Minggu, 16 Desember 2012

1 Flay Over , 2 Curhat .... ( 1 )

Kircon , Kircon, mangga , mangga, Aa, Kircon, Teteh. Sabelah Kiri tiasa opat ya, Ayo Teteh , masih muat kok. Bu Kircon ...Kircon!" Anto terus berteriak sambil sibuk mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya. Tubuhnya sudah kelelahan, kepalanya berputar - putar dan kerongkongannya haus sekali.
" Om jack udah, Om Jack, ada polisi ...."  Ia menagih imbalan kepada supir yang kelihatan tenang." Enam orang lagi , To ikut aja." Om Jack belum puas . Terpaksa Anto duduk dipinggir pintu terus berteriak  seiring laju angkot Cibiru - Cicadas yang perlahan. Ia nyaris tidak kuat lagi menahan tubuhnya yang gemeteran . Di Halte Jalan Terusan Jakarta Ia bergegas turun dan memberi tempat kepada calon penumpang yang berebutan naik. Om Jack melemparkan empat koin logam lima ratus rupiah pada Anto.
" Nuhun, Om Jack ." Teriak Anto gembira.
" Hei, Anto , dapat berapa duit lu?" Joko, Asep , Agus dan Dedi menyambutnya. Anto merunduk memegangi kepalanya.
" Ah , Sial lemes Banget nih badan gue hari ini." Keluhnya. Temen - temennya melihat wajah Anto . Mereka tertawa.
" Sukurin lu. Makanya Jangan sok berlagu mau berhenti hirup tuh si Aibon. Nggak bakalan bisa , to. Itu sumber energi kita cari duit , lebih penting dari nasi. Agus jitak kepala Anto.
" Nih , ku bagi, dah . Kasihan Gua ngeliat lu kaya zombie sempoyongan, To." Asep sodorin Si Aibon.
" Akh, Jangan Sep," Anto ingin mengembalikannya.
" Alaaaahhh belagu lu, To. Udah ndak Ce es an lagi nih sama kita kita? Memang siapa yang suka nolong kalau lu ada ada apa apa . To ?" tinju Joko.
" Udah istarahat sono, lu!" dorong Asep. Anto yang sempoyongan lantas jatuh. Temen - temennyanya tertawa melihat Anto karena mereka anggap itu kejadian lucu. Kemudian mereka meninggalkannya di samping Halte itu.
Anto berjalan ke halte. Ia menghampiri  sebuah kios rokok yang sudah lama tidak di buka oleh pemiliknya. Disitu ia duduk menyandarkan badannya yang ndak bertenaga lagi. Matahari mulai berganti shift , cahayanya digantikan oleh sinar bulan dan lampu lampu jalanan. Angin dan asap knalpot kompakan sebar debu debu berterbangan. Dari arah mesjid seberang jalan sayup sayup mengumandang suara azan Magrib. Di tatapnya sekelompok gadis berjilbab yang menunda menyetop angkot. Dimatanya gadis gadis itu seperti putri putri dari negeri arab yang mustahil di jangkau. Anto mendesah , menelan ludah dan meringis kesakitan. Diambilnya Si Aibon dari Asep . Anto menatapnya , tapi ia menggeleng lemah ,di biarkannya si Aibon kering oleh angin. Anto menggelosor ditanah. Matanya terpejam rapat.

Wanita berambut keriting itu terus menganyunkan tangan kanannya kepada paha gadis kecil kurus kering dan rambut semarawut. Tangisan dan permohonan ampun dari mulutnya hanya menambah kebengisannya. Dijewernya kuping si gadis kecil itu.
" Aduh, Mak, Aduh , ampun, mak.Ampun, Mak ,ampun.... mak ,sakit, aduuuuuh." Si gadis kecil cuma bisa memegangi tangan emaknya tanpa daya perlawanan.
" Biar mati sekalian, lu! Lu kira gua enak ngelahirin lu, bapak lu sih enak, ngga kena beban apa apa . Dia tinggal kabur begitu perut gua melendung. Dia main lagi sama yang masih kempes. Gua nih , sengsara, mati - matian ngeluarin lu dari perut , ngasih makan, masak lu ngga terima kasih sama gue. Balas dong jasa gue, jangan maunnya manja - manjaan terus..."
" Mak, aduuuuhhhhh, bener , mak orang orang lagi pelit jadi ndak pada kasih duit ...."
" Masak di semua mobil pada pelit , ngga kasih seperak acan, lu pasti yang malas, nyanyi asal - asalan."  Wanita itu tampak kecepakan juga menghajar anaknya. Sejenak iya lepaskan pelintiran dikuping anak. Gadis kecil yang masih menangis karena sakit dan ketakutan pada emaknya sendiri buru buru ambil kesempatan. Lari sekencang kencangnya diantara deretan mobil mobil dijalan raya.Wanita berambut keriting itu kaget dan serta merta berteriak memanggil anaknya dan berusaha mengejarnya. Tapi cepat sekali bayangan si anak menghilang dari mata kepalanya. Sebuah sepeda motor nyaris menabraknya.
 " Sialan!" makinya kepada pengendara motor yang melaju tak penduli.Ia meyeret kaki ke kolong jembatan layang sambil terus bersumpah  - serapah.
" Kalau ketemu langsung gua bunuh tuh anak.!" gregetan seolah olah sedang mecekik leher seseorang.
"Ah, lu pikirian amat." seorang tukang rokok mendekatinya dan duduk didekatnya. Wanita itu menggeser dan pasang tampang jual mahal.
" Hidup ini harus lu bawa seneng. Lu kan masih muda, jangan stress mikiriin anak kabur. Ntar juga dia balik lagi.
" Ngomong aja lu panjang lebar. Lu laki laki tahu apa sih soal anak. Lu aja bisanya cuma bikin anak!"
" La, gua sih bukan munafik, ya Jelek - jelek gini gua belum pernah main perempuan. Gua sih nggak tegaan orangnya..."
" Nah lu kesini mau ngapain ?"
" Ya....., apa salahnya..."
"Apa salahnya apa ?"

Malam mulai beranjak sepi. Debu dan asap knalpot akhirnya mengalah pada senyap dan dingin. Gadis kecil itu masih menggiggil ketakutan mengingat kebengisan emaknya yang kali ini berlebihan dari biasanya. Pantatnya terasa ngilu, Kupingnya pengang dan pelintiran itu masih dirasakan walau ia telah berhasil melepaskan diri. Entah apa yang dilakukan emak jika ketemu dengan ku disini. Barang kali kupingnya diplintir sampe copot atau tangannya dibuat patah sekalian supaya terlihat tak berdaya dan di maafaatkan untuk mengemis dilampu merah.
Sambil sesegukan gadis itu mencari tempat yang kira kira aman buat bersembuyi malam ini.Didekatinya sebuah kios rokok yang tak menarik perhatian banyak orang , ia menjatuhkan diri disitu dan melepas tangisnya sepuas hati.di sisi lain ia sedikit bahagia bisa terlepas dari emak yang selalu memaksanya memberi setoran uang ngamen. Namun , dijalanan yang penghuninya bukan hanya dia, bukankah selalu ada orang orang dewasa yang sama kejam dengan emaknya.
Gadis itu jadi histeris memikirkan kemungkinan pahit itu. Tatkala disadar disamping dirinya ada sesosok tubuh tergeletak , rasa ketakutannya spotan bikin dia menjerit.

 Anto mengicek matanya, menatap heran pada gadis kecil disampingnya. " Eh, kenapa ? Takut ya ?" sapa anto lembut seakan- akan gadis kecil itu adik kandungnya. " Ngga apa - apa. Nama kakak Anto. Ndak usah takut. Siapa nama kamu ? Mau tidur di sini ? sudah makan belum?
Gadis itu pelan - pelan mulai tersenyum . Tatapan yang mengadung kasih sayang yang dilihatnya pada anto menyejukan rasa resah didada.
" memang saya boleh tidur disini?" tanyanya dengan riang. Anto tertawa sambil mengacak - acak rambut si gadis.
" Kenalan dulu dong, namanya siapa ?"
" Ana ." Gadis kecil menjawab malu - malu .
" Ah, nggak dengar nih . Siapa ?'
" Ana , kak Anto."
" Oh, Ana. Nama Yang cantik sama kaya orangnya ."
" Sudah makan?" tanya Anto. Ana menggeleng. Mukanya kembali ketakutan. " Nggak usah, deh. Nanti ketahuan emak."
" Kabur ya , An?"
" Iya."
" Kenapa?"
Ana menunduk sedij.
" Digebukin. Kuping dijewer sampai mau copot. Abis setoran Ana hari ini sedikit sekali, cuma tiga ribu."
" Ya udah, mau gorengan, nggak ? Anto beliin di situ tuh."
Ana mengangguk. " Tapi jangan pakai lama lama ya ka. Ana takut."



( bersambung )

5 komentar:


Zeal*Liyanfury mengatakan...

luar biasa!!! hebat. :D :D
ya ampuun est,... senengnya akhirnya kisah ini mejeng di blogmu. dinanti lanjutannya ok.
*o iya permintaannnya untuk duet nulis insya Alloh bisa. tapi dengan tema lain yaa.. hehe.. untuk yang ini aku suka keoriginalanmu dalam bertutur. aku ingin menyimak hingga akhir kisahnya, ini benar-benar kehidupan nyata banget. lanjutkan ya!(bukan kampanye lho, hihi.. .


auraman mengatakan...

Ternyata mintenya lagi jalan-jalan ya :)


Dani Kaizen mengatakan...

ceita yang menarik....
#salam kenal ya....:-)


Rima Aulia mengatakan...

ceritanya keren minten. ditunggu lanjutannya yak ^_^


Niken Kusumowardhani mengatakan...

Aku pernah baca ini di fb... ada terusannya ga sih...?


Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform