhi banyak hal. Ini salah satu proyek spesial pesanan khusus mba Ririn harus sukses kalo gagal bisa gaswat. Oh ya dimana wawan ? Soulmate andalanku itu ? Cepat kuambil ponselku  lalu menghubungi wawan.
"Wan, kamu dimana?" tanyaku ketika hubungan tersambung.
" udah di proyek Pak David Mbak." jawab Wawan.
" Bagus, aku segera kesana."  kumatikan ponselku, langkahku makin cepat. Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan kenapa bisa demo tuh para tukang.
" Pagi, Mbak," seseorang menyapaku.
" Pagi," jawabku acuh, kupandang sekilas orang yang menyapaku. Wanita penyapu jalan itu! reflek aku berhenti, lalu berbalik.
" Lagi tergesa - gesa ya, Mba? " sapa wanita ramah. Aku memaksa sebuah senyuman lalu berbalik kembali ketujuanku semula.Namun pikiranku tidak ke proyek Pak David lagi, selalu begitu wanita itu senantiasa mengusikku dari waktu ke waktu.Siapa dia ? dimana dia tinggal ? sudah berkeluarga ? cukup kah penghasilannya ?.
" Tak semua hal bisa kita pahami, sayang." ujar ibu suatu ketika, dulu sekali, sebelum beliau wafat.
 " Tapi Aku hanya ingin tahu, Ibu. Mengapa begitu banyak manusia yang tetep bertahan pada ketiadannya?."
" Bukannya mereka tidak mau maju, tapi mereka merasa jalan untuk kesana tidak ada. sudah tertutup selamanya."
" lalu bagaimana mereka hidup. Bu?" Mereka miskin tidak punya apa apa.
" segalanya sudah ada yang mengantur, sayang.!"
Tapi orang orang seperti itu tak punya semangat untuk maju, mereka tetep bertahan pada kemiskinannya mereka sudah menyerah duluan."
" Tak semua hal bisa dipahami secara hitam dan putih , kau masih perlu banyak belajar."
Tapi sampai saat ini, setelah beberapa tahun Ibu wafat tetep saja tak satupun yang bisa ku mengerti. Tak ada.
Ketika memulai kariku dahulu aku tahu bahwa aku akan sukses, aku akan melakukan segala cara untuk mencapai jenjang karir yang lebih tinggi. Aku mencintai peningkatan hidup, aku suka kemapanan begitulah seharusnya manusia. kemapanan berarti kemakmuran berarti kemajuan aku mencintai semangatku untuk itu.
 Tapi ada yang berbeda setiap kali aku bertemu dengan Wanita penyapu jalan itu. apa istimewanya ? apa hebatnya ? mengapa ia berhasil mengusikku..?. Pikiran itu terus terbawa hingga malam hari. ketemuan dengan Pak Raul siang tadi pun ngga menghasilkan apa apa. Hari ini terasa begitu hampa. Apa yang terjadi? keluhku, kuminum susu hangat lalu melonjorkan kaki ke sofa, hari ini terasa begitu melelahkan . Tiba tiba aku merindukan Ibu 'Ah, Ibu.'
Pagi ini lagi lagi terlambat.
" mengenai keterlambatanmu.........." Mbak ririn mengantung kalimatnya, aku memandangnya. Apa yang tengah dipikirkan mbak ririn?
 " Mungkin kau terlalu capai, Mika sehingga kau sadari kau perlu banyak tidur pada malam hari.  Mungkin hal inilah yang membuatmu kesiangan.
"Aku mengeluh, aku tidak capai, aku tidak lelah hanya saja mungkin aku perlu sedikit istirahat.
" Kinerjamu akhir akhir ini mencemaskan kami semua , Mika.
" Aku menunduk " Bagaimana proyek Pak David ? Lancar kan?
 " Tiba tiba aku tertekan. Akan kuusahakan selesai lusa, " janjiku, tak yakin.
" tapi Mbak tidak yakin, Mika." kembali aku menarik nafas, ketidak yakinan mbak ririn mungkin sama besar dengan ketidakyakinanku sendiri.
" Ada apa, Mi? kalau kau punya masalah, kau bisa bilang kepada Mbak, walau mbak tidak bisa memberi solusi yang baik, setidaknya hatimu suda h merasa lapang dengan menceritakannya.Aku tersenyum pahit, tak satupun kukira yang bisa mengerti apa yang tengah kurasakan.Pembicaraan kami berakhir sejam tanpa membawa hasil apa apa bagi diriku sendiri, aku merindukan sesuatu, entah apa, tiba tiba ada sesuatu yang kosong disini. Di hati ini.
" Kak!" terdengar suara Revi.
"Ya," sahutku segera, kembali kekursiku. Revi masuk,
 " Bagaimana? " tanyaku.
" Nanti jam sepuluh, Revi ada janji sama mandor proyek Pak David." Ujarnya.
" Bagus, " desahku, seolah tanpa minat, ku jangkau pena kutulis sesuatu di secarik kertas.
" Sekarang Revi pergi ke alamat ini." aku menyondorkan kertas itu. Revi mengambil, mengamatinya sejenak.
" Tapi Bapak ini.." Revi menatapku. Aku membalas tatapannya.
" Kenapa? Kamu takut?! " tantangku. Revi menggelengkan kepalanya, perlahan.
" Baik ,sekarang pergilah!"
Revi memandangku.
" Ada apa lagi?" tanyaku.
" Kakak berubah," ujar Revi.Aku terkejut, kualihkan pandanganku ke komputer."Pergilah sekarang."
" Biasanya kakak yang selalu bersemangat!"
" Revi!" aku memandang revi tajam ,
" kalau kamu tidak mau ya , tidak apa - apa.
"Revi terdiam.
Semacam rasa penyesalan timbul di dadaku.
 " Kakak sungguh - sungguh telah berubah, " ujar revi kemudian sebelum pergi dari ruanganku. Aku menghela nafas, Tuhan, apakah yang terjadi sebenarnya? desahku. lagi lagi aku merindukan Ibu " Ah, Ibu.
" Aku bangkit lalu kelaur menyusuri jalan yang biasa aku kulalui. Tiba tiba aku teringat wanita prnyapu jalan itu, dimana dia? aku celingukan.
" Assalamualaikum, Nak."  wanita itu muncul dari belakang menyapaku, cepat ku menoleh lalu memalsa sebuah senyum
" Alaikumsalam" sahutku kemudian.
" Tumben ngga tergesa - gesa." ujarnya ramah. Aku terkejut jadi wanita ini memperhatikanku setiap hari? kupandangi wanita sekitar 50-an ini, namun ada sesuatu dimatanya bening dan mengkilau, wajahnya penuh dengan senyum ketulusan.
" Anak ini pegawai kantoran , ya?" Aku mengangguk.
 " Wah, hebat anak gadis jadi pegawai kantoran. Aku tertawa kecil!
" memang anak gadis tidak boleh jadi pegawai kantoran?"
 Wanita itu tertawa, menyenangkan sekali melihat tawa wanita ini, aku ikut tertawa melihatnya.
" Anak zaman sekarang memang pintar pintar, " ujar wanita itu kemudian. Tiba tiba aku teringat pertanyaan pertanyaan tentang wanita ini.
 " Ibu sudah menikah?"
 " Sudah, memangnya Ibu kelihatan seperti gadis? " wanita itu kembali tertawa.
 "  Anaknya sudah berapa?"
 " tiga. "
 Tiga, banyak juga pikirku dengan penghasil sebagai penyapu jalan apa bisa menghidupi mereka semua?
" Ibu tinggal dimana ?" tanyaku. Ibu itu menyebutkan alamatnya. " Jauh juga," ujarku
 " Apa penghasilan Ibu cukup untuk menghidupi anak ? tanyaku menyelidik. Ibu itu tertawa tapi bagian mana pertanyaan aku yang bikin lucu ,
 " susah kalu bicara sama anak pintar maunya menyelidiki terus." Aku tertawa kecil.
" Kalau Ibu tidak mau jawab juga tidak apa apa.
" oh boleh gaji Ibu dua ratus ribu sebulan."
Dua ratus ribu? aku terkejut kayanya mirip sama tagihan telepon ku Bulan ini.
" Cukup?"
 " Ya "
" Betul cukup?"
 " menghidupi lima orang ?"
" Empat, suami Ibu sudah meninggal bertahun tahun lalu."
" Oh maaf."
 " Tidak apa apa." Ibu itu menghela nafas.
 " Begitulah hidup ini, ada yang datang ada yang pergi , Allah takkan mengambil sesuatu kecuali dengan gantinya.
"Aku memandang ibu itu, lalu teringat ibuku sendiri.
 " Tapi Allah tidak menganti ibu saya dengan yang lain." Ujarku pelan
" Allah akan menggantinya dengan pahala jika kamu bersabar." ujar wanita itu. Ya, benar klise sekali. aku memejamkan mata ada sesak disini, di Dada ini semenjak 10 Tahun laluu.
" Pasti tak ada yang bisa Ibu tabungkan dengan gaji segitu."
 Ibu itu tertawa " Ada "
" Ada?"  mataku membesar, kubayangkan semuanya Mustahi!"
Ibu itu tertawa lagi
" Begitulah keadilan Allah, Ia memberikan otak yang cerdas pada anak anak saya, sehingga seluruh anak anak saya mendapat beasiswa, tak sepeser pun yang saya keluarkan untuk mereka kecuali dulu ditahun - tahun pertama sekolah. Aku tersenyum tak percaya, Benarkah?
 " Yang paling Besar sekarang dimana?"
" Dumai "
  " Caltex "  Rekanan Caltex baru saja selesai sekolah di Amerika atas biaya perusahaan ujar Ibu itu.
"Aku ternganga. Tuhan ini mustahil tak bisa dipercaya .
 Ibu itu tersenyum lagi
 " Percayalah kepada Allah atas segala sesuatu. Kamu tahu sebuah doa yang sangat indah, Nak?" tanya Ibu itu.
" Apa? " tanyaku.
" Bismillah tawwakaltu alallah, la haula wala Quwata ila billah. Kamu berusaha namun menyerahkan segala usahamu pada Allah, sebab tidak ada daya upaya selain daya upaya dari Allah semata."
Ibu.... aku memejamkan mataku, dadaku semakin sesak. " Terima kasih, saya pergi dulu " Ujarku kemudian, lalu menginggalkan wanita tua itu, air mata mataku menetes namun kuhapus segera dengan kasar, aku menuju kekantor lalu ruanganku. Diatas meja ada foto ibuku , air mataku tumpah lagi, namun kali ini tak kutahan. Itulah kata kata terindah yang pernah kudengar selama hidupku. kata kata dari wanita tua itu. Begitu banyak petuah ibu dahulu sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selama lamanya, kenangan yang indah antara kami berdua ketika ia membacakan dongeng, menemain ibu melukis, melukis langit, burung terbang.
" suatu saat kau pun akan terbang meninggalkan ibu."
" tapi ibu yang duluan pergi, isak ku. tak ada pengganti , Ia takkan terganti.
 ' Tiada daya upaya selain daya upaya dari Allah saja.' Wanita tua itu benar. Itulah satu ruang kosong didalam hatiku yang aku lupa, aku merasa seluruh kekuatan aku yang punya , jalan hidupku aku yang setir, aku sudah menjadi gadis yang begitu ambisius akibat tempaan hidup,
 Tapi sesuatu dimata penyapu jalan itu, begitu tulusnya, Sekuat apapaun aku berusaha untuk menyembunyikan kepahitanku akibat ditinggalkan oleh bunda tercinta tetap saja ia tak bisa disembuhkan. meninggalkan luka yang panjang dan deretan penyesalan. Tidakkah tiba saatnya bagiku kini untuk mengakui bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa atas segalanya? Inilah takdir yang coba untuk kuingkari selama bertahun tahun ini, aku telah lama kehilangan bundaku. "Maafkan aku, Allah, maafkan," isakku kemudian.
NEXT - Mika ...

Minggu, 24 Maret 2013

2 Keluhan Gebo Si Gerbong ....

Kau harus tahu aku adalah uh ... kau panggil saja aku Gebo. Tak salah lagi ... aku adalah gerbong yang berada di peron utama stasiun kereta api Kircon. Ya ... akulah yang menyambut semua penumpang stasiun ini. Namun, jangan sekali kali kau samakan aku dengan semua gerbong yang ada didalam stastiun didalam sana. Antara kau dan aku saja, mereka sungguh tak pantas menjadi gerbong stasiun.
Tidak seperti mereka, aku bukanlah gerbong biasa. Kuceritakan saja padamu jasa besarku.Aku adalah gerbong pertama yang berlari diatas rel membawa penumpang penumpang besar ... jangan salah ... bukan badan mereka yang besar. Maksudku para penumpangku adalah orang orang besar negeri ini. Mulai Lurah sampai Presiden." Sudahlah, Gerbong Tua. Berhentilah mengeluh !!!!"
Uh.... kau dengar kata kata itu ? Dia adalah burung parkit yang bersarang atas gerbongku. Entah kenapa dia suka sekali bernyanyi ! Menyebalkan !
Burung parkit yang tak sopan. Tak hanya memotong ceritaku, dia berani beraninya memanggilku Gerbong tua !! Huh harus... mereka seharusnya memanggilku Tuan Gebo !!
Beginilah masa tuaku . Begitu malang, sekadar menjadi hiasan Peron stasiun saja. Padahal semuanya tertulis dipapan keterangan yang terpasang di badanku.
Uh...uh...maafkan ... aku merasakan titik air ditubuh ku. Izinkan sejenak mengamati langit. Hah... hujan turun. Setidaknya suara tetes hujan lebih menyenangkan dibandingkan celoteh si parkit. Tak ada lagi yang akan memotong ceritaku , bukan ?
Bicara tentang si parkit ... kemana dia ? Oh... sudah kembali ke sarang rupanya, Namun sarang dia tak cukup rimbun, tak cukup melindungi dari hujan deras.Aku benar, kan ? sebentar saja unggas menyebalkan itu telah basah kuyup. kurasa mereka kedinginan.
" Ke..ke...napa kau ...me...manggil aku, Ger... Bong... Tua?!
" Kumaafkan walau aku masih saja dipanggil gerbong tua. Aku tak dapat membiarkan kamu kedinginan . Kamu boleh berlindung didalam gerbongku . Gerbongku cukup hangat untuk Kamu.
" Te.. rima kasih Ger...bong Tua " , kata si parkit.
Mendengar ketulusan dia senang juga hatiku. Panggilan Gerbong Tua tak lagi membuatku terganggu. Nyanyian dia terdengar lebih merdu sekarang.
" hanya ini yang dapat ku lakukan untuk membalas kebaikanmu. Menyanyi menghibur hatimu. " kata si parkit.
" Ya... ceritakan pada ku kehebatanmu dimasa lalu , biarkan aku bernyanyi untukmu setiap hari." tambah si parkit.
Kau dengar itu ? ternyata sangat menyenangkan. Yah ... tak ada salahnya membiarkan dia bernyanyi .Kalau kupikir , belum pernah aku senang ini .
" Apa katamu , Gerbong Tua ? aku boleh bersarang digerbongmu ?" parkit menatapku tak percaya.
Kupikir itu yang kubutuhkan. Teman penghibur hati. Tak butuh lama si parkit telah menjadi sahabat baikku. Kemudian istri dan anak anak si parkit. Dan mereka semua selalu bernyanyi untuk ku.
Setelah itu aku baru sadar , nyanyian si parkit menarik perhatian banyak calon penumpang. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya ? calon penumpang mulai memerhatikan papan keterangan ditubuhku dan mulai mulai berfoto foto ria.
Hu...hu...hu... setiap harinya ...kukatakan saja padamu. Semakin banyak orang yang mengetahui jasa besarku. Semua itu berkat keluarga burung sahabatku. Aku hampir lupa, mereka tak lagi memanggilku Gerbong tua. Mereka kini memanggilku Gebo  si Sahabat Burung. Kurasa itu nama yang sangat keren.
# coret coret efek sendirian pagi pagi ditoples ... ^_^ #
NEXT - Keluhan Gebo Si Gerbong ....

Selasa, 12 Maret 2013

1 komentar tidak akan bolos (lagi)..

Bima , Arif , dan Hanif adalah siswa kelas lima SD babakan sari. Mereka punya hobi membolos! beberapa kali , mereka dipanggil wali kelas, tapi tetap saja masih sering membolos!
"Hahaha... ngapapin sekolah, bikin kepala pusing!" kata Arif
"Iya. Kalau aku , malah ngga suka banyak PR malesssss!" kata Hanif.
"Huuuu.... kamu emang tukang males!" teriak Bima.
Pagi itu, waktu menunjukan pukul 09.30. Bima, Arif, dan Hanif kembali bolos.Kali ini, mereka pergi menuju BSM. Tiba di BSM, mereka langsung menuju arena bermain Games zone. Disana, terdapat macam macam permainan.Arif langsung membeli koin dan memainkan mobil game, diikuti Bima dan Hanif . mereka bertiga asyik dengan game masing masing.
Tiba- tiba, mereka dikejutan dengan bapa bapa berseragam." Maaf, Anak - anak... bisa ikut bapa sebentar!"
Bima, Arif, dan Hanif ketakutan. Mereka segera menghentikan permainan yang sedang berlangsung. Mereka di giring ke sebuah pos jaga.
" Nama kamu siapa?" tanya bapa tadi
" Eu..euuu....saya Bima pak!" ini Arif dan Hanif," jawab Bima gemetar, Mereka tidak membayangkan akan dibawa ke tempat itu. Kemudian , Bapa tadi itu menanyakan dan mencatat sekolah , alamat rumah, dan nama orang tua masing masing." Perlu kalian perhatikan , Bapa bertugas merazia anak anak yang bolos pas jam pelajaran . "
Mendengar kata " Razia"  , Bima , Arif , dan Hanif semakin ketakutkan. Mereka takut dijebloskan ke penjara? takutttttttt !
" Kenapa kalian bolos sekolah ?" tanya bapa itu.
Bima, Arif dan Hanif tidak memjawab mereka cuma menangis karena takut . Bapa petugas itu tersenyum lalu menghampiri ketiganya itu.
" Ya, sudah ... Bapa memperbolehkan kalian pulang dengan satu syarat !" kata nya.
" Syaratnya ...syaratnya...a...ap...apa, apa bapa?" tanya Bima terisak.
" Syaratnya , kalian jangan membolos lagi! kalau bapa masih menemukan kalian bolos , bapa tak segan segan membawa kalian ke kantor polisi!"
" Iy...iya, bapa! kami ti ...tidak akan membolos lagi!" kata Arif.
Akhirnya ke tiganya diperbolehkan pulang. Sepanjang jalan, mereka tidak bicara sepatah kata pun. Mereka masih ketakutan.
Tiba tiba...." Mulai hari ini , aku tidak akan bolos lagi!"
" Iya, aku juga !" susul Arif.
Tetapi , mereka berdua heran kena hanif diam saja.
"Hei, Kamu masih mau bolos,ya?" tanya Bima.Hanif diam saja." Nif, Kamu belum kapok, ya!"
"Hmmmmm... aku ... tidak akan bolos lagi ,tapi masalahku sekarang bukan itu." katanya
" Lalu, apa Nif?" Tanya Bima dan Arif bersamaan.Hanif menunjuk celananya yang basah kuyup, Spotan saja keduanya tertawa. Ternyata , Hanif pipis dicelana saking takutnya saat ditanya bapa tadi.sejak hari itu, bertiga tidak pernah bolos lagi.

#coret coret curhatan siganteng.com.... ^_^
NEXT - tidak akan bolos (lagi)..

Followers

YM

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform