Tampilkan postingan dengan label Storiette. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Storiette. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2013

2 Keluhan Gebo Si Gerbong ....

Kau harus tahu aku adalah uh ... kau panggil saja aku Gebo. Tak salah lagi ... aku adalah gerbong yang berada di peron utama stasiun kereta api Kircon. Ya ... akulah yang menyambut semua penumpang stasiun ini. Namun, jangan sekali kali kau samakan aku dengan semua gerbong yang ada didalam stastiun didalam sana. Antara kau dan aku saja, mereka sungguh tak pantas menjadi gerbong stasiun.
Tidak seperti mereka, aku bukanlah gerbong biasa. Kuceritakan saja padamu jasa besarku.Aku adalah gerbong pertama yang berlari diatas rel membawa penumpang penumpang besar ... jangan salah ... bukan badan mereka yang besar. Maksudku para penumpangku adalah orang orang besar negeri ini. Mulai Lurah sampai Presiden." Sudahlah, Gerbong Tua. Berhentilah mengeluh !!!!"
Uh.... kau dengar kata kata itu ? Dia adalah burung parkit yang bersarang atas gerbongku. Entah kenapa dia suka sekali bernyanyi ! Menyebalkan !
Burung parkit yang tak sopan. Tak hanya memotong ceritaku, dia berani beraninya memanggilku Gerbong tua !! Huh harus... mereka seharusnya memanggilku Tuan Gebo !!
Beginilah masa tuaku . Begitu malang, sekadar menjadi hiasan Peron stasiun saja. Padahal semuanya tertulis dipapan keterangan yang terpasang di badanku.
Uh...uh...maafkan ... aku merasakan titik air ditubuh ku. Izinkan sejenak mengamati langit. Hah... hujan turun. Setidaknya suara tetes hujan lebih menyenangkan dibandingkan celoteh si parkit. Tak ada lagi yang akan memotong ceritaku , bukan ?
Bicara tentang si parkit ... kemana dia ? Oh... sudah kembali ke sarang rupanya, Namun sarang dia tak cukup rimbun, tak cukup melindungi dari hujan deras.Aku benar, kan ? sebentar saja unggas menyebalkan itu telah basah kuyup. kurasa mereka kedinginan.
" Ke..ke...napa kau ...me...manggil aku, Ger... Bong... Tua?!
" Kumaafkan walau aku masih saja dipanggil gerbong tua. Aku tak dapat membiarkan kamu kedinginan . Kamu boleh berlindung didalam gerbongku . Gerbongku cukup hangat untuk Kamu.
" Te.. rima kasih Ger...bong Tua " , kata si parkit.
Mendengar ketulusan dia senang juga hatiku. Panggilan Gerbong Tua tak lagi membuatku terganggu. Nyanyian dia terdengar lebih merdu sekarang.
" hanya ini yang dapat ku lakukan untuk membalas kebaikanmu. Menyanyi menghibur hatimu. " kata si parkit.
" Ya... ceritakan pada ku kehebatanmu dimasa lalu , biarkan aku bernyanyi untukmu setiap hari." tambah si parkit.
Kau dengar itu ? ternyata sangat menyenangkan. Yah ... tak ada salahnya membiarkan dia bernyanyi .Kalau kupikir , belum pernah aku senang ini .
" Apa katamu , Gerbong Tua ? aku boleh bersarang digerbongmu ?" parkit menatapku tak percaya.
Kupikir itu yang kubutuhkan. Teman penghibur hati. Tak butuh lama si parkit telah menjadi sahabat baikku. Kemudian istri dan anak anak si parkit. Dan mereka semua selalu bernyanyi untuk ku.
Setelah itu aku baru sadar , nyanyian si parkit menarik perhatian banyak calon penumpang. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya ? calon penumpang mulai memerhatikan papan keterangan ditubuhku dan mulai mulai berfoto foto ria.
Hu...hu...hu... setiap harinya ...kukatakan saja padamu. Semakin banyak orang yang mengetahui jasa besarku. Semua itu berkat keluarga burung sahabatku. Aku hampir lupa, mereka tak lagi memanggilku Gerbong tua. Mereka kini memanggilku Gebo  si Sahabat Burung. Kurasa itu nama yang sangat keren.
# coret coret efek sendirian pagi pagi ditoples ... ^_^ #
NEXT - Keluhan Gebo Si Gerbong ....

Minggu, 16 Desember 2012

5 1 Flay Over , 2 Curhat .... ( 1 )

Kircon , Kircon, mangga , mangga, Aa, Kircon, Teteh. Sabelah Kiri tiasa opat ya, Ayo Teteh , masih muat kok. Bu Kircon ...Kircon!" Anto terus berteriak sambil sibuk mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya. Tubuhnya sudah kelelahan, kepalanya berputar - putar dan kerongkongannya haus sekali.
" Om jack udah, Om Jack, ada polisi ...."  Ia menagih imbalan kepada supir yang kelihatan tenang." Enam orang lagi , To ikut aja." Om Jack belum puas . Terpaksa Anto duduk dipinggir pintu terus berteriak  seiring laju angkot Cibiru - Cicadas yang perlahan. Ia nyaris tidak kuat lagi menahan tubuhnya yang gemeteran . Di Halte Jalan Terusan Jakarta Ia bergegas turun dan memberi tempat kepada calon penumpang yang berebutan naik. Om Jack melemparkan empat koin logam lima ratus rupiah pada Anto.
" Nuhun, Om Jack ." Teriak Anto gembira.
" Hei, Anto , dapat berapa duit lu?" Joko, Asep , Agus dan Dedi menyambutnya. Anto merunduk memegangi kepalanya.
" Ah , Sial lemes Banget nih badan gue hari ini." Keluhnya. Temen - temennya melihat wajah Anto . Mereka tertawa.
" Sukurin lu. Makanya Jangan sok berlagu mau berhenti hirup tuh si Aibon. Nggak bakalan bisa , to. Itu sumber energi kita cari duit , lebih penting dari nasi. Agus jitak kepala Anto.
" Nih , ku bagi, dah . Kasihan Gua ngeliat lu kaya zombie sempoyongan, To." Asep sodorin Si Aibon.
" Akh, Jangan Sep," Anto ingin mengembalikannya.
" Alaaaahhh belagu lu, To. Udah ndak Ce es an lagi nih sama kita kita? Memang siapa yang suka nolong kalau lu ada ada apa apa . To ?" tinju Joko.
" Udah istarahat sono, lu!" dorong Asep. Anto yang sempoyongan lantas jatuh. Temen - temennyanya tertawa melihat Anto karena mereka anggap itu kejadian lucu. Kemudian mereka meninggalkannya di samping Halte itu.
Anto berjalan ke halte. Ia menghampiri  sebuah kios rokok yang sudah lama tidak di buka oleh pemiliknya. Disitu ia duduk menyandarkan badannya yang ndak bertenaga lagi. Matahari mulai berganti shift , cahayanya digantikan oleh sinar bulan dan lampu lampu jalanan. Angin dan asap knalpot kompakan sebar debu debu berterbangan. Dari arah mesjid seberang jalan sayup sayup mengumandang suara azan Magrib. Di tatapnya sekelompok gadis berjilbab yang menunda menyetop angkot. Dimatanya gadis gadis itu seperti putri putri dari negeri arab yang mustahil di jangkau. Anto mendesah , menelan ludah dan meringis kesakitan. Diambilnya Si Aibon dari Asep . Anto menatapnya , tapi ia menggeleng lemah ,di biarkannya si Aibon kering oleh angin. Anto menggelosor ditanah. Matanya terpejam rapat.

Wanita berambut keriting itu terus menganyunkan tangan kanannya kepada paha gadis kecil kurus kering dan rambut semarawut. Tangisan dan permohonan ampun dari mulutnya hanya menambah kebengisannya. Dijewernya kuping si gadis kecil itu.
" Aduh, Mak, Aduh , ampun, mak.Ampun, Mak ,ampun.... mak ,sakit, aduuuuuh." Si gadis kecil cuma bisa memegangi tangan emaknya tanpa daya perlawanan.
" Biar mati sekalian, lu! Lu kira gua enak ngelahirin lu, bapak lu sih enak, ngga kena beban apa apa . Dia tinggal kabur begitu perut gua melendung. Dia main lagi sama yang masih kempes. Gua nih , sengsara, mati - matian ngeluarin lu dari perut , ngasih makan, masak lu ngga terima kasih sama gue. Balas dong jasa gue, jangan maunnya manja - manjaan terus..."
" Mak, aduuuuhhhhh, bener , mak orang orang lagi pelit jadi ndak pada kasih duit ...."
" Masak di semua mobil pada pelit , ngga kasih seperak acan, lu pasti yang malas, nyanyi asal - asalan."  Wanita itu tampak kecepakan juga menghajar anaknya. Sejenak iya lepaskan pelintiran dikuping anak. Gadis kecil yang masih menangis karena sakit dan ketakutan pada emaknya sendiri buru buru ambil kesempatan. Lari sekencang kencangnya diantara deretan mobil mobil dijalan raya.Wanita berambut keriting itu kaget dan serta merta berteriak memanggil anaknya dan berusaha mengejarnya. Tapi cepat sekali bayangan si anak menghilang dari mata kepalanya. Sebuah sepeda motor nyaris menabraknya.
 " Sialan!" makinya kepada pengendara motor yang melaju tak penduli.Ia meyeret kaki ke kolong jembatan layang sambil terus bersumpah  - serapah.
" Kalau ketemu langsung gua bunuh tuh anak.!" gregetan seolah olah sedang mecekik leher seseorang.
"Ah, lu pikirian amat." seorang tukang rokok mendekatinya dan duduk didekatnya. Wanita itu menggeser dan pasang tampang jual mahal.
" Hidup ini harus lu bawa seneng. Lu kan masih muda, jangan stress mikiriin anak kabur. Ntar juga dia balik lagi.
" Ngomong aja lu panjang lebar. Lu laki laki tahu apa sih soal anak. Lu aja bisanya cuma bikin anak!"
" La, gua sih bukan munafik, ya Jelek - jelek gini gua belum pernah main perempuan. Gua sih nggak tegaan orangnya..."
" Nah lu kesini mau ngapain ?"
" Ya....., apa salahnya..."
"Apa salahnya apa ?"

Malam mulai beranjak sepi. Debu dan asap knalpot akhirnya mengalah pada senyap dan dingin. Gadis kecil itu masih menggiggil ketakutan mengingat kebengisan emaknya yang kali ini berlebihan dari biasanya. Pantatnya terasa ngilu, Kupingnya pengang dan pelintiran itu masih dirasakan walau ia telah berhasil melepaskan diri. Entah apa yang dilakukan emak jika ketemu dengan ku disini. Barang kali kupingnya diplintir sampe copot atau tangannya dibuat patah sekalian supaya terlihat tak berdaya dan di maafaatkan untuk mengemis dilampu merah.
Sambil sesegukan gadis itu mencari tempat yang kira kira aman buat bersembuyi malam ini.Didekatinya sebuah kios rokok yang tak menarik perhatian banyak orang , ia menjatuhkan diri disitu dan melepas tangisnya sepuas hati.di sisi lain ia sedikit bahagia bisa terlepas dari emak yang selalu memaksanya memberi setoran uang ngamen. Namun , dijalanan yang penghuninya bukan hanya dia, bukankah selalu ada orang orang dewasa yang sama kejam dengan emaknya.
Gadis itu jadi histeris memikirkan kemungkinan pahit itu. Tatkala disadar disamping dirinya ada sesosok tubuh tergeletak , rasa ketakutannya spotan bikin dia menjerit.

 Anto mengicek matanya, menatap heran pada gadis kecil disampingnya. " Eh, kenapa ? Takut ya ?" sapa anto lembut seakan- akan gadis kecil itu adik kandungnya. " Ngga apa - apa. Nama kakak Anto. Ndak usah takut. Siapa nama kamu ? Mau tidur di sini ? sudah makan belum?
Gadis itu pelan - pelan mulai tersenyum . Tatapan yang mengadung kasih sayang yang dilihatnya pada anto menyejukan rasa resah didada.
" memang saya boleh tidur disini?" tanyanya dengan riang. Anto tertawa sambil mengacak - acak rambut si gadis.
" Kenalan dulu dong, namanya siapa ?"
" Ana ." Gadis kecil menjawab malu - malu .
" Ah, nggak dengar nih . Siapa ?'
" Ana , kak Anto."
" Oh, Ana. Nama Yang cantik sama kaya orangnya ."
" Sudah makan?" tanya Anto. Ana menggeleng. Mukanya kembali ketakutan. " Nggak usah, deh. Nanti ketahuan emak."
" Kabur ya , An?"
" Iya."
" Kenapa?"
Ana menunduk sedij.
" Digebukin. Kuping dijewer sampai mau copot. Abis setoran Ana hari ini sedikit sekali, cuma tiga ribu."
" Ya udah, mau gorengan, nggak ? Anto beliin di situ tuh."
Ana mengangguk. " Tapi jangan pakai lama lama ya ka. Ana takut."



( bersambung )
NEXT - 1 Flay Over , 2 Curhat .... ( 1 )

Selasa, 26 Juni 2012

4 Kya & Ayu

Ketika dunia berubah menjadi tanpa batas, Jarak tanpa arah dan sahabat tanpa ruang. Persahabatan maya terjalin antara Kya dan Ayu.Kisah sahabat yang membuat kita bertanya apa artinya persahabatan dunia maya itu.
KYA adalah seorang gadis yang cantik , enerjik dan luar biasa . Ia hanya mempunyai satu masalah yaitu jantungnya sehingga ia tidak diizinkan untuk beraktivitas oleh orang tuanya. Hidupnya hanya dikamar dengan sebuah laptop yang menjadi sahabat setianya. Suatu malam kya bosan berselancar di facebook yang menjadi teman sehari harinya. Tak sengaja kya masuk ke sebuah room chating yang bernama “ BT “ bertemu kya dengan seseorang sebut aja Ayu.
Ayu adalah seorang mahasiswa semester akhir disebuah penguruan tinggi terkenal di kota bandung, hari ini Ayu kecewa berat skripsinya terpaksa harus ia ulang , hari ini juga sidang pertama perceraian ayah bundanya. Merasa kecewa dengan semuanya ayu menutup dirinya dalam kamar. ia pun meluangkan gundah di hatinya dengan Berselancar di dunia maya.
Ketika Ayu memasuki sebuah ruang chating bernama “ BT “ seseorang menyapanya.
“ hai “ seseorang ber id cu_mi
“ hai juga cu_mi … asl plz?” ketik Ayu
Aku 21 f jakarta . “ bales cu_mi
“ tetangga sebrang kota nih… aku
Bandung 21 “ balas Ayu
“ Iya tetangga sbrang kota nih …:D bales cu_mi
“ Nama Plz …”
“ aku Ayu. Dan U ?” bales Ayu
“ aku Kya , ngapain sis kamu masuk room nih ?” tanya kya
“ apa yaa tersesat nih …bercanda kya tadi sih iseng aja eee ternyata Cuma ada kamu hehehehe .”
“ O… dikau lagi BT juga yuu ….” Tanya kya
“ begitulah…” bales ayu
“ O ya kenapa memang..” tanya kya
“ hihihihi lebih baik malam ini kya saja dech yang cerita kenapa BT? Ujar Ayu
Kya bercerita tentang keinginannya jalan jalan bebas , kebosenannya tentang jakarta dan dengan sabar ayu mendengarkan ceritanya kya. Tak sadar chatting itu membuat kya melupakan masalahnya. Dan sejak saat itu mereka pun jadi Sahabat dunia maya. Setiap malam Kya dan Ayu sibuk dikamarnya ,saling bercerita apa yang dialami hari itu . Tapi Kya menyembunyikan masalah jantungnya, kya tak ingin sahabat maya itu tau keadaannya.Suatu ketika Kya mengirimkan Foto buat Ayu , sesuai dugaannya, Kya gadis yang cantik dan energik walau sebatas maya ayu merasa benar benar dekat dengannya. Dan mereka pun berjanji suatu hari akan bertemu di Boscha. Kya tak mungkin melakukan pertemuan itu, namun kya tak putus asa salah satu caranya yaitu kabur untuk bertemu sahabat maya di Boscha. Dan pertemuan yang dijanjikan pun terjadi.
Didepan Pintu masuk Boscha kya datang dengan senyum manisnya dan Ayu menyambutnya.
“ hai.. ini Ayu ? tanya kya
“ iya kya ..ini Ayu .” wajahnya tersipu sipu malu.
Dan pertemuan pertama ini tidak membuat keduanya gugup malahan makin rame , bawel serasa udah lama kenal. Untuk pertama kalinya kya merasa menjadi seseorang yang bebas , loncat sana lari sini ngebolang dari satu tempat ke tempat lain . Walaupun terasa sesak kya menutupin hal ini dari Ayu iya ngga mauu hari bahagianya ini berakhir. Tanpa malu malu berfoto narsis sebagai kenangan kenangan.
Setelah Puas ngebolang seharinya tiba mereka disebuah bukit di Dago “ Bukit bintang “ namanya
“ Bukit ini kenyennn yaa Kya….” Tanya Ayu
“ Iya Kerennnnnnnnnnnnnnnn abis dijakarta ngga ada… like this “ ujar kya
“ elu kenapa kya .. cape yaa maaf ! ”
“ Gue gpp don’t worry Cuma belum makan kali … percaya deh .”
Ini pertama kali kita ketemu nih , kesan kya apa nih !” tanya Ayu
“ Ayu tuh lucu , bawel, pemalu tapi kya suka kok …dan kalau kya gimana Ayuu ? tanya kya.
“ kya tuh lebih cantik yang pasti dari Ayu .. saudara kembaran sama fotonya deh …:P jawab ayu.
Dan mereka terdiam sejak . “ Ayu setelah pertemuan ini kira kira kita bakalan ketemu lagi ndak yaaa …? Ujar kya
“ Kapanpun Tuan Putri mauuu hamba pasti datang kejakarta .” ledek Ayu
Mereka pun tertawa ….
“ Ayu mauu ndak berjanji satu hal sama kya ..?”
“ Apaan Kya …?”
“ Suatu saat jika gue ngga ada loh jangan nangis yaa , pokoknya loh harus semangat …” ujar kya
“ Bicara apaan sih kya … jelegggggg tauuu elu ngga akan kemana mana..” ujar Ayu
“ Kya terlihat mulai kelelahan wajahnya makin pucat. Namun hal itu baru diperhatikan pas di Bandara. Belum Sempat bertanya jeritan operator mba pramugari mulai memanggil kembali agar segera masuk pesawat. Membuat Kya harus segera ke pesawat. “ Ayu kya harus pergi nih …makasih yaa untuk hari ini yang menyenangkan.” Ujar kya
“ Sampai ketemu lagi kya..” sambil  Ayu memeluk kya
Mereka pun berpisah, selang beberapa menit diruang tunggu kya tiba tiba jatuh pingsan dan bikin panik orang sekitar dipanggilnya segera Ambulan. Ayu pulang ngga tahu keadaan Kya. Kya kritis dan koma beberapa waktu.
Ayu mulai berpikir macam macam tentang perkataan kya padanya waktu itu , apalagi kya tak pernah muncul lagi diruang chat diroom itu lagi semenjak mereka ketemu. Ayu kecewa Inbox , email tak pernah dibalesnya . Bahkan sms atau telp pun ngga aktif. Seribu pertanyaan bertanya dalam hati.
Untuk sesaat kya menghilang dan disaat itu hadir seseorang sahabat maya lagi Mika namanya Seorang gadis yang dikenalnya disebuah jejaring sosial , dan sesaat Ayu merasa senang . Ditempat yang lain ternyata Kya sadar dari komanya mulai mencari cari sahabat maya nya yang telah ditinggalin beberapa lama. Namun Room chat tempat mereka berdua online ndak aktif lagi ,Ayu tak pernah muncul lagi . Kya sadar dari email email yang dikirim Ayu berisi rasa kecewa apanya, Kya ngga mau jujur , kya hanya mau Ayu tahu kya itu sahabat yang cantik , bawel bukan sahabatnya yang penyakitan. Dan membiarkan semuanya menjadi tanda tanya.
NEXT - Kya & Ayu

Sabtu, 28 April 2012

10 Detik detik ...


Sampai sekarang aku masih tak percaya kalau diusia 45 tahun mama hamil lagi , ketika enam bulan yang lalu mama menelpon ke kantor mengabarkan kehamilannya dengan bisik bisik dan sedikit malu malu, aku hanya diam tak percaya , bahkan setelah itu tertawa dan berkata " Masa sih, Ma ???? 
Dan keajaiban Tuhan memang terjadi . Aku tidak mengerti perasaan apa yang kurasakan sekarang. Cemas karena mama udah berkepala 4 usianya , atau malu karena di usia 22 tahun masih punya adik lagi . Apa kata temen temen kantor ku ? apa kata mas ku nanti ...??? Aku pun menutup rapat berita ini .
Mendekati bulan bulan kelahiran adalah hari hari yang menengangkan bagiku. Dalam doa kupintakan keselamatan bagi mama dan calon adikku. Namun kecemasan semakin bertambah kala pemeriksaan USG terakhir posisi adik ku sungsang dan Bidan tidak sanggup membantu proses kelahiran.
Sengaja long week end kali ini aku pulang ke bandung , hari beranjak sore, aku makin resah apalagi mama. Begitu juga dengan om dan tanteku yang sengaja ikut datang bermaksud menemai mama dihari yang menetukan ini . " Gimana udah lahir ? laki laki atau perempuan ?' tanya bapak dengan senyum cerah , senyum itu langsung hilang ketika mama keluar kamar memegangi perutnya. 
" Kita kerumah sakit sekarang ya Pa! Mama sudah tidak kuat," pinta mama memelas sammbil duduk disofa disamping tante Rima.
" Iya,iya, nanti Bapak siapin mobil dulu ."
" Ha..ha.. Bapakmu kabur , Mba. Takut disuruh nungguin mamamu melahirkan. Dari dulu dia begitu. " om Adi berkata. 
Mama semakin kepayahan, mondar mandir sambil meringis menahan sakit , sambil meminta punggungnya diusap usap. 
" Minta kain ..kain! ketubannya sudah pecah. Bapak mana ? teriak mama panik. Tiba tiba kepanikan melanda kami semua.
" Mba ..buruan panggil Bapa ! Mama udah mau melahirkan." kata tante Rima

Segera kami mengantar mama ke dalam mobil yang akan membawanya kerumah sakit.

Menurut Dokter kelahirannya masih lama, mungkin sekitar 2- 3 jam lagi  ya Rabb kasihan mama.
" Operasi aja pak ! Biar cepet " Mama panik dan tidak mau menunggu lagi. Digenggamnya tangan bapak, Bapak diam saja mendengar permintaan mama itu. Dari awal kehamilan mama memang ndak siap cuma naruri keibuannya yang membuat mama bertahan kuat selama sembilan bulan ini.
Karena tertekan dan putus asa mama menolak makanan yang diberikan suster , padahal seinget ku mama belum makan nasi sedikitpun dari pagi. 
" Ayo Ma , makan dulu , biar mba yang suapin , bujukku dengan lembut."
" Nggak mau, Mual mama mengggelengkan kepalanya."
Baru ketika bapak yang nyuapin mama mau makan walaupun hanya beberapa suapan. Ye ... mama manja juga seperti anak kecil. Hal lucu terjadi ketika bapak pamit buat sholat magrib , mama tidak mengizinkan makin erat memegang tangan bapak. 
" Mma, Bapak mau shalat dulu ,cuma bentar kok , sekarang mama sama mba aja dulu ya !" bujuk bapa dengan lembut.
Aku terus menemani mama tanpa tahu apa yang diperbuat , hanya memegang tangannya dan mengusap usap punggungnya. Mama tampak mengumpulkan tenaga , tarik nafas - dihempuskan, tarik nafas -keluarkan.
" Mama sudah tidak kuat , pa. Operasi saja ya?" Mama memelas."
" bertahanlah , Ma. Kata dokter, mama masih bisa melahirkan dengan normal . Berjuang lah Ma".
tetap pukul 19.05 dokter dan para suster masuk keruangan persalinan membantu mama , saat ini mama berjuang antara hidup dan mati. Aku ingin sekali kmenemani mama didalam tetapi ketakutan akan darah membuat ku duduk depan ruang bersalin. Tiba tiba kulihat bapak keluar dari ruang bersalin .
" Bagaimana Pa ,sudah lahir ?" tanya ku pada Bapak.
" belum " jawab bapak sambil senyum ." Mama minta kamu temenin , kasih dorongan semangat yaa ."
Walau ragu plus takut , aku masuk juga dibelakang bapa. Kuhilat 1 Dokter dan 1 Bidan 2 suster berpakaian putih ." 
" Ayo Bu... Ibu pasti bisa, Jangan menyerah , sedikit lagi kurang kuat. Ayo terus.." seperti orang sedang nonton bola , pikirku. Mama berusaha mengerahkan semua tenaga , Nafas nya tersengal , tiba tiba gumbalan darah sebesar kepalan tangan keluar , setelah sebentuk kepala mungil muncul tapi masuk lagi karena mama kehabisan tenaga. Rabb .... begitu berat berat perjuangan mama melahirkan anaknya , betapa aku semakin menyanyangi mama dan tak mau kehilangannya.
Akhirnya adik bayi lahir juga , bayi laki laki tetapi kenapa di masukan ke incubator ..?? bertanya ke bapa
Adik ngga apa apa ,dia normal hanya saja disempat kekurangan oksigen jadi harus masuk incubator untuk mencegah hal yang tidak diinginkan." Bapak menjelaskan sambil tersenyum.
Selamat datang adik cakep , Mba sayang dede ....^_^




NEXT - Detik detik ...

Senin, 23 April 2012

9 " Mama .. engkau surgaku "



Seminggu sudah mama meninggal. Apa yang kurasakan hari hari itu begitu sepi setelah mama pergi. Mama yang kusayang dan mama yang pernah ku benci .... Aku kini dilanda rasa sesal yang tak berakhir. Sewaktu mama masih ada aku selalu menjauhkan diri dari mama. Bukan tanpa alasan cuma aku tak mau menyakiti hati mama dan menambah dosa dosaku pada mama. Sebenarnya aku sayang banget sama mama, bagaimana tidak walaupun mama hidup dalam kekurangan mama sanggup berkorban bersusah payah membesarkan , merawat dan menyekolahkan aku dan mas mbaku  juga.
Pada awalnya kehidupan kami bahagia , tetapi ketika ayah mulai main perempuan keadaan berubah. Sering kali aku melihat ayah memukuli ibu ndak cuma itu mas mba ku juga tak pernah luput dipukulin , dicaci maki ayah seolah kami ini bukan anak anaknya. Dan sejak saat itu pun Mama bersusah payah membanting tulang membesarkan kami. Jam empat pagi , mama sudah bangun untuk membuat nasi uduk , Setelah selesai membungkus mama mengantarkan nasi itu kewarung warung selepas itu jualan dipasar .Aku ini anak bungsu, sebenernya mama sangat menyayangi aku dan akupun sangat manja sama beliau. Satu peristiwa yang tak dapat kulupakan adalah suatu ketika mama mengajak ku kepasar aku merengek meminta sebuah boneka, aku melihat mama ragu untuk membelinya karena melihat aku merengek akhirnya mama membelikan boneka itu. Ketika aku duduk dikelas 3 SMU , mama masih terlihat sehat , masalah kesehatan mama hanyalah diabetes saja. Saat itu mama masih sehat selalu menjagaku siang dan malam, Namun tak lama setelah itu mama mulai sakit sakitan beliau sering banget keluar masuk rumah sakit. Diabetes dan darah tinggi membuat semakin parah, akibatnya anggota badan mama sebagian jadi lumpuh.Untuk Menjaga mama mba ku yang pertama sudah menikah, mas ku kerja diluar kota jadi siapa lagi yang akan menjaga mama, kalau bukan aku sendiri. Namun aku ikhlas menjga mama.
Setahun aku merawat mama pada mulai aku bahagia bisa dekat dengan mama , tapi sayang ujian yang datang tak mampu kuhadapi, aku memang anak durhaka  karena tidak bisa melihat hikmah yang ada dalam ujian itu.
Sejak ayah kembali sifat pemarahku membuatku selalu berkata kasar pada ayah hal itu yang membuat aku selalu bertengkar sama mama.Kejadian kejadian yang tak menyenangkan itu terpaksa aku hadapi setiap hari , hal itu membuat aku bosan dan lelah tinggal bersama mama. Aku berdoa kepada Allah agar aku bisa keluar dari rumah ini, karena tak mau berdosa pada ayah sama mama. Akhirnya mba ku ngalah gantian beliau yang menjaga mama , sedangkan aku tinggal di kost deket tempat kerja ku,walaupun kelihatan senang tapi aku selalu kepikiran mama.  Bila libur long week aku selalu kunjungin mama , hatiku jadi sedih jika pulang mama hanya diam dan aku merasa canggung , kaku untuk berbincang dengan mama, padahal aku ingin sekali bercanda, bercerita dengan mama.
Mungkin itu pertanda mama akan pergi untuk selamanya ,terasa sesak jika aku mengingatnya ketika seminggu lalu pamitan kembali ke kost, seperti biasa aku bersalam dan meminta maaf , mama berkata dengan lembut " Kamu tak pernah melalukan kesalahan apapun kepada mama." Sekarang aku benar benar mengakui bahwa hati mama begitu mulia, mama surga dalam hidupku, namun aku begitu bodoh tidak memahami beliau. Sekalipun sakit mama tak mau jadi beban anak anaknya, mama selalu memohon kepada Allah agar cepat mencabut nyawanya. Sejahat apapun orangtua kita, hanya Allah saja yang berhak menghukum, bukan kita insan yang lemah ini. Sebagaii anak sudah menjadi keharusan untuk mendoakan keselamatan , merawat orang tua kita selagi masih ada waktu. Hari hari terakhir menjelang kematian mama, aku bahkan tak ada disampingnya. Cuma doa agar Allah mengampuni dosaku terhadap mama.
Benarlah firman Allah yang berarti :
" Dan kami perintahkan kepada manusia ( berbuat baik ) kepada ibu bapanya. Ibu telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah. dan menyusuinya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKU dan kepada ibu bapamu, hanya kepadaKulah kembalimu." (QS: Luqman, ayat 14 )
NEXT - " Mama .. engkau surgaku "

Sabtu, 24 Maret 2012

3 Aku ingin menikah ....

" Mir, ada surat!" teriakan itu berasal dari ruang tamu. Berlari aku keluar kamar meninggalkan kertas kertas gambarku.Itu pasti surat dari mama, yang memang ku tunggu tunggu.Benar saja, itu surat dari mama segera mengambil posisi terbaik diatas tempat tidur. Aku menulis surat kepada mama sebulan lalu isinya tidak minta kiriman uang seperti biasa , bukan juga mengabarkan kalau aku sakit. Isi suratku itu sangat singkat Begini " Mama , aku ingin menikah. Apakah bapa mama dan yang lainnya setuju dan merestui ? Mira tunggu balasan Mama. Dan sekarang aku menerima balasannya.
Sebenarnya , keinginan menikah itu sudah ada sejak setahun lalu dan memang udah ada yang memintanya padaku , mas Haris namanya berhubung kuliah blom selesai maka aku menundanya hingga setahun. Sehubungan kuliah the End dan wisuda sebentar lagi maka berani ku bertanya akan hal itu . Tak sabar, akhirnya kurobek amplop surat dari mama dan mengeluarkan berlembar lembar dari dalamnya . Pasti isinya nasehat dari A sampai Z yang ujung ujungnya pasti penolakan beliau. Daripada penasaran ada baiknya aku baca deh ..
Pantas saja surat berlembar lembar gitu ternyata bukan cuma mama yang bales tapi semua orang rumah ikut bersuara ada enam surat lengkap dengan nama masing masing. Aku tersenyum mirip kertas ujian saja . Ah surat siapa yang harus kubaca duluan jadi bingnung, kayanya mulai surat dari mama deh .
Mama
Terus terang , mama kaget , putri mama yang masih suka ngambek , manja dan bawel ternyata sudah ingin menikah . Tidakkah kamu merasa terlalu muda untuk menikah ..? kenapa ndak kerja aja dulu sayang kan ijasah ntar ndak kepakai, lagi mas sama mba mu juga belum menikah apa kah kamu ingin melangkai ketiga kakamu itu? Tak baik itu ,pokoknya mama tidak setuju.
Batu sandungan pertama kujumpai. Mama tak setuju gara gara aku masih kelewat muda katanya .
Bapak
Wkwkwkwk... kamu serius nak ? Bapa ndak nyangka kalau kamu yang anak manja ternyata bisa melucu juga. Bapa tahuu kamu cuma main main kan. Coba di pikir masak masak lagi , yakin mauu nikah cepat ? memang udah ada calonnya ...?? kalo pun udah ada calonnya tapi dia belum bapa seleksi kan kalo ndak lolos seleksi bapa gimana ayo ...?? udah mendingan lanjut sekolah lagi aja deh daripada kamu cepet nikah.
Batu sandungan kedua kujumpai lagi. Bapa tak setuju karena belum ketemu dan belum seleksi calon menantunya.
Mas Heru
hebat kamu , Mir! mas ngga nyangka kamu sudah memikirkan hal itu sekarang . Mas sangat setuju , untuk biaya pesta nanti mas akan tanggung sepenuhnya. Tapi ngomong - ngomong orangnya secakep mas ndak ..??
Dari dulu, mas ku yang sulung ini memang selalu mendukung apa pun yang aku inginkan terus soal kuliah ku ini kalo bukan karena dia mana mungkin aku bisa kuliah di jogja.
Makasih mas Heru satu suara yang mendukungku... ^_^
Mba Sasa
Beda dengan mas Heru , mbaku yang nomor dua ini menolak nolak habis habisan dan sedikit menyudutkan dia bilang kalau tak akan menganggap aku adiknya lagi kalau aku melangkahinya, katanya pamali bisa bisa dia ngga dapat jodoh nanti.Kata siapa ? kalau mba Sasa mau , sebenernya udah banyak yang melamar dasar mba Sasa aja yang banyak mauunya kurang cakeplah , kurang kayalah ,yang kampunganlah pokoknya seribu alasan kalo mba Sasa.
Mas Rio
Surat dari mas Rio singkat banget cuma bilang gini " Aku ikut keputusan bapa sama mama kalo beliau setuju aku juga setuju silahkan saja, tapi kalau tidak ,jangan coba coba melanggar " katanya.
Mba Ika
Surat Mba Ika mirip surat mas Heru ,dengan mendukung kalau memang sudah ada keinginan dan kemampuan sebaiknya segera dilaksanakan begitu katanya , Dia sendiri tak usah dipikirkan karena masalah jodoh udah ada yang mengatur.
Wisuda akhirnya datang juga, aku sudah ngga sabar ingin pulang kerumah dan menyakinkan mama bapa sekali lagi. Berbekal puluhan seminar , diskusi, dan kajian tentang menikah usia muda yang telah kuikuti makin bertambah optimis menyakinkan seluruh anggota keluarga.
Perjuanganku berhasil dengan sukses ,akhirnya mama dan bapa merestuiku setelah sebelumnya berkali kali menyakinkan perlahan namun pasti bapa dan mama bilang iya kamu kami restuin, bahkan mba Sasa yang tadi nya ngga mau menganggap adik lagi kalo menglangkahinya malah mengatakan gini " de , gimana kalau kita adakan acara pernikahannya barengan saja? Mba udah punya calon dan mba yakin sesuai dengan kriteria mba .
" Tapi , Mir, calon suami siapa ? " Mas Rio tiba tiba mengajukan pertanyaan.
pertanyaan itu memang sudah kutunggu tunggu dari tadi , aku sudah sibuk membayangkan reaksi semuanya senandainya nama Mas Haris yang kusebut.
Sebelum aku menjawab tiba tiba mas Haris berkata ... " Haris yang akan menikah dengan ... Mira!" bapa ibu mas mba.
Reaksi yang kuterima sungguh luar biasa , Bola mata mama dan bapa membulat , mba Sasa dan Mas Rio menjerit .." Harisssssssssss...." mba Ika melongo, cuma mas Heru yang berkata kenapa ngga dari dulu aja ngga harus nyampe selesai kuliah juga pasti di kasih izin nikah kok.
Tapi apapun reaksi mereka saat itu , yang jelas hari ini tepat seminggu aku jadi nyonya Haris ...^_^ , terima kasih yaaa restu dan izinnya .
NEXT - Aku ingin menikah ....

Sabtu, 03 Maret 2012

9 Nikah Syar'i ...

Setelah menampung beberapa ide,mengkaji beberapa sumbangan saran sahabat, dan mempertimbangkan laba ruginya dengan prinsip efektivitas, etika dan estetika ( bukan estika loh ..:P ) maka kubulatkan tekadku untuk menjadi mas mas ojek .. ^_^

Sekarang aku sedang berada disamping sebuah Bank ,menanti calon penumpang. " Mas..ojek, Mas" tawarku pada seorang lelaki muda yang lewat. " Bawa motor kok," jawabnya pendek. O.. begitu? Ya sudah. Ternyata bawa motor, katanya.Bisa juga bercanda orang itu.Tapi sebagai mas ojek yang baru berkiprah , kepekaan menaksir ramai tidaknya penumpang aku masih payah, tadi ku kira mangkal deket Bank bakal ramai ternyata salah hitung hitungan. Dari pagi belum seorangpun mau duduk di motorku ,Tapi aku senang karena aku jadi tak terlalu capek, Sebagai mas ojek yanng beragama, aku harus mensyukuri segala ketentuan Allah sebaik baik pemberi rezeki. Bagaimanapun keadaanku saat ini.Allah Maha Sempurna tak pernah salah dan keliru menetapkan seseorang pada takdirnya. O....ini dia barangkali.

Ada seorang wanita tergopoh gopoh keluar dari pintu Bank. Muka merah padam. Mungkin sedang ada masalah dengan pihak bank atau dengan seseorang diujung telpnya.

" Sopir ceroboh!" umpatnya serius" Bukan,Mbak ! ini ojek bukan sopir mba..."

Mau diantar kemana , Mba?"

" Berapa ke Rumah sakit AL -Islam ?"

" Terserah mba aja berapa."

" Lho, jangan begitu! Ayo cepet bilang berapa? kesusu nih!"

" Kalau kesusu, jangan repot soal harga, mba Naik sajalah."

" Tidak! Harus ada Deal harga dulu."

" Saya kan sudah bilang ,terserah mba mau bayar berapa."

" Hayo, berapa?"" Lima ribu gimana ."

" Lho kok murah banget? pasti karena cewek ya?" dia bertanya

Masya Allah ! ternyata pertapaan jadi mas ojek susahnya, tapi sebagai mas ojek yang baik aku malah senang mendapat penumpang begini.

" Sekarang, terserah mba aja. Naik monggo, nggak naik no problem" kataku selembut mungkin.

Akhirnya dia naik naik juga. mba ini selain cerewet tapi waspada juga ternyata, cerewetnya mungkin karena dia tak mau merugikan oranglain tapi juga tidak mau tertipu."

Kok tadi marah marah sama sopirnya kenapa mba ?"pancingku.

Abis ceroboh dia , jawabnya

Oh..

" Nah, turun disini Mas. Mas boleh menunggu atau cari penumpang lain.Saya mungkin agak lama.Nih,Makasih ya!" dia mengansurkan selembar sepuluh ribuan.

" Eh ternyata ramah juga. Aku cari uang untuk kembaliannya tapi ternyata ngga ada" Jangan, ndak usah!"

" Lho, perjanjiannya kan lima ribu? saya tidak mauu dealnya lima ribu!"

" Ngga, saya ikhlas kok!"

Ah, kupikir tidak ada gunanya berdebat sama dia, nanti malah makin rame. Lebih baik aku tunggu saja disini. Ternyata tidak lama ,kenapa tadi dia bilang mungkin lama? atau mungkin dia berhati hati dengan sesuatu yang tidak pasti?

" O...menunggu ya? memang ingin menunggu atau karena ndak ada penumpang ? tanyanya

" Karena tidak ada penumpang. Karena ingin bayar hutang ." jawab ku

Bada Isya aku nongkrong lagi di rumah sakit siapa tahu mba mba tadi siang butuh jasa ojek lagi. Perkiraanku ternyata benar... tak berapa lama mba mba itu muncul dan langsung menuju motorku.Tapi beberapa mas ojek lain mau rebutnya, bahkan ada seorang yang tangannya mau macam macam.

"He, Mas....itu saudaraku!" suaraku tinggi. Serempak mereka mundur mungkin karena ku bilang saudara, andaikata mereka serempak menyerangku ah serem juga.

" Assalamualaikum. Kemana mba ?" tanyaku

"Waalaikumsalam. ke toko terdekat yaa .

" Maaf tadi saya bilang mba saudara saya."

"Lho, bukannya sesama muslim bersaudara kan?"

"O ya, ayah mba udah baikan?"

"Lho kok tahu kalau ayah yang sakit?"

Ndak kok mba cuma tebak saja soalnya kalo Ibu yang sakit biasanya ayah yang banyak berperan, tapi saya lihat mba sibuk sendirian.

" Stop ,stop. Beli disini aja." denganberhati hati dia turun." Tunggu ya , sebentar saja."

Aku menunggu. Dan memang sebentar dia sudah kembali dengan sekantong makanan. " kaka ku ada dikota lain, lanjutnya. Wah ingatannya hebat.

" Yang bukan famili?"

" Teman dekat , maksud mas?"

" Sahabat atau pacar mungkin."

Dia diam agak lama , mungkin pertanyaan terlalu bersifat pribadi.

" Maaf untuk pertanyaan yang terakhir , kataku meralat.

" Tidak apa.Sebetulnya hampir bertunangan tapi ..."

" Kenapa? bukan tipe mba yaaa..?" pancingku

" Bukan begitu. Tapi Ayah dan pihak keluarganya minta kami nikah syar'i , aku juga ragu aku belum mengenalnya betul siapa dia. Aku takut dia terpaksa karena ini murni inisiatif orang tua kita masing masing.

" Nikah syar'i itu apa?"

" Ya nikah sekedar memenuhi syari , ada dua calon pengantin, ada wali, ada saksi , ada mas kawin dan ada ijab kabul itu saja kalo mauu pesta berarti menyusul gitu.

" Kerjanya di apa? tanyaku lanjut.

" Dia seorang pilot. Bagi aku sih dia kerja apa tuh tuh ndak masalah yang penting dia takwa, jujur, dan penuh tanggung jawab. stop stop !"

eeee ..udah sampai. Sayang sekali!" Tapi cukuplah dia memberi selembar dua puluh ribuan.

" Kok banyak banget?"

" Harga murah untuk sebuah rasa aman." jawabnya.

Andi anuradha firdaus dari mana saja kau nak ? calon mertuamu sakit, kau malah menghilang - hilang. Jangan kan membantunya , membesuknya aja kau tidak. Calon istrimu yang mengurus ini itu sendirian, ah kau ini calon suami bagaimana..."

" Tapi aku sudah membantunya, mom..!"

" Membantu apanya. Mama tanya calon istrimu dia bilang ngga ada nongol - nongol kok ..."

" Sungguh mom , Andi sudah menjemputnya di Bank , nganter kerumah sakit , dan anter beli kebutuhan di toko kok. O ya mom kalo besok bapa sama mama mauu kesana andi titip uang kembalian bilang saja dari mas ojek yang semalem, gitu."

Mama bingung. Tapi akhirnya geleng geleng kepala sambil tersenyum.


NEXT - Nikah Syar'i ...

Rabu, 08 Februari 2012

4 jadi orang kaya pasti enak ...

Ibu, jadi orang kaya itu enak, ya? si Imut Ning yang sedang makan di pojok meja membuka percakapan, memperhatikan ibu nya yang sedang sibuk dengan sayur asemnya. Sayur asem kesukaan bapa tersayang.

Ibu tersenyum memandang Ning, senyumnya yang cantik itu selalu menghiasi bibirnya . " Enak gimana?"

" Ya enak. Apa apa tinggal beli, beli sepatu, boneka,pizza, burger...." Sambil nyerocos." Coba lihat kita, Ibu beli baju cuma setahun sekali pas lebaran doang. Ibu terenyuh mendengar kata kata Ning. Pikirannya menerawang ,bayangan sepuluh tahun silam kembali hadir dipeluk mata. Rumah besar, honda jazz diparkiran, mpok dan tukang kebun serta seorang suami yang berprofesi sebagai wakil direktur ,hingga suatu ketika suaminya di fitnah telah melakukan korupsi dan hakim memutuskan bersalah dan sejak saat itu hidup semuanya langsung berubah ,waktu itu Ning belum lahir , sedangkan Nana putri sulungnya masih bayi .

" Kemarin Faris dibelikan sepeda sama ayahnya , Ning lihat dia memakainya.Asyik Ibu. Saat ning disuruh mencobanya ."

Ning ....! ocehan Ning berhenti oleh suara panggilan dihalaman depan.

"Ibu, ning main yaa..?" itu pasti Putri , Setelah mengangguk, Ning lari kehalaman tanpa dilihat kelopak mata ibu berair.

Saat itulah tanpa disadarinya, Nana masuk ia baru kembali dari pasar. " Nah....ketahuan, deh Ibu kok nangis?"

Ibu tak sempat menyembunyikan air matanya." Ndak, Na ...."

Nana menatap wajah ibunya . Na menunggu seperti biasanya, karena ibu tak pernah menyimpan masalah apapun, sebentar lagi Ibu pasti cerita.

" Na," ibu mulai bicara, " kok nasib kita ndak pernah berubah ya?"

" Ndak berubah gimana, Bu?"

" Katanya roda kehidupan itu berputar kadang diatas kadang dibawah . Tapi ....kenapa kita terus dibawah.

Na menarik nafas mungkin rodanya rusak bu jadi ndak berputar kata Ning dalam hati. Na tahu kemana arah pembicaraan Ibu. Maksud ibu...

" Iya ...kita ini kok miskin terus."

" Bu, jangan sebut kata kata itu , siapa bilang kita miskin?"

" Jadi, menurut Na kita ini gimana? lihat sekeliling, tetangga semua udah punya TV sedangkan kita...listrik juga ikut tetangga..."

" Ibu kok bicara seperti itu? selama ini Na sangat kagumin ibu, ibu tuh sabar, lembut, gigih,tak pernah mengeluh. Tapi apakah ibu ndak tidak bahagia?"

Ibu terdiam, lalu menggeleng " Ibu bahagia walau seperti ini cuma..." cuma ibu akan lebih bahagia kalau kita seperti dulu lagi."

" nah itu dia, kebahagian adalah kekayaan yang tak bisa di beli , kita harus bersyukur ibu karena kita masih hidup dan punya tempat tinggal masih banyak orang yang tak seberuntung kita.

Ibu mendengar Nana dengan tersenyum, senyum bangga pada putrinya , dia selalu lebih dewasa dibandingkan dengan usianya tak pernah mengeluh dengan keadaaan keluarganya." Maafkan bapa dan ibu ya, Na rasa kami belum pernah membuat bahagia." Ibu menunduk

" Ibu Ning bahagia , sangat bahagia siapa bilang ibu tak pernah membahagiakan Na? Ibu mengajarkan Na shalat, mengaji . Disitulah kebahagaian sebenernya ,Ibu bukan pada harta, tapi pada perhatian dan kasih sayang yang dilandasi keimanan.

" Assalamualaikum.."seru Na. Na melangkah kedalam rumah didinding papan itu, Rumah terindah yang pernah kumiliki,pikir Na setiap masuk rumah bagaimana tidak dirumah ini Nana dan Ning dibesarkan dan dirumah ini juga dikenalan nilai islam makanya Na bersyukur punya orang tua seperti bapa dan ibu.

"Kok udah pulang, Ibu yang lagi membungkus nasi buat bapa menegur Na.

" Ada rapat guru Bu ,Oya bu biar na yag anterin ke bapa yaa na pingin makan bareng sama bapa bugkus dua yaa bu..

Iya... tapi nanti langsung pulang ndak usah bantuin bapa ya

Memang kenapa , Bu ?

Ngga kamu kan harus anterin pesan kue ke rumahnya Ibu Rosa nanti, jawab Bu seadanya soalnya ia bertekad pekerjaan apa pun boleh dibantu kecuali tambal ban

Tapi kan kue dianterin nanti sore Bu , pokok langsung pulang Bu bilang.

" Ning mana , bu ?" Na keluar dari kamarnya, Bu tersentak dari lamunannya." Tadi main sama Putri mungkin kerumah Faris ."

Setelah pamitan , Na berangkat menuju tempat tambal ban bapa keluar pintu belakang memasuki gang sempit sambil bersenandung .

" Mba, Ning ikut ke rumah Ibu Rosa ya ? tanya Ning memperhatikan Nana yang sedang menyusun kue ke dalam baki. Tumben , biasanya juga ngga , apa udah bosan bermainnya ? sahut Na tapa menoleh.

" Ngga, Ning mau bantu mba Na saja, masa Mba Na setiap hari anterin kue sedangkan Ning malahan sering main tak pernah memnbantu."

" Ning cimut kan masih kecil , jadi kerjaannya ya main jawab Na asal asalan."

" Apa mba Na dulu juga seperti Ning ? Mba Na dulu kerjanya main juga?"

" Na diam , berusaha mencari jawaban yag tepat. Dulu beda sama sekarang sayang dulu ngga ada yang bantuin ibu."

" Jadi Mba Na dari kecil udah membantuin Bu? udah kerja?

Na mengangguk ." Tapi bukan berarti mba ngga main sesekali mba juga main ngga selalu bantuin ibu.

" jadi ... Ning ikut mba yaa..? Na terseyum dan mengangguk.

" Kapan ya , mba kita bisa kaya? tiba tiba Ning bersuara.

" Kok , nanya seperti itu ? memangnya kita miskin?" tanya Na . " Ning masih makan tiga kali sehari kan? masih punya sepatu, masih suka jajan kan ..."

" Ning sayang , kita harus bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan , masih banyak orang yang tidak seberuntung kita , dan ingat semakin banyak harta yag kita miliki, maka semakin besar pertanggungjawabnya nanti ."

Ning diam , bingung karena ndak mengerti apa yang dijelaskan Na. Sebelum masuk rumah ibu Rosa na berpapasan dengan pengemis , " na masukan dua kue ke dalam plastik , Ning kasih kan sama ibu itu."

" Ternyata kita jauh lebih baik dari ibu tadi ya mba?" Ning mulai bawel lagi

" Bukan hanya dari ibu itu , masih banyak orang yang jauh memprihatikan dibandingkan dengan kita, kita begini sudah sangat beruntung , adik manis. Makanya jangan pernah mengganggap kalau kita ini miskin.

( lagi - lagi bingung ada yang mauu bantu terusin ...^_^ )






NEXT - jadi orang kaya pasti enak ...

Minggu, 22 Januari 2012

6 Mya my fiance...

Aku yakin sekali, saat ini ada seseorang yang tengah memperhatikanku. Instingku,feelingku, dan naluriku juga merasakan hal itu.Tapi, siapa? Di mana orangya ? didepanku hanya ada segelas milo dingin, sepasang cheeseburger , kiri dan kanan hanya ada deretan orang yang antri. Didepan sana , deket meja Mba Kasir ada seorang Mas - mas. Memang sih , Mas itu sedang memandang kearahku, tapi apa mungkin..?? ya, Tuhan ... benar, memang dia yang terus memperhatikanku.Barusan, mata kami bertemu, sebelum senyum manis Mba Kasir menyapa. Aku segera tertunduk dan Mas itu masih terus memandang dan berjalan ke arah ku. Oh MY God dia duduk didepanku pula, Apa mungkin dia naksir aku ??? hehehehe.... ya, nggak mungkinlah, masa Mas mas naksir aku....

Kalau udah kayanya gini otak isengku pasti muncul, " Hai ..." aku menyapanya .

Matanya membesar, Saus Sachet terlepas digenggamannya karena kaget,dengan singap ku ambil dan menyerahkan padanya.

" Ada yang bisa kubantu? " sapaku lagi setelah beberapa saat. Dia masih tetap diam. Yeee... nih mas, apa mungkin dia bisu..? masa ganteng ganteng bisu , tapi nggak mungkinlah , kalau bisu kenapa tadi bersapa ama Mba Kasir. Aku mulai tidak sabar, dalam hati aku bertekad , sekali lagi memandang dan sapaan ku tidak dijawab , maka aku akan pergi, dan dia akan menyesal karena belum sempat minta tanda tanganku. hahahahaha...." Kenapa lihatin aku ? tanyaku , dan dia masih diam. Kuembuskan nafas dan berdiri, tuh orang kurang kerjaan kali, bukannya nikmatin tuh pesanannya malah asyik memandangiku. Tapi aku kan memang cantik, hehehehehe... mulai, deh !

" Mya my fiance..." terdengar suara dibelakang, begitu aku mulai menjauh.

" Mya my fiance..." masih dengan suara yang sama , Apakah ditujukan padaku? Nggak mungkinlah.

" Mya my fiance..." sudah panggilan ketiga dan aku segera menoleh, Mas itu, tampaknya dia memanggilku. Apalagi ini ? tadi disapa nggak mauu menjawab, begitu ditinggal malah memanggil dengan sapaan " Mya my fiance " lagi. Aku menatapnya tajam.

" Kamu.... memanggilku? aku menunjuk diriku sendiri.

" Mengapa Mya my fiance pergi? mengapa tinggalkan aku ? Aku benar benar bingung. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan kami.Apakah mereka percaya semua yang telah dikatakan mas ini? Aku langsung berbalik meninggalkan orang itu, jangan - jangan ini model baru penculikan." Mya my fiance..." Mas itu memanggilku lagi.Namun, aku sudah menghilang di depan pintu.

Vina, Tina, dan Dian medengarkan ceritaku dengan serius, Tapi begitu sampai pada bagian saat aku dipanggil Mya my fiance mereka saling pandang, berbisik- bisik pula. Ngomong apaan, nih ? aku melihat gelagat yg kurang menyenangkan.

" Ngaku deh, Mi..." Vina memaksaku.." Kami nggak nyangka, lho! kok pacaran nyampe tunangan ngga kasih tahuuu kita. protes Tina.

Sebelum Dian ikut protes and nuduh aku nggak - nggak , bantal yang dari tadi ku peluk sudah melayang kearah mereka, disusul mr. Teddy melayang pula, sambil tertawa tawa mereka meminta maaf.

" Ampun, Mika Sayang.... bercanda, kok ." ujar mereka kompak." Aku serius, nih ." ujarku.

" Tapi kan, bisa saja kalau kamu memang mirip dengan Tunangannya. " kali ini, Vina mulai bicara serius.

Sejak kejadian pertemuanku dengan Mas mas kemarin , pikiranku menjadi tidak tenang, biasanya kalau dah gitu acara ngebolang jadi pilihan.Hingga akhirnya ku ajak si vina ngebolang." Besok bisa nemenin gw ngebolang nggak? tanyaku, setelah beberapa saat terdiam , harus besok yaa tapi aku ada janji sama roy maay ya , Mi kata vina kemudian. Karna Vina ngga bisa, akhirnya acara ngebolang lanjut terus ditemenin soulmate ku satria fu 125 menelusuri jalan seputar lembang. Tak terasa jam makan siang udah lewat cacing cacing di perutku mulai menjerit jerit protes , aku putuskan makan siang di restoran cepat saji di daerah Cihampelas , seperti biasa segelas minuman bersoda plus ayam goreng jadi menu makan siang kali ini, saking semangat tatap tuh makanan tanpa sadar .Ciiitttt.....! hampir ku tabrak seorang Ibu.

" Maaf.... saya tidak sengaja ucapanku pelan." Kamu Mya? Kamu Mya anakku? Ibu itu memanggilku." Bukan, bu saya Mika jawabku cepat." Oh, ya tentu saja, tentu saja , kamu bukan Mya, maafkan Ibu."

Pengalaman aneh! kemarin , seorang mas memanggil aku dengan sebutan Mya , sekarang seorang ibu yang mengira aku adalah anaknya. Apakah mungkin Mya yang dimaksud ibu ini adalah mya yang dimaksud mas itu? kalau iya..., berarti ibu ini pasti kenal dengan mas itu, Tiba tiba aku terseyum, sebuah ide muncul. Aku mengajak ibu itu duduk bareng , ibu itu mauu tapi mataya masih menatapku.

" Ibu, Mya itu sapa? " tanyaku " kemarin, saya berjumpa seseorang dan dia memanggil saya dengan sebutan Mya"

benarkah, dimana? tanyanya antusias.

lalu, mengalirlah ceritaku.

" Ibu juga mencari dia , nama Faiz . Dia.... ah ceritanya terlalu panjag. Maukah nak Mika ke tempat Ibu? Disana, akan saya jelaskan semuanya."

Aku langsung mengangguk.

Rumah itu terletak tak jauh dari Boscha, tidak begitu besar tapi begitu nyaman ketika memasukinya. Tante Putri, iya nama Ibu yang mengajakku kerumahnya , ia berjalan menuju lemari dan kembali dengan sebuah album foto ditangannya, diserahkannya padaku da aku langsung membukanya. Seolah tak percaya , aku seperti melihat diriku didalam album itu tapi beda versi hehehehe...

Juga kulihat seorang laki laki yang kemarin menyapa ku di Restoran , dia tersenyum manis disebelah Mya." Nak mika ..... Tante boleh memeluk sebentar aja..,tanpa ragu aku mengangguk.

gadis di foto itu adalah Mya , Ia putri bungsu tante , cantik , imut, lucu, manja, sekaligus bandel , dan cuma Mya yang nemenin tante dirumah ini selepas kakak kakaknya berrumah tangga dan setelah Om ngga ada. Dan sebelahnya itu foto Faiz, Faiz tuh calon menantu tante tapi ..." Mya sudah pergi " 3 bulan lalu kecelakaan mobil, tepat seminggu sebelum acara pertunangannya dengan Faiz, hari itu tante tuh dah larang dia pergi tapi dasar bandel dia tetep nekat, mobilnya pecah ban di tol dan akhirnya.... air mata tante Putri berderai.

Dan " Faiz tak bisa menerima kenyataan itu , faiz itu terus mengatakan kalau Mya tidak meninggal dia hanya sedang liburan dan dia akan terus mencarinya, ternyata dia memang tidak main main dengan ucapannya, pasti dia mengunjungi lagi tempat tempat yang biasa didatangi berdua.

Sebuah mobil tampak memasuki halaman rumah, tak salah lagi dia mas mas yang kemarin menyapa ku di restoran , ia benar itu faiz. Tiba tiba dia berlari memelukku," Mya..." . Ibu mya pulang , mya pulang..Pelukannya makin erat buat dikit sulit bernafas. " Mya janji Elo ngga bakal tinggalin gue lagi..janji mya elo harus janji..!!gw buka Myaaaa..... elu salah orang..!! teriak gw..


NEXT - Mya my fiance...

Sabtu, 17 Desember 2011

5 Es E , Oh, Es E ..

Pagi itu jam sembilanan , aku membereskan piring piring dan membawanya kedapur. Komandan sudah pergi ke kantor setelah beberapa saat selesai santap sarapan. Sementara kedua jagoan adikku Roni dan Rani sudah lebih pagi berangkat sekolahnya SMP dan SMU. Aku mulai mencuci piring gelas kotor di dapur. Kulihat Ibu Komandan mengiris sayur - sayuran , memotong motong tempe membersihkan ikan dan kemudian memasukannya ke lemari. " Kamu ndak kemana - mana to , Mi ?" tanya Ibu Komandan padaku. " Ndak , Bu" jawabku. " Ada apa Bu?" " Ini nanti dimasak, Ibu nanti mauu pergi kepegadaian sama si Rama ," katanya. Rama adalah adik ku saat ini dia sedang mulai menyusun skripsinya di fakultas teknik sebuah universitas dibandung. " Ke pegadaian?" Apa yang mau digadai Bu?" tanyaku heran" Televisi , buat bayar SPP si Rama dulu. Gaji Komandan bulan ini habis , gitu juga tabungan ibu, buat daftar ulang si Roni dan Si Rani." jawab Ibu komandan. " Habis dari pengadaian nanti terus mampir pasar barang barang diwarung banyak yang habis." Aku menelan ludah , baru sebulan televisi balik dikaratina sekarang masuk lagi.

Di rumah tinggal aku sendiri , aku mulai memasak , sambil menunggu warung

Beee..Li....! terdengar suara anak kecil mengagetkanku , Rupanya Dea anak tetangga sebelah baru berumur lima tahunan. " Mbaaa... beli coklat yang itu... yang ayam jago..." katanya menunjuk toples " Belapaan halganya coklat ith?"" Dea bawa uangnya berapa?" tanyaku dulu. " Ini bawa Lima...." Katanya sambil memperlihatkan lima uang recehan seratusan. Tak lama kulihat ibunya tergopoh gopoh. " Aduh ni anak dicariin , malah kewarung sendiri." kata mba Nur penuh cemas. " Mi gimana sudah dapat kerja teh, belum?" tanyanya menohok batinku.

" Belum, mba ." jawabku.

" Aduh .... sayang yah udah punya gelar es - e teh belum kerja juga. padahal waktu Mika Wisudaan kelihatannya hebat sekali yah pake toga, begitu, mba meuni pangling . " Jadi udah berapa lama mika teh belum dapat kerja?" tanyanya bikin aku kesal." Enam bulan lewat seminggu." jawabku dengan wajah yang mencoba bertahan untuk tidak cemberut. Pekerjaan menunggu warung ini makin lama makin tidak menyenangkan. Setiap tetangga yang belanja yang aku layangi selalu bertanya " Apakah aku sudah kerja?" Huuuh...

Aku melanjutkan masakan di dapur. Pikiran masih melayang kepertanyaan mba Nur tadi, sulitnya kehidupan jaman sekarang sejak lulus udah berpuluh lamaran dikirim tapi belum dapat juga pekerjaan. Dua minggu lalu panggilan, begitu didatangin orang kantor itu bilang aku diterima disitu. Tapi..." sekarang bayar dulu seratus ribu buat adminitrasinya." kata mbak mbak yang menginterviewku itu menyakinkan. Aku percaya saja kubayar sejumlah yang diminta, hatiku keburu senang dapat kerjaan, tahu tahu tunggu punya tunggu belum juga ada panggilan , padahal seisi rumah sudah seneng.

Sekarang aku sudah mulai bosan mengirim lamaran lamaran ,cuma menghabiskan prangko, kertas dan amplop saja.

Sore itu setelah asar aku membuka buka koran di meja makan sesekali aku mencontreng lalu berpikir, kemudian geleng geleng sendiri kemudian mengangguk angguk.

"Deu.... serius amat kakak, liat Roni

Kak... Pak hakim dan pak jaksa kapan saya akan bekerja...sudah enam bulan menjelang belum juga punya kerjaan " tiba tiba si Roni berjodet dangdut didepanku. " Roni ..." aku melotot Roni memcibirkan bibirnya kemudian tertawa.

" Udah kak ... jadi sales saja... banyak lowongan kan tu ....dicari sales.. ini juga dicari sales.." kataaya menunjuk koran yang ku baca, kucubit lengannya. Roni memekik kemudian tertawa. " bapak bapak ibu ibu.. ini barang bagus buatan luar.. dijamin asli.. silahkan dilihat dulu Bu..." katanya sambil bergaya seperti sales.

" Roni... wis to jangan usil gitu." ibu menengahi.

Si Roni berlalu giliran si Rani bersuara.." Cari suami aja kak... cari yang kaya kalo bisa.!" ikutan nyindir.

" Kaya juga kalo bukan baik baik buat apa?' aku jadi sewot. "Iya kak...ntar Rama bantu cariin. siapa takuuutt...katanya Aku jadi mangkel.

" Bener Mi..atau kalo ndak cari kerja ya cari suami , biar jadi ibu rumah tangga bukan jadi pengangguran , ibu dulu seumur mu udah nikah lo." kata ibu

" Ibu kalo aku cari suami , cari yang siap nikah kaya yang aku bilang dari dulu itu ...yang gak pake pacar pacaran." lha kamu itu belum dapat dapat juga?"

" Belum dikasih Allah jodohnya, Bu.." jawabku." Lha kalo kerja itu belum dapat juga, udah beli amplop, kertas sama prangko terus?" " Belum dikasih Allah rizkinya, Bu..: Aku menyabarkan diriku sendiri, mataku hampir menangis.

" Moga cepet dapet suami dan juga kerjaan to , nduk, bapak dan ibumu sudah tua...pingin liat anak anak jadi orang... kerja kek..nikah kek."Aku membenarkan dalam hatiku aku si sulung ini belum juga jadi apa apa. Amiiinn... jawabku mengamini kata kata ibuku yang mirip doa.

Matahari minggu pagi cerah, aku menunggu angkot . Setiap hari minggu aku sering ngebolang bareng si camera butut ke geoglogi. sebuah angkot lewat aku memberhentikan. Angkot coklat melaju sesekali menurun dan menaikan penumpang. Angkot berhenti ketika sesosok berkerundung kuning menhentikannya.

" Assalamualaikum .." kataku setelah perempuan itu duduk di sebelahku." Eh Mi... waalaikumsalam.." katanya perempauan itu bernama tina , temanku dulu waktu SMU.

" Mau ke mana, Na?" tanyaku

" Ke Geologi.... Mi kemana? katanya balik bertanya. " Sama Atuh.." jawabku. Obrolan jadi berlangsung deh.

" Na ,,,ngga sama mas mas faris ke geologinya?" tanyaku sedikit heran melihatnya sendiri.

" Mas faris nya sedang ke jakarta sedang ada tugas disana seminggu.." jawabnya " Kamu sendiri kapan atuh nyusul... mgundang Na..." tanya pelan takut terdengar penumpang lain, pertanyaan klasik lagi untuk orang seusiaku tapi belum menikah." Insya Allah ... amin... doakan saja." aku menjawab pelan" kapan ya...? Mi juga ngga tau dikasihnya kapan?"

" Iya ...berdoa aja atuh.. tiap salat... juga tahajud..." sarannya. " Mi, sudah kerja?" katanya mengalihkan pertanyaan.

" belum..." jawabku, ah ini dia pertanyaan klaksik berikutnya, aku menarik nafas ." Na sendiri kerja dimana sekarang? ' tanyaku.

" Na mah sekarang ngurus rumah makan baru tiga bulan itu pake rumah bapak Na yang dijalan belakang rumah. Alhamdulillah lumayan rame.." katanya

" Memang sih sekarang mah susah sekali ngelamar kerja teh ya dulu juga Na mengalamar tapi ngga keterima terima juga, udah deh sekarang mah Na ngurus rumah makan aja, katanya lagi . Aku hanya diam.

" Eh Mi kenapa diam saja..."

" Eh...ngga apa apa?

Mi, sebetulnya Na teh lagi butuh tenaga Admin. Mi mau jadi Admin..?"

" Tapi gajinya ngga seberapa Mi paling lima ratus ribu namanya juga rumah makan baru buka

" ngga apa apa ... aku mauu, " Ngga apa apa es - e jadi admin rumah makan kan harusnya es - e kerjaanya dikantoran, gajinya sejuta lebih ?" tanya Na masih belum yakin. Aku mengeleng kuat kuat standar itu udah luntur jaman sekarang bisa bisa jadi pengangguran abadi kalo nunggu kerjaan jaman sekarang. enam bulan diruamh saja rasanya badanku sudah bulukan belum lagi sindiran keluarga menbuat telingga geli. " Ngga apa apa Na ....makasih banget ...aku mauu..!

Angkot tak terasa udah nyampe geologi aku dan Na turun dan membayar ongkos. kakiku melenggang lebih ringan , yang penting aku lepas dulu saja dari satu bebanku .... es - e penunggu warung ibuku.. dan beban bapaku berkurang satu aku ini bisa beli makan dan keperluanku sendiri. Alhamdulillah.... Allah memberikan rizkinya lewat jalan yang tak disangka sangka.....

NEXT - Es E , Oh, Es E ..

Senin, 01 Agustus 2011

2 Indah , ya ...


" Indah, ya?"suara lembut dari wanita berjilbab yang duduk disampingku ini adalah suara yang tak butuh jawaban. Ya, gimana nggak, putri demikian gadis ini biasa disapa,bisa melihat apapun dengan indah. Pernah aku memergokinya didepan halte. Tahu nggak dia sedang ngapain? sedang melihat dua ekor anak kucing, sodara sodara.Nah wajar dong kalo aku heran dan bertanya, " Kamu ngapain, Put?" Dengan mata berbinar dia menatapku,sambil berkata, " Indah, ya?" Tuh, bingung nggak? Pertama kali kenal Putri, dia memang pengangum berat matahari, terbit dan terbenamnya tak pernah dilewatkan. Yup, masih bisalah aku tolerir , tetapi, begitu dia bilang hujan deras itu indah, anak kucing yag berkerjaran dihalte juga indah, sebagai pemuja logika aku mulai mengerutkan kening. " Kamu terlalu murah menilai keindahan, put." aku protes waktu itu. Putri cuma tersenyum mendengar protes ku itu. " Yah, memang murah , Mi, gratis malahan, Allah kan nggak pernah mungut bayaran dari semua keindahan." Hhh.... kalau sudah begitu aku tak bisa berkata apa - apa. Toh aku tak rugi apa apa, untung malahan karena my best friends ku ini bakal terus tersenyum. Aku cuma jadi heran , kok ada orang ajaib ini. Pernah juga aku marah dengan keindahan versi gadis ajaib ini. Begini, suatu kali sehabis latihan karate yang melelahkan. Tiba tiba saja putri menarik tangan mengajak kerumah sakit. " Ada yang sakit, kamu mauu nemani aku kan , MI?" Siapa coba yang bisa menolak kalau udah dikasih senyum ajaibnya. Singkat cerita, setelah berjemur diatas gerbong kereta, akhirnya sampai juga dirumah sakit, Putri langsung menarik ku ke lantai dua, menuju tempat bayi yg baru di lahirkan. O rupanya saudaranya ada yang baru melahirkan pikiri ku. Putri mengintip dari balik kaca , bayi bayi yang lucu itu satu satu

" Yang mana, Put, bayi saudaramu?" Putri dengan senyum ajaib yang sudah kuhapal cuma balik bertanya seperti biasa.

" Indah, ya?" Aaaaaaaaaaarrgghhh! Jelas aku marah, ternyata kami berjemur ria dikereta itu cuma untuk menengok bayi yang bukan siap siapa dia. Ah Putri ini benar benar terlalu. Melihat wajahku yang mirip udang rebus, putri langsung berusaha menetralkan dengan memasukan ku kedalam kulkas kata katanya yang dikit panjang. " Lihatlah, Mi, betapa sucinya mata mereka, mata yang belum berdosa, begitu menyejukkan dipandang." Aku hanya diam sambil cemberut, tapi memang benar juga sih kata katanya tadi.hanya dengan melihat bayi bayi itu begitu menyejukkan.

Hari itu, sehabis kuliah bersama diteras rumahnya yang teduh. Tiba tiba saja putri menatapku serius. " Mi, aku mau cerita." Tentang apa, Put? tentanng penyakit indahmu itu?" Putri tersenyum menanggapi godaanku. " Ya, itu juga. Kau my best friends aku pikir kamu berhak Tahu." wajahnya murung mendadak. Wah serius nih kayanya segera saja aku tak berkata apa apa lagi siap mendengarkan. " Aku anak pungut, Mi," katanya tanpa basa basi. Aku berharap itu cuma gurauan. " Waktu pertama kali diberitahu, aku marah pada semuanya, bahkan juga marah sama Tu...Han."

Aku bertanya takut - takut tak tega " Terus siapa orang tuamu? " " Entahlah, Mi aku ditemukan didepan rumah mama bapaku yang sekarang." tiba tiba saja aku tahu kenapa dia senang sekali dengan bayi bayi yang dirumah sakit. " Maaf, Put, soal dirumah sakit itu. Aku nggak Tau....."

" Nggak pa pa, Mi . Yah dulu memang aku melihat bayi itu untuk mengasihani diri sendiri, tapi alhamdulillah , sekarang aku bisa melihat bayi itu semata mata sebagai keindahan." Aku menatapnya bingnung tak mengerti. Putri mengetahui kebingunganku, ia pun melanjutkan kata katanya

" Aku dapat hidayah-ya, MI."" Hidayah? petunjuk gitu?" ya, dalam kemarahanku waktu itu mama bapa menghadirkan seorang guru ngaji guna menjawab semua kemarahan ku. Aku masih berpikir pikir apa yang dikatakan guru ngaji hingga bisa putri mengindahkan apapun yang ada didepannya. Lagi lagi Putri bisa baca pikiran ku. "Ya, tadinya nasihat dari guru itu kutolak semuanya , masuk kuping kanan ke luar kuping kiri , hingga beliau mengajakku melihat dan mengkaji surat Ar- Rahman."

Wah, aku benar benar tak tahu isi surat itu semakin bingnung aku menoleh ke arahnya.Ar- Rahman?"

" Ya, disurat itu dijelaskan segala macam kenikmatan Dia anugerahkan kepada kita. Di surat itu pula Allah bertanya berulang ulang kali. Dengan khusyuknya putri membaca sebuat ayat " Fabi"ayyi aalaa"irabbikumatukadzdzibaan... Dan nikmat Tuhan yang manakah yang hendak kalian dustakan?" Aku kaget karena putri sudah menangis tanpa suara ." A... aku merasa Allah menamparku, Mi. Aku merasa sudah berburuk sangka pada- Nya. Aku segera memeluk my best friends itu, membiarkan ia menangis dibahuku.

Sejak hari itu, kami makin dekat erat, bahkan aku mulai bisa menikmati keindahan yang dirasakannya. Seperti saat ini. Dari dalam bus kami melihat hujan yang turun derasnya. Saat penumpang lain menatap cemas , kami berdua menghirup aroma indah yang keluar dari aspal panas yang tertimpa hujan, menatap jalan yang indah, berkilat terbersihkan dari debu jalan .Ah betapa indahnya.

tetapi esok paginya dunia sungguh tak indah bagiku, aku menyesal setengah mati, tak menghidupkan Hp dan melemparnya ke laci.Begitu kunyalakan ada puluhan sms dan mailbox , pesan sama dari orang yang sama bapa mamanya Putri. " Putri kecelakaan, tolong cepat datang!"

Aku bergegas menumpang ojek kerumah sakit. Rupanya dimalam itu sehabis pulang bersamaku, putri keluar lagi. " Ingin melihat indahnya bintang katanya," kata mama putri lirih sambil mengajakku kekamar putri. Ia lalu menceritakan betapa ketika itu putri baru saja keluar nunggu angkot tiba tiba saja sebuah truk pengangkut pasir menabraknya. " Dia menyebut terus namamu," Suara mama putri terasa datang jauh dari alam lain. Sebab disaat yang sama aku melihat putri yang sekujur tubunya penuh perban berlumuran darah mungkin kedua tangan kaki nya patah., hanya menyisakan wajah manis yang terpejam , suara yang terdengar hanya suara bapanya membacakan surat yasin penuh keharuan dan suara monitor jantung yang menusuk nusuk kuping.

Ajaib tiba tiba saja putri membuka matanya, begitu melihat kehadiranku, putri langsung mengulas senyum yang kuhapal, tangannya mengisyaratkan agar aku mendekat. Dengan menabahkan hati aku mendekat dan membalas senyumnya, begitu mendekat tangan putri menuju keatas sambil berkata jelas, seolah tak ada sakit yang dideritanya." Mi, yang ini indah sekali kau harus lihat, Mi." tengkukku tiba tiba dingin tak ada apa apa disana selain langit kamar , aku belum mau kehilangan my best friends ya Allah. Suara tasbih yang menyadarkanku, aku pun tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Putri rupanya belum puas , dia masih menunjukkan telunjuknya keatas." Kamu harus lihat , Mi."aku pun mengikuti telunjuknya, menatap keatas lalu ditengah suara monitor jantung berpacu ku dengar lagi suara yang hadir dihari hariku bersamanya " Indah, ya?"lalu diam, senyap tak ada lagi suara putri , suara monitor jantung menjelma sutu tiiiit yang panjang, kutolehkan wajah ke bawah penuh penolakan. terlihat wajah putri yang terseyum dalam diam. Tersenyum dalam Keindahan-Nya.

"Ya, Putri, memang indah aku membantin dalam haru."

" Innalillahi wa inna ilaihiraajiun."
NEXT - Indah , ya ...

Selasa, 01 Maret 2011

0 1 Cafe 5 Curhat

Ketika remang senja telah sempurna menghilang berganti kelam langit tak berbintang. Cafe franchise justru kian jelita bermandikan lampu lampu yang ditata apik memancarkan atmosfer romantisme megah dan berkelas.Kursi kursi diarea teras dan dalam cafe pun penuh sesak dibanjirin pengunjung yang bercanda riang satu sama lain, atau sekadar duduk manis menikmati sajian,beberapa kelompok tamu yang baru tiba terpaksa celingukan mencari meja kosong.

tokoh 1 . Seorang pria tampan awal tiga puluhan yang duduk dimeja nomor 17 deket jendela cafe.

Pria ini mengenakan kemeja biru dan berjas, necis, tampan, rapi, khas golongan ekskutif muda.Gelisah ia. Berulang kali dilirik arloji yang melingkari pergelangan kirinya, mendesah mengalihkan mata kejalanan macet diluar jendela, sesekali memainkan keypad blackberry keluaran terbarunya, lalu menyeruput secangkir kopi yang menemaninnya dari beberapa menit lalu.beberapa kali blackberrynya menjerit dan selalu dijawabnya dengan pesan yang sama " Nanti ku telepon balik dari rumah, pukul sembilanan lah . Kamu kan tahu jam segini aku pasti ada di Cafe menunggu kemacetan sedikit mereda Oke..?"

Haduh, kapan sih jalanan tidak lagi macet benaknya, belum lagi angkot yang seenaknya berhenti naik turun penumpang, ditambah again jalanan yang berlubang, Payah pemerintah kota semua tidak ada yang beres kerjanya.

Eh, hujan turun ? celaka ! pakai hujan segala sih, tambah macet kalau begini. Nyampe rumah jam berapa nih ? Hah....

Kacau ! bosen mengumpat menyalahkan orang yang ditudingnya bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang tiap hari dialaminya.

Pria tampan tadi mulai berandai andai, asyik juga kalau ada sopir pribadi pasti ga harus cape cape mengemudi, tapi lebih Sip bila kantorku didepan rumah , atau Ehm aku menang lotere 10 Milyar wow bye bye bye banting tulang ! ia senyum senyum membayangkan khayalannya terwujud, Ah tak mungkin hidup memang tak pernah adil bagiku.

Tiba tiba matanya tertarik pada seorang pemuda yang mengemudikan sebuah mobil merah berlogo kuda jingkrak dari negera menara PISA. Fiu ! pria tampan tadi bersiul , jalan boleh macet namun berada dikokpit mobil itu pasti tak ada istilah lelah mengemudi.Hebat cowok itu , masih muda sudah sukses aku ingin menjadi dia. Andai dia adalah aku bahagia pasti !

Bruk !

"A... duh, maaf tuan, saya tidak sengaja. " Sebuah suara mendadak membuyarkan lamunan. Seorang Bapak paruh baya pucat pias berupaya dengan tangannya mengeringkan celana mahal pria tampan itu yang tersiram kopi. aget bercampur marah, pria itu spotan berdiri Heh, amu buta ya ? ditaruh dimana matamu ? Gila ! pria tampan tadi terus memaki tak memperdulikan lagi tatapan belasan pasang mata pengunjung cafe, Seorang laki laki berseragam karyawan menghampiri dan berusaha menenangkan pria tadi, Name tag bertulis Manajer tersemat di seragamnya.

Maaf Tuan maaf sekali atas kejadian ini , dia karyawan baru , Saya atas nama cafe amat menyesalkan insiden ini, Namun jangan khawatir, Tuan kami akan mengganti segala kerugian Tuan.

Plak ! tanpa sempat dicegah tempelengan mendarat di Bapak paruh baya itu, yang dengan cepat berjalan keluar Cafe.Sementara Manajer cafe itu hanya bisa mendesah iba penuh sesal.

Tokoh 2 . Seorang pemuda didalam kokpit mobil sport berlogo kuda jingkrak

Pemuda tadi imut, terlihat terpelajar amat cocok mengendarai si kuda jingkrak ini , namun tak seorang pun menduga bahwa ia bukan pemilik mobil itu, pemuda imut tadi bekerja disebuah bengkel mobil impor bagian pengantaran pastinya, ia bertugas mengantarkan mobil yang selesei di service pada pemiliknya. dan seperti hari hari biasanya pemuda itu juga terjebak kemacetan,nyambil memindah mindahkan frekuensi radio dia mulai menggerutu, mengapa semua memilih pulang kerja berbarengan ? gantian gitu lho..!

Aduh hujan lagi, sempurnalah kesialanku hari ini setelah macet harus mencuci mobil canggih ini ditempat siempunya lagi nanti. Tanpa sengaja matanya perhatikan sebuah cafe disamping jalan,penuh rasa iri dipandangin pengunjung yang memasuki cafe. Ah kapan aku bisa makan dicafe seperti itu ? Huh memang dunia tak adil aku cuma lulusan SMU mana mungkin seperti mereka ? menjadi sopir itu satu satunya yang dapat kulakukan. Mobilnya belum juga bergerak matanya pun masih terpaku pada cafe, tiba tiba sebuah sepeda motor berbelok memasuki halaman cafe kemudian berhenti didepan pintu bertulis Staff only, pengemudinya turun lalu mengambilnya sesuatu dari dalam boks, bergegas masuk kedalam cafe tadi.

Hmm , pengantar pesanan, benaknya enak juga pekerjaan itu, sama sama pengantar tapi dia bebas macet, kemana mana naik motor, jam kerja juga jelas, udah ada jadwal pelanggan mana yang di tuju ,lagi lagi pemuda itu membandingkan tak puas ia akan takdirnya. Mendadak ekor matanya menangkap keributan didalam lewat jendela besar cafe. Seorang Pria berkemeja menempeleng keras seorang bapak paruh baya .Eh ada apa ya ! ia bertanya tanya dalam hati, tak urung ditatapnya terus bapak tadi yang bergegas keluar cafe dan setengah ragu saat hendak menyeberang jalan. Ia melambai lambaikan tangan, pemuda di dalam senyum mengejek takut amat tertabrak sih pa ? macet begini siapa yang bisa maju ? Dasar kampungan.

Tokoh 3. seorang remaja pengantar pesanan yang mengemudikan sepeda motor boxnya.
Remaja itu mengenakan jaket hitam bergambar logo perusahaan,lincah ia mengendalikan motornya dilengkapin helm fullface menutup sempurna wajahnya, belai rintik hujan diacuhkan begitu aja.Hah... tiap hari rutinitas serupa keluhnya di hati, jalanan macet berdebu mesti kujelajahi untuk mengantar barang barang bodoh ini.Baru nyampe ? sapa seorang pelayan cafe yang menerima nota tanda terima plus uang darinya. Ya macet luar biasa diluar. Bagaimana pengunjung ramai? yup beginilah setiap malam kerja melayani tamu demi gaji ala kadarnya pelayan cafe itu dengan nada kurang ramah. Remaja tadi hanya cengengesan, gaji ala kadarnya gimana? lha wong pengunjung cafe tajir semua tipnya pasti gede tak dapat dibandingkan dengan gajiku yang UMR dong,mereka sih enak ada tip dan sesekali bisa bawa pulang hidangan lezat dari cafe, sementara aku harus mengukur jalan dan tip dari mana?
Ia berandai andai sembari sirik seorang pelayan membawa nampan pesanan kesalah satu meja tamu cafe.Ah aku ingin bertukar tempat dengan dia kalau bisa, dunia memang tak adil padaku remaja itu menghela nafas.

Tokoh 4. Seorang pelayan cafe yang tengah membereskan sebuah meja yang baru saja ditinggalkan pengujung.
pelayan berseragam putih itu tampak necis dengan rambut pendeknya disisir rapi cekatan ia menempatkan piring gelas kotor ke atas nampan lalu mengelap meja hingga bersih. Tak nyampe satu menit pelayan tadi telah berjalan kembali ke dapur cafe." Meja 17 !" seru seorang koki dari dapur sambil menunjuk sebuah piring dan secangkir pesanan pelayan itu tak menjawab lalu membawa pesanan pengujung di meja 17 tadi ke depan. Huh mau maunya aku berprofesi seperti ini, merendahkan diri melayani orang orang bodoh berkantung tebal yang enteng membuang puluhan ribu hanya demi secangkir kopi, dan aku seorang sarjana yang terjebak dicafe ini.susah payah kuliah di universitas hanya untuk ditolak kerja disana sini.ujung ujungnya jadi pelayan,aku tak pantas bernasib sehina ini.
" Silahkan tuan " dipaksakan senyum ramah saat menghidangkan pesanan meja 17.Baru saja pelayan tadi hendak pergi pengunjung itu memanggilnya, Hei...hei..kamu ngga tahu saya pelanggan cafe ini ya? mana krimernya sana"ambilkan.!"
" Segera tuan," nyambil memaksakan seulasan senyum, kesel campur kangum juga pada pengunjung meja 17,sombong tapi dia berhak angkuh seorang eksekutif, kaya,berkuasa, punya pengaruh, apa lagi kurangnya..? andai aku seperti dia, alangkah senengnya, semua bisa ku beli.ya, olehku seorang sarjana.
Tokoh 5. seorang bapak paruh baya yang sedang menyeberang depan cafe dibawah gerimis
Kemeja lusuh yang dipakai sudah agak basah saat ia berhasil mencapai sebeerang, gerakannya takut takut saat menyelinap disela mobil mobil yang berbaris padat merayap karena macet, ketika itu matanya menangkap bulan sabit dari arah sebuah gang kecil sebuah panggilan gaib menariknya mendekat tanpa bisa nolak bergegas ia memburunya. "Alhamdulillah," kalimat itu yang keluar dari mulutnya ketika tiba disebuah mesjid didalam dua orang menjadi makmum jamaah shalat isya, ia bergegas mengambil wudhu lalu turut menjadi makmum.Setelah salam bait bait doa ia panjatkan. "Ya Rabbi,mudahkanlah segala urusan anakku amanatMU yang telah kau ambil minggu lalu, ampuni dosa dosanya dan terima amalnya."Ya Rabbi, anakku bukanlah orang yang kaya namun ia tak miskin budi pekerti,anakku bukan juga sarjana yang pintar tapi ia mampu mnengajariku ilmu yang bermanfaat."Ya Rabbi anakku bukan orang penting dimata manusia ia hanya seorang petugas kebersihan rendahan, namun ia anak yang shaleh yang tak pernah mengeluh sulitnya hidup kami melainkan kata penghiburan yang terucap padaku sebagai penawar."Ya Rabbi terangkanlah hatiku karena kebodohan kami belum mampu mengikhlaskannya penuh tawakkal...
NEXT - 1 Cafe 5 Curhat

Followers

YM

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform