Senin, 08 April 2013

Mika ...

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita yang sama sekali tidak kita mengerti. Pagi ini , lagi lagi aku melewati jalan ini, seperti hari hari yang lalu. Tergesa - gesa menuju kantor tersayang, tanpa sempat sarapan, tanpa sempat lirik kanan kiri, tanpa sempat memikirkan hal lain, hanya soal waktu. Aku tahu akan terlambat lagi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit.
Seorang penyapu jalan muncul disana. " Wanita itu lagi " keluhku, seolah olah wajahnya sudah begitu akrab dimataku. Setiap kali aku lewat sini, selalu kujumpai ia. Dan entah kenapa, ketika memandangnya, semua resahku mengenai keterlambatanku pupus sudah,berganti dengan pikirian mengenai wanita itu. Siapa ia ? dimana rumahnya ? sudah bersuami kah ? berapa anaknya? cukup kah gajinya?
Aku melengos ketika pandangan mata kami bersapa. Kupercepat langkahku. Aku tak mau tahu mengenai siapapun saat ini. Aku hanya ingin cepat sampai kantor kesayanganku.
" Terlambat lagi, " tegur mbak Ririn my bos rangkap kaka tersayangku juga tepat ketika hatiku hendak melonjak gembira karena mengira tak satupun yang melihat terlambat. Langkah ku terhenti tepat diambang ruanganku." Maaf, Mbak," jawabku dengan raut menyesal. Mbak Ririn mendekat. " Ini sudah berkali - kali, Mika!"
  " Ya, aku tahu," desahku.
 " Mungkin kita perlu bicara mengenai ini, Mika."
 " Ya", sahutku lemah, aku segera masuk ke ruanganku sesaat setelah mbak Ririn meninggalkanku. Bukan kemauanku datang terlambat. Aku tak sengaja, Kuhempaskan diriku keatas kursi. Disebelah ruangan terdengar telepon menjerit, sesaat kemudian terdengar suara Dewi. Pagi pagi sudah begini ribet, keluhku.Aku hanya menginginkan kenyamanan, hanya ingin sedikit celah ditengah kesibukanku. Mungkin aku butuh refreshing. Apa aku ambil cuti saja barang seminggu? Tapi tak mungkin, bantahku kemudian, lantas siapa yang akan menghandel kerjaanku ? Aku tak rela bila orang lain yang menanganinya, meskipun itu mbak ririn sendiri. Telepon diatas mejaku menjerit dengan malas kuangkat.
" Ya, halo." ujarku.
"Mbak Mika, ada telepon dari Pak Raul," ujar Dewi.
 Pak Raul adalah salah satu pengusahan terkenal di bandung. Dua hari yang lalu aku buat janji ketemu dengan beliau." Ya, boleh deh." jawabku
" Assalamualaikum, Pak Raul,"  sapaku kemudian ketika telepon tersambung dengan Pak Raul.
"Alaikumsalaam, Mbak Mika, gimana kabarnya?"  "Alhamdulillah, baik."
" Begini, saya mau minta maaf dulu nih, Mbak Mika.
" lho, kenapa, Pak? " tanyaku heran.
" Mengenai janji kita tempo hari, kebetulan rabu besok saya akan ke Semarang untuk seminar, undangannya baru datang kemarin sore, jadi maaf sekali, saya nggak bisa nepati janji.
"Aku terdiam seketika. Bukan hal yang mudah janji ketemuan sama beliau.Aku berpikir sejenak, sekarang hari selasa, lalu melirik jam, sekarang setengah sembilan lewat sedikit.
" Bapak bisa ketemua hari ini?"
" Maaf sekali, hari ini penuh sampai sore. Nanti malam saya juga sudah ada janji dengan Pak Yadi.
 " saya jamin ketemunya hanya setengah jam, " ujarku.
" setengah jam mungkin mungkin waktu bapak tempuh untuk mencapai rumah Pak Yadi."
Hening sejenak. Masih hening, hampir saja hatiku mencelos, tapi kemudian terdengar suara Pak Raul.
" Anda bisa datang ke kantor nanti jam dua siang, tunggu saya di kantor.Hatiku melonjak.
" Ya, baik, Pak ."
" Tidak, kurang , tidak lebih , hanya setengah jam."
" Beres," aku tersenyum.
Sebentar kemudian hubungan terputus. Masih ada waktu enam jam lagi untuk bertemu Pak Raul, kuhidupkan komputer, kucari file gambar Ruangan Pak Raul.
Aku seorang Desigen interior,salah  satu dari desigen  di tempatku bekerja. Aku diberi tugas menggarap proyek kantornya Pak Raul yang baru. Beruntunglah aku dibantu Dewi salah satu staf dikantor, juga Revi dan wawan yang selalu siap kapanpun. Lagi lagi telepon berdering, ku jangkau telepon,
 "Ya halo, " ujarku kemudian.
" Mbak, ada Revi. "
" Ya, " jawabku, sebentar kemudian hubunganku dengan Revi tersambung.
 " Apa, Vi? " tanyaku. Revi menyebutkan tempatnya berada kini, lalu mengabarkan keadaannya .
" Tunggu disana, Vi, kakak segera kesana ! " ujarku.
" Ya, Kak."
kututup telepon, lalu mematikan komputer. Aku bergegas pergi.Ada demo pekerja di proyek Pak David , sambil menuruni tangga aku memikirkan jalan terpendek untuk mencapai proyek Pak David, satu yang terpikirkan olehku adalah jalan  yang sering kulewati tiap hendak ke kantor. Aku bergegas, pikiranku dipenuhi banyak hal. Ini salah satu proyek spesial pesanan khusus mba Ririn harus sukses kalo gagal bisa gaswat. Oh ya dimana wawan ? Soulmate andalanku itu ? Cepat kuambil ponselku  lalu menghubungi wawan.
"Wan, kamu dimana?" tanyaku ketika hubungan tersambung.
" udah di proyek Pak David Mbak." jawab Wawan.
" Bagus, aku segera kesana."  kumatikan ponselku, langkahku makin cepat. Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan pertanyaan kenapa bisa demo tuh para tukang.
" Pagi, Mbak," seseorang menyapaku.
" Pagi," jawabku acuh, kupandang sekilas orang yang menyapaku. Wanita penyapu jalan itu! reflek aku berhenti, lalu berbalik.
" Lagi tergesa - gesa ya, Mba? " sapa wanita ramah. Aku memaksa sebuah senyuman lalu berbalik kembali ketujuanku semula.Namun pikiranku tidak ke proyek Pak David lagi, selalu begitu wanita itu senantiasa mengusikku dari waktu ke waktu.Siapa dia ? dimana dia tinggal ? sudah berkeluarga ? cukup kah penghasilannya ?.
" Tak semua hal bisa kita pahami, sayang." ujar ibu suatu ketika, dulu sekali, sebelum beliau wafat.
 " Tapi Aku hanya ingin tahu, Ibu. Mengapa begitu banyak manusia yang tetep bertahan pada ketiadannya?."
" Bukannya mereka tidak mau maju, tapi mereka merasa jalan untuk kesana tidak ada. sudah tertutup selamanya."
" lalu bagaimana mereka hidup. Bu?" Mereka miskin tidak punya apa apa.
" segalanya sudah ada yang mengantur, sayang.!"
Tapi orang orang seperti itu tak punya semangat untuk maju, mereka tetep bertahan pada kemiskinannya mereka sudah menyerah duluan."
" Tak semua hal bisa dipahami secara hitam dan putih , kau masih perlu banyak belajar."
Tapi sampai saat ini, setelah beberapa tahun Ibu wafat tetep saja tak satupun yang bisa ku mengerti. Tak ada.
Ketika memulai kariku dahulu aku tahu bahwa aku akan sukses, aku akan melakukan segala cara untuk mencapai jenjang karir yang lebih tinggi. Aku mencintai peningkatan hidup, aku suka kemapanan begitulah seharusnya manusia. kemapanan berarti kemakmuran berarti kemajuan aku mencintai semangatku untuk itu.
 Tapi ada yang berbeda setiap kali aku bertemu dengan Wanita penyapu jalan itu. apa istimewanya ? apa hebatnya ? mengapa ia berhasil mengusikku..?. Pikiran itu terus terbawa hingga malam hari. ketemuan dengan Pak Raul siang tadi pun ngga menghasilkan apa apa. Hari ini terasa begitu hampa. Apa yang terjadi? keluhku, kuminum susu hangat lalu melonjorkan kaki ke sofa, hari ini terasa begitu melelahkan . Tiba tiba aku merindukan Ibu 'Ah, Ibu.'
Pagi ini lagi lagi terlambat.
" mengenai keterlambatanmu.........." Mbak ririn mengantung kalimatnya, aku memandangnya. Apa yang tengah dipikirkan mbak ririn?
 " Mungkin kau terlalu capai, Mika sehingga kau sadari kau perlu banyak tidur pada malam hari.  Mungkin hal inilah yang membuatmu kesiangan.
"Aku mengeluh, aku tidak capai, aku tidak lelah hanya saja mungkin aku perlu sedikit istirahat.
" Kinerjamu akhir akhir ini mencemaskan kami semua , Mika.
" Aku menunduk " Bagaimana proyek Pak David ? Lancar kan?
 " Tiba tiba aku tertekan. Akan kuusahakan selesai lusa, " janjiku, tak yakin.
" tapi Mbak tidak yakin, Mika." kembali aku menarik nafas, ketidak yakinan mbak ririn mungkin sama besar dengan ketidakyakinanku sendiri.
" Ada apa, Mi? kalau kau punya masalah, kau bisa bilang kepada Mbak, walau mbak tidak bisa memberi solusi yang baik, setidaknya hatimu suda h merasa lapang dengan menceritakannya.Aku tersenyum pahit, tak satupun kukira yang bisa mengerti apa yang tengah kurasakan.Pembicaraan kami berakhir sejam tanpa membawa hasil apa apa bagi diriku sendiri, aku merindukan sesuatu, entah apa, tiba tiba ada sesuatu yang kosong disini. Di hati ini.
" Kak!" terdengar suara Revi.
"Ya," sahutku segera, kembali kekursiku. Revi masuk,
 " Bagaimana? " tanyaku.
" Nanti jam sepuluh, Revi ada janji sama mandor proyek Pak David." Ujarnya.
" Bagus, " desahku, seolah tanpa minat, ku jangkau pena kutulis sesuatu di secarik kertas.
" Sekarang Revi pergi ke alamat ini." aku menyondorkan kertas itu. Revi mengambil, mengamatinya sejenak.
" Tapi Bapak ini.." Revi menatapku. Aku membalas tatapannya.
" Kenapa? Kamu takut?! " tantangku. Revi menggelengkan kepalanya, perlahan.
" Baik ,sekarang pergilah!"
Revi memandangku.
" Ada apa lagi?" tanyaku.
" Kakak berubah," ujar Revi.Aku terkejut, kualihkan pandanganku ke komputer."Pergilah sekarang."
" Biasanya kakak yang selalu bersemangat!"
" Revi!" aku memandang revi tajam ,
" kalau kamu tidak mau ya , tidak apa - apa.
"Revi terdiam.
Semacam rasa penyesalan timbul di dadaku.
 " Kakak sungguh - sungguh telah berubah, " ujar revi kemudian sebelum pergi dari ruanganku. Aku menghela nafas, Tuhan, apakah yang terjadi sebenarnya? desahku. lagi lagi aku merindukan Ibu " Ah, Ibu.
" Aku bangkit lalu kelaur menyusuri jalan yang biasa aku kulalui. Tiba tiba aku teringat wanita prnyapu jalan itu, dimana dia? aku celingukan.
" Assalamualaikum, Nak."  wanita itu muncul dari belakang menyapaku, cepat ku menoleh lalu memalsa sebuah senyum
" Alaikumsalam" sahutku kemudian.
" Tumben ngga tergesa - gesa." ujarnya ramah. Aku terkejut jadi wanita ini memperhatikanku setiap hari? kupandangi wanita sekitar 50-an ini, namun ada sesuatu dimatanya bening dan mengkilau, wajahnya penuh dengan senyum ketulusan.
" Anak ini pegawai kantoran , ya?" Aku mengangguk.
 " Wah, hebat anak gadis jadi pegawai kantoran. Aku tertawa kecil!
" memang anak gadis tidak boleh jadi pegawai kantoran?"
 Wanita itu tertawa, menyenangkan sekali melihat tawa wanita ini, aku ikut tertawa melihatnya.
" Anak zaman sekarang memang pintar pintar, " ujar wanita itu kemudian. Tiba tiba aku teringat pertanyaan pertanyaan tentang wanita ini.
 " Ibu sudah menikah?"
 " Sudah, memangnya Ibu kelihatan seperti gadis? " wanita itu kembali tertawa.
 "  Anaknya sudah berapa?"
 " tiga. "
 Tiga, banyak juga pikirku dengan penghasil sebagai penyapu jalan apa bisa menghidupi mereka semua?
" Ibu tinggal dimana ?" tanyaku. Ibu itu menyebutkan alamatnya. " Jauh juga," ujarku
 " Apa penghasilan Ibu cukup untuk menghidupi anak ? tanyaku menyelidik. Ibu itu tertawa tapi bagian mana pertanyaan aku yang bikin lucu ,
 " susah kalu bicara sama anak pintar maunya menyelidiki terus." Aku tertawa kecil.
" Kalau Ibu tidak mau jawab juga tidak apa apa.
" oh boleh gaji Ibu dua ratus ribu sebulan."
Dua ratus ribu? aku terkejut kayanya mirip sama tagihan telepon ku Bulan ini.
" Cukup?"
 " Ya "
" Betul cukup?"
 " menghidupi lima orang ?"
" Empat, suami Ibu sudah meninggal bertahun tahun lalu."
" Oh maaf."
 " Tidak apa apa." Ibu itu menghela nafas.
 " Begitulah hidup ini, ada yang datang ada yang pergi , Allah takkan mengambil sesuatu kecuali dengan gantinya.
"Aku memandang ibu itu, lalu teringat ibuku sendiri.
 " Tapi Allah tidak menganti ibu saya dengan yang lain." Ujarku pelan
" Allah akan menggantinya dengan pahala jika kamu bersabar." ujar wanita itu. Ya, benar klise sekali. aku memejamkan mata ada sesak disini, di Dada ini semenjak 10 Tahun laluu.
" Pasti tak ada yang bisa Ibu tabungkan dengan gaji segitu."
 Ibu itu tertawa " Ada "
" Ada?"  mataku membesar, kubayangkan semuanya Mustahi!"
Ibu itu tertawa lagi
" Begitulah keadilan Allah, Ia memberikan otak yang cerdas pada anak anak saya, sehingga seluruh anak anak saya mendapat beasiswa, tak sepeser pun yang saya keluarkan untuk mereka kecuali dulu ditahun - tahun pertama sekolah. Aku tersenyum tak percaya, Benarkah?
 " Yang paling Besar sekarang dimana?"
" Dumai "
  " Caltex "  Rekanan Caltex baru saja selesai sekolah di Amerika atas biaya perusahaan ujar Ibu itu.
"Aku ternganga. Tuhan ini mustahil tak bisa dipercaya .
 Ibu itu tersenyum lagi
 " Percayalah kepada Allah atas segala sesuatu. Kamu tahu sebuah doa yang sangat indah, Nak?" tanya Ibu itu.
" Apa? " tanyaku.
" Bismillah tawwakaltu alallah, la haula wala Quwata ila billah. Kamu berusaha namun menyerahkan segala usahamu pada Allah, sebab tidak ada daya upaya selain daya upaya dari Allah semata."
Ibu.... aku memejamkan mataku, dadaku semakin sesak. " Terima kasih, saya pergi dulu " Ujarku kemudian, lalu menginggalkan wanita tua itu, air mata mataku menetes namun kuhapus segera dengan kasar, aku menuju kekantor lalu ruanganku. Diatas meja ada foto ibuku , air mataku tumpah lagi, namun kali ini tak kutahan. Itulah kata kata terindah yang pernah kudengar selama hidupku. kata kata dari wanita tua itu. Begitu banyak petuah ibu dahulu sebelum ia pergi meninggalkanku untuk selama lamanya, kenangan yang indah antara kami berdua ketika ia membacakan dongeng, menemain ibu melukis, melukis langit, burung terbang.
" suatu saat kau pun akan terbang meninggalkan ibu."
" tapi ibu yang duluan pergi, isak ku. tak ada pengganti , Ia takkan terganti.
 ' Tiada daya upaya selain daya upaya dari Allah saja.' Wanita tua itu benar. Itulah satu ruang kosong didalam hatiku yang aku lupa, aku merasa seluruh kekuatan aku yang punya , jalan hidupku aku yang setir, aku sudah menjadi gadis yang begitu ambisius akibat tempaan hidup,
 Tapi sesuatu dimata penyapu jalan itu, begitu tulusnya, Sekuat apapaun aku berusaha untuk menyembunyikan kepahitanku akibat ditinggalkan oleh bunda tercinta tetap saja ia tak bisa disembuhkan. meninggalkan luka yang panjang dan deretan penyesalan. Tidakkah tiba saatnya bagiku kini untuk mengakui bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa atas segalanya? Inilah takdir yang coba untuk kuingkari selama bertahun tahun ini, aku telah lama kehilangan bundaku. "Maafkan aku, Allah, maafkan," isakku kemudian.

3 komentar:


Zeal*Liyanfury mengatakan...

Terharu, sungguh...
Begitulah kehidupan.. ada yang datang ada yang pergi, ada yang kaya dan miskin, ada bahagia... ada sedih... seperti halnya ada langit dan ada bumi.. semua tercipta berpasangan. dan Allah menciptakan segala yang berpasangan itu dengan suatu tujuan tentunya. maka ukuran kebahagiaan bukanlah terletak pada nilai kebendaan atau kelimpahan namun pada "penerimaan" dan "rasa syukur." sesuai janjiNya: barangsiapa yg bersyukur maka Dia akan menambah nikmatNya... Wallohu'alam. #waah.. komentnya kepanjangan ^__^


pena kecil sativa mengatakan...

Subhanallah...sangat menyentuh
sesibuk apapun kita....untuk menutupi kekosongan itu..tetap saja ruang kosong itu tetap menganga...
tetapi yakinlah, Allah akan mengisi kekosongan itu...Dia maha melihat dan maha berkehendak atas segala-galanya...
haduhh kepanjangan juga comentnya
yang sabar ya?
jangan lupa mampir ke Tarian Penaku ya...
ditunggu :)


Catatan Harian Irfan mengatakan...

Cerpennya bagus
Niche blog :)


Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform