Senin, 06 Agustus 2012

kisah sederhana ojek payung .....

Bandung memang bukan kota hujan tapi akhir akhir ini hujan sering menyapa , kadang menguyur deras , kadang hanya merintik kecil.Sedia payung sebelum hujan kayanya bukan sekedar pepatah melainkan suatu solusi bagi masalah ,gimana ndak masalah kalo kita lupa bawa payung kan bisa gawat rencana bisa bisa gagal tengah jalan. Sore ini aku lupa bawa payung ujung ujungnya kan masalah pastinya , Untungnya kali ini masalah itu justru memberiku sebuah hikmah , Hikmah sebuah peristiwa yang amat berkesah.
Aku bekerja delapan jam sehari dari delapan pagi hingga empat sore ,karena laporan ku belum selesai terpaksa lembur sambil nunggu hujan ,sekitar jam enam hujan mereda sehingga aku buru buru pulang takut hujan tambah gede. Benar saja begitu naik angkot hujan kembali, hingga turun angkot hujan pun belum reda , terpaksa aku jalan kaki menuju rumah karena becak ndak ada pada narik semua.
Baru saja berjalan beberapa langkah , seorang gadis kecil menghampiri sambil menawarkan jasa ojek payung, sempat akan kutolak , namun melihat tubuhnya menggigil akhirnya kuterima juga tawarannya. Dalam perjalanan gadis itu selalu berjalan di belakangku atau menjauh dari dari payung yang ku pegang , kayanya ada rasa sungkan berdekatan dengan ku barulah ketika aku menarik lengannya dan mengajak ngobrol ia mendekat .
" Teh , teu aya anu ojek payung titadi," katanya mulai curhat
" Masak sih ?" pan hujanan tos titadi ma enya teu aya nu ojek payung
" muhun teu aya da payung abdi na alit teh, payung anu ageung di candak  ku si aa " keluhnya
" alim uwih sieun ku bapa di ambek lamun teu nyandak  artos ."
aku menatap wajah gadis itu beberapa saat , ia mulai bercerita keadaan rumahnya rasa ibaku mulai menyentuh ."  Abdi anak ka dua ti lima wargi teh , bapak jualan asongan emak buruh Nyeseh baju " katanya menjelaskan.
" Ooh.." hanya itu yang keluar dari mulutku, sisa belok menuju rumah dilalui tanpa kata. Sesampai depan rumah kuselipkan selembar uang dua puluh ribu ketangan gadis itu dan segera masuk. Namun gadis itu memanggilku mengembalikan uang sisanya, ku bilang padanya ambil aja kembalinya dan kulihat matanya berkaca kaca , ia mengucapakan  " hatur nuhun teteh hatur nuhun  sambil lari meninggalkan ku.
Aku menghela nafas , teringat akan adik ku  , Aku bersyukur pada Allah bahwa aku dan adik adikku tindak mengalami apa yang terjadi pada gadis itu meksi pun hidup kami pun sederhana , masa kecilku dan adik adik jauh lebih beruntung darinya , satu nikmat yang selama ini jarang aku syukuri.
Ternyata ada banyak hal disekitar kita yang patut kita nikmati dan syukuri, seperti kisah ojek payung sore ini , mungkin selama ini aku terlalu tenggelam dalam kesibukan kantor , hang out , ngebolang yang seolah tiada habis , hingga tak lagi peka terhadap keadaan di sekelilingku. Padahal seserdehana apapun kejadian harus dapat mengembalikan ruang kesadaranku untuk memaknai hidup kita di dunia ini.

# lagi lagi coret coret ndak jelas malam malam ....^_^

3 komentar:


Santi Santika Wahyuni mengatakan...

Ya, kadang kita lupa untuk bersyukur..
Miris terkadang di Ibukota (Jabar) justru disanalah banyak sekali mereka yg membuat kita miris melihatnya..

Salam kenal Teh :)
Sofia juga tinggal di Bandung qo..

:)


Sri Efriyanti Az-zahra Harahap mengatakan...

Subhanallah...
Membaca postingan ini, jadi semakin bersyukur dalam kondisi yang lebih baik dari si adik penggenggam payung :)

Postingannya bagus dek Esti, menginspirasi.

Tapi beberapa bahasanya ada yang nggak kakak ngerti. Hehe...


Zeal*Liyanfury mengatakan...

bersyukur adalah kata yang sangat mudah diucapkan namun terkadang sulit dalam pelaksanaannya.sungguh beruntung yang dapat mengambil hikmah syukur ini.. #hmm.. sambil mengingat-ingat, kisah ini rasanya... *pernah jg teralami depan BSM, hee..^_^


Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform