Kamis, 01 Agustus 2013

3 Rumah ....

"Innalillahi wa innalillahi rojiun"
 Kalimat pertama yang terucap dibibir dengan hati bergetar saat berita duka datang mengguncang Senja. Suara sedih bude diujung telepon, seakan melayang diatas awan. Separuh tak percaya tapi bener terjadi, berusaha menyimak baik - baik. " Kabari adik - adikmu ya, Nik. Bude disini urus jenazah Bapa dan Mama jadi sampai Bandung Tinggal dimakamkan."
"Ya Bude, terimakasih,"bisiknya lirih.
" Kamu harus tabah, Nik, demi adik-adikmu,"kata Bude lagi.Setahu Nika,sebetulnya bude juga berkata itu untuk menguatkan dirinya sendiri.Kepergian mendadak menyentakan kesadaran bahwa umur titipan tuhan, tak pernah bisa ditebak kapan diambil oleh sang pemilik.
"Ya,Bude, terimakasih," ulang dengan suara tersendat. Beberapa detail pengurusan jenazah disebut Bude berikutnya sudah tak bisa dingat lagi hanya pasang tenda dan pesan makam yang membekas,tak peduli apalagi isi pesan itu , segera memeluk Andi yang sedari tadi memandangnya dengan penuh cemas.
" Bapa, Mama...kecelakan mobil...meninggal di Solo," katanya terbata- bata disela air mata yang tumpah dipelukan Andi tunangannya. Andi Memeluk Erat dan terhanyut dalam kesedihan tunangannya.Calon mertuanya pasangan yang sehat dan bahagia. Minggu kemarin beliau antusias menghadiri pesta pernikahan putri Bude di Solo. Sementara sebari memeluk , Andi berusaha menegarkan tunangannya." Ikhlaskan Ade...relakan.Ingat adik-adikmu."
Perlahan-lahan, Nik mengangguk,bersadar pada pundak Andi, dan mulai menelepon Adik adiknya, Gita dan Gilang,berserta kerabat, dan sahabat yang lain. Tangis pecah dimana mana.Memacu mobil menuju rumah di wilayah Bandung selatan.

Pukul Sembilan malam berdentang, Gita tiba dari Jakarta. Dia menjerit - jerit, " Apa kubilang, apa kubilang! harusnya naik pesawat saja ndak usah mobil sambil menangis dalam pelukan Nika.
" Aku ndak rela mbak, aku belum bisa bahagiakan mereka.Mbak ingat, betapa aku mengecewakan bapa mama dengan nekat kabur ke jakarta untuk menjadi model. Masih Banyak " Mbak ingat..." diucapkan Gita disela isak tangisnya. Kepergian mendadak menyadarkan Gita akan rasa sesal karena telah menggoreskan kekecewaan dan kesedihan di hati orangtuanya. Sementara ada sosok yang nyaris luput dari perhatian, seorang bungsu bernama Gilang. Dia duduk disudut rumah dengan hati tak kalah retak.Berita ini mengejutkan, Dia ndak siap, tak sanggup untuk siap. Dalam ruang keluarga tempat berkumpul saat ini, air mata mulai menetes satu demi satu.Gilang membayangkan wajah teduh mama yang begitu tulus mencintainnya tanpa syarat walaupun narkoba telah merusaknya, wajah tegas bapa pun terbayang didepan walaupun pada awalnya bapa sangat marah tapi beliaulah yang sibuk mencari beberapa tempat rehab agar anaknya terbebas dari narkoba.Berbeda dengan Mbak Nika dan Mbak Gita yang menganggapnya sampah keluarga yang ndak berguna.Jika Mbak Gita dengan air matanya berhasil menarik perhatian simpati dan rasa kasihan sanak saudara yang melayat malam itu, Gilang lebih nyaman sembunyi dibelakang Mba Nika yang tabah menerima ucapan duka cita dari seluruh keluarga. Para tamu memeluk dan menghibur Mbak Nika dan Mbak Gita serta mengusap usap kepala gilang seakan mempertanyakan, kasihan kau adik kecil bagaimana masa depanmu setelah bapa dan mama tak ada. Tangis masih pecah dimana mana.

Hari berganti hari, bulan berlalu. Mbak Nika kembali sibuk dengan perusahaan yang dikelola olehnya sejak tiga tahun lalu sebelum bapa tiada. Mbak Gita sudah kembali ke Jakarta, menerima kenyataan bapa mama berpulang dan kembali sibuk dengan perkerjaan modelnya.Hanya Gilang yang masih Galau dan akhirnya datang menemui Mbak Nika untuk bicara.Gilang Juga mengundang Mbak Gita untuk datang, ada rapat keluarga begitu Gilang bilang pada mbak mbaknya.
" Mbak, Aku meminta pendapat mbak," Gilang mengawali rapat keluarga
"Soal?" tanya Nika nyaris tak peduli
"Kita harus apakan rumah ini?"
"Maksud kamu ?" tanya Nika alis terangkat.
"Kamu kan yang bakal tinggal disini, urus saja rumah itu," kata Mbak Gita datar.
"Aku tidak bisa kalo biayain rumah ini sendirian. Listrik mahal, Air juga mahal , pembantu sama sopir sudah aku berhentikan semua. Mbak kan tahu beberapa sih penghasilan fotocopy gini."
" Jadi ini semua soal uang? Kamu ingin mbak bantu biayain rumah itu?" tanya mbak Nika dengan nada tinggi.
Inilah akibatnya narkoba !
" Daripada pusing, kita jual saja,lalu kita bagi."usul Mbak Gita tiba tiba
" Terus? Bagaimana kita membaginya?
" Bagi bertiga sama rata,Beres,kan," kata mbak Gita
" Menurut hukum Islam , hak perempuan separo hak laki laki," Gilang berusaha membagi ilmu yang iya dapat di tempat rehab berbasis pesantren, tanpa niat buruk apapun. Gilang tak menyangka Mbak gita akan marah gitu.
"Dasar Bocah!" Senaknya saja bicara, aku mau hak yang sama, sudah banyak uang bapa mama yang kau habiskan untuk mengobati narkoba." Mbak gita berapi- api.
" Gilang cuma menyampaikan yang benar," kata Mbak Nika menengahi.
Kemarahan Mbak Gita segera berpindah arah. " Mbak juga serakah ! sudah Bapa kasih Perusahaan masih juga mau pembagian rumah.
Tuduhan Mbak Gita menyulut kenyataan yang Mbak Nika pendam selama ini.Dengan nada tinggi " ini bukan mauku!!! ini juga bukan pilihanku!!! Bapa mama tidak punya pilihan lain tidak bisa mengandalkan kalian. Cuma aku yang bisa diandalkan.Cuma aku!!!
Gilang dan Mbak Gita cuma bisa tertegun mereka ndak menyangka , Mbak Nika bisa begitu emosional.
Beberapa menit berlalu dalam kebisuan.Dengan suara bergetar " Aku sendiri punya impian memiliki travel seperti temen kuliahku , Aku korbankan impian buat meneruskan bisnis bapa. Kalian ingat,cuma aku yang ada di sini. Cuma Aku! Coba Tanya diri masing masing tiga tahun kalian dimana ?"
Mbak Gita membuang muka kejendela, Gilang cuma tertunduk mereka tak menyangka kemarahan mba Nika seperti itu. Mbak Nika bener tiga tahun lalu kita cuma dia yang ada.Mbak Gita dijakarta sibuk dengan kegiatan Model sedangkan Gilang asyik dugem narkoba.
Pertemuan keluarga ini berakhir buntu." Kita ketemu lagi Lusa dikantor om Robby, Mbak sampaikan dulu pada beliau mungkin beliau bisa bantu" ujar mbak Nika. Mbak Gita pulang dengan rasa kesal dan Gilang Pamit pulang sambil berbisik ok Mbak lusa Insya Allah aku datang. Om Robby adalah seorang notaris dan pengacara yang biasa membantu perusahan untuk urus urus surat kontrak dan lain lain.

Ketika Lusa akhirnya datang juga, Mbak Gita datang tepat waktu ke kantor Om Robby. "silahkan duduk dulu, Bu. Pak Robby segera turun," kata seorang perempuan manis. Perempuan itu April asisten Om Robby, dia mempersilahkan untuk duduk diruang meeting yang telah disiapkan.
"Sudah datang Mbak dan adikku?" tanya Mbak Gita ketus
" Maaf, Bu. Baru ibu yang datang." kata April sambil tersenyum
Untung Pak Robby segera datang sehingga April langsung berlalu. Didepan pintu hampir menabrak seseorang.
"Maaf ,saya terburu buru. Om Robby ada ?"
"Sudah diruang meeting dengan ibu Gita, Pak," kata April
Sebuah suara lembut milik mbak Nika terdengar, " Gilang,tunggu mbak!"
April segera mempersilahkan Nika dan Gilang ke ruang meeting.

Pertemuan dimulai dengan kata- kata Om Robby ." Seperti yang diminta Nika kemarin, Om sudah mengumpulkan kembali semua surat surat legal peninggalan bapa dan mama kalian. Bapa dan mama kalian tidak meninggalkan surat wasiat.
"Kami berencana menjual rumah itu Om, Karena Gilang sudah tidak sanggup merawatnya." kata Nika membuka
"Boleh saja ,Pasti cepat laku karena letaknya strategis." kata Om Robby
"Bagaimana mengurus pembagiannya,Om? untuk itulah kami datang kesini meminta pendapat om," kata Gita cepat.
"Om Robby mulai dengan hati hati menjelaskan, Om sudah kumpulkan semua akta akta yang pernah dibuat bapa kalian namun dari surat surat itu sebagian mengenai perjanjian bisnis dan penunjukan Nika sebagai Presiden direktur disana menggantikan Bapamu.Seperti yang kalian tahu ini sudah berjalan tiga tahun.
"Bapa tidak pernah meminta pendapatku tentang pengangkatan Mbak Nika jadi presdir, dan mewarisi seluruh aset perusahaan." kali ini Gita menggygat.
Muka Mbak Nika memerah menahan marah. Nika hanya berucap, " Bagaimana pendapat Om Robby?"
"Itu hak Bapa kalian. Om rasa tidak perlu meminta pendapat Gita. lagi pula saat itu, kamu ngga ada , justru dulu om yang memberikan masukan agar pengangkatan itu disahkan notaris , supaya secara hukum bahwa itu kehendak bapa kalian."
"Jadi Bapa tidak meninggalkan surat wasiat tentang rumah itu?" kali ini Gilang Bicara
" Sayangnya, begitulah.
" Karena Bapa dan mama kalian tidak meninggalkan amanat apa pun, tentu saja om kembalikan kepada kalian bagaimana pembagiannya, apa mau sesuai syariat Islam atau kalian punya kesepakatan sendiri.Om nanti yang bantu urus legal jual beli dan surat suratnya.

Pertengkaran kembali pecah. Gita yang emosi karena gugatan tentang perusahan yang diwariskan ke mbak Nika di mentahkan om Robby . Gita bersikap keras agar penjualan dibagi rata sama besar. Gita keluar sambil membanting pintu sambil memaki. Sementara Nika tersinggung dengan sikap adiknya yang tidak menghargai usahanya untuk mempertahankan perusahaan ini dan mengorbankan mimpinya sendiri, Nika pun keluar ruang dengan rasa kesal.Hanya Gilang yang tinggal sejenak menikmati kopi bersama om Robby lalu pamit pulang.

Waktu berputar, hari bergulir, minggu berlalu dan bulan berganti, Gilang didera gelisah karena tidak kunjung ada putusan nasib ini rumah akhirnya dia berkemas lalu menerima ajakan temennya untuk kerjaan di Surabaya.
Musim berganti dan dua tahun berlalu, Walau sudah betah di surabaya kerinduan akan kota kelahirannya membuat Gilang kembali ke Bandung.Sekadar ingin melihat rumah yang penuh kasih sayang dulu Gilang mampir, terkejut didepan pagar nyaris habis berkarat, atap mulai runtuh menyisikan dinding dinding berlumut. Gilang merasa sedih ,hatinya pedih mendapati kenyataan dia tak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan rumah itu. Sedih tidak merubah sesuatu akhirnya Gilang nekat menemui Mbak Nika.

Nika menyambut dengan hangat, lama tak bertemu membuat mbak nika ingin tahu keadaaannya. "Gimana kerjamu di Surabaya?" tanya Nika basa basi.
"Sungguh menyenangkan Mbak disana. Aku Betah dan senang tinggal dan kerja diSurabaya.
" Mbak , bagaimana jika kita buatkan bapa dan mama rumah disurga?"
Nika berpaling." Maksudmu?"
" Rumah Bapa dan mama daripada ngga terawat dan ambruk, lebih baik tanahnya kita wakafkan saja , lalu dibangun mesjid!" kata Gilang Semangat.
Kalimat yang diucapkan Gilang dengan mantap itu ternyata membuat Nika kagum, Subhanallah ,benarkah Gilang Adikku yang berucap begitu?"
Nika jadi malu sendiri , sebelum ini dia selalu merasa lebih baik dari adiknya tanpa ragu Nika setuju dengan usulan Gilang, ini kesempatan berbuat baik buat bapa mama yang telah tiada dengan membuat rumah disurga.

Pertemuan Selanjutnya digelar kembali di kantornya Om Robby. Gita yang mendengar rencana pembangunan masjid itu datang dengan kesal.Nika mengawali pertemuan dengan , " Gita, seperti yang mungkin sudah kamu dengar, aku dan Gilang berniat mewakafkan tanah rumah bapa dan mama membangun mesjid, aku yakin kamu juga akan setuju.
Hal itu justru membuat Gita kesal dan balik marah." Mbak, tanah itu, rumah itu lebiih bermanfaat buat kita yang masih hidup. Mbak bisa mengembangkan perusahaan. Aku bisa menambah modal untuk outlet baruku.
Om Robby segera menengahi." Kalian bertiga harus sepakat untuk melepas hak atas tanah itu.jangan sampai ada sengketa tanah dikemudian hari. Gita geram dan mengganggap pertemuan ini akan sia sia tidak akan mencapai titik temu seperti sebelumnya terjadi. Akhirnya Gita berlalu meninggalkan ruangan dengan emosi.

Om Robby mendekati Nika dan Gilang lalu berkata, " Kita coba minta bantuan Bude? mungkin beliau bisa yakinkan Gita buat tanda tangain surat menyurat legal pembangunan mesjid.Sebulan berlalu tanpa kepastian. Nika dan Gilang hanya bisa mendengar kabar Bude mengajak Gita umroh melupakan kesedihan atas kepergian bapa dan Mama. Namun saat keduanya pulang Bude membawa kejutan. Bude berhasil membujuk , Gita setuju menandatanganin surat surat itu melepaskan haknya atas lahan dan menyetujui mewakafkan tanah untuk pembangunan sebuah mesjid.

Nika dan Gilang kembali antusias dengan proyek ini, Nika meminta tolong temen - temen arsiteknya untuk mendesain masjid dengan konsep hablu minalallah, hablu minanas . Mesjid dibangun dua lantai.Gita tak pernah menengok proyek pembangunan mesjid. Tepat tiga tahun berpulangnya bapa dan mama, masjid itu telah tegak berdiri dengan indahnya.Sejak matahari pagi masih malu tersenyum, masjid mulai rame dengan kedatangan orang yang berkumpul.Suara ayat ayat suci dilantunkan dengan indah menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya. janur kuning yang melengkung disudut pagar pintu masuk menandai hari ini adalah hari bahagia.Hari ini Mbak Nika akan menikah. Dia dipersunting oleh Andi , Seorang Penerbang salah satu maskapai ternama. Keluarga pengantin wanita sudah siap diruang serba guna masjid. Gilang menyapa saudara saudara dengan hangat berusaha menjadi tuan rumah yang baik.Suasana hangat kekeluargaan itu dikejutkan oleh Gita yang kembali hadir dengan berurai air mata masuk keruang serbaguna dan langsung memeluk Mbak Nika."Maafkan Gita , Mbak. Maafkan Mbak," cuma itu yang sanggup terucap sambil sedu. Gilang memandang kejadian heboh itu dengan heran.Setelah menunggu tenang barulah Gita berucap " Sebetulnya Gita sering kesini.Luar biasa. Ini mesjid yang indah, tapi aku terlalu gensi untuk bertemu kalian."Sampai dengan semalam, aku bermimpi bapa dan Mama datang dalam mimpiku, mereka tersenyum, memelukku dan berbisik, terimakasih telah membuatkan kami rumah disurga" dan tangis perempuan itu kembali pecah,air matanya kembali berlinang.Nika mengusap matanya yang basah, Gilang sudah lebih dulu menangis sambil memeluk erat kakak perempuannya.Ingatan mereka bertiga kembali melayang pada bapa dan mamanya yang telah mewariskan hal besar yang mereka butuhkan.Mereka memerpercayai Nika memimpin perusahaan, merestui Gita jadi model dan menyembuhkan Gilang dari narkoba,semua berarti banyak buat masing masing, Kini saatnya membalas semua kebaikan bapa dan mama dengan membangun sebuah rumah disurga.
NEXT - Rumah ....

Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform