Senin, 01 Agustus 2011

Indah , ya ...


" Indah, ya?"suara lembut dari wanita berjilbab yang duduk disampingku ini adalah suara yang tak butuh jawaban. Ya, gimana nggak, putri demikian gadis ini biasa disapa,bisa melihat apapun dengan indah. Pernah aku memergokinya didepan halte. Tahu nggak dia sedang ngapain? sedang melihat dua ekor anak kucing, sodara sodara.Nah wajar dong kalo aku heran dan bertanya, " Kamu ngapain, Put?" Dengan mata berbinar dia menatapku,sambil berkata, " Indah, ya?" Tuh, bingung nggak? Pertama kali kenal Putri, dia memang pengangum berat matahari, terbit dan terbenamnya tak pernah dilewatkan. Yup, masih bisalah aku tolerir , tetapi, begitu dia bilang hujan deras itu indah, anak kucing yag berkerjaran dihalte juga indah, sebagai pemuja logika aku mulai mengerutkan kening. " Kamu terlalu murah menilai keindahan, put." aku protes waktu itu. Putri cuma tersenyum mendengar protes ku itu. " Yah, memang murah , Mi, gratis malahan, Allah kan nggak pernah mungut bayaran dari semua keindahan." Hhh.... kalau sudah begitu aku tak bisa berkata apa - apa. Toh aku tak rugi apa apa, untung malahan karena my best friends ku ini bakal terus tersenyum. Aku cuma jadi heran , kok ada orang ajaib ini. Pernah juga aku marah dengan keindahan versi gadis ajaib ini. Begini, suatu kali sehabis latihan karate yang melelahkan. Tiba tiba saja putri menarik tangan mengajak kerumah sakit. " Ada yang sakit, kamu mauu nemani aku kan , MI?" Siapa coba yang bisa menolak kalau udah dikasih senyum ajaibnya. Singkat cerita, setelah berjemur diatas gerbong kereta, akhirnya sampai juga dirumah sakit, Putri langsung menarik ku ke lantai dua, menuju tempat bayi yg baru di lahirkan. O rupanya saudaranya ada yang baru melahirkan pikiri ku. Putri mengintip dari balik kaca , bayi bayi yang lucu itu satu satu

" Yang mana, Put, bayi saudaramu?" Putri dengan senyum ajaib yang sudah kuhapal cuma balik bertanya seperti biasa.

" Indah, ya?" Aaaaaaaaaaarrgghhh! Jelas aku marah, ternyata kami berjemur ria dikereta itu cuma untuk menengok bayi yang bukan siap siapa dia. Ah Putri ini benar benar terlalu. Melihat wajahku yang mirip udang rebus, putri langsung berusaha menetralkan dengan memasukan ku kedalam kulkas kata katanya yang dikit panjang. " Lihatlah, Mi, betapa sucinya mata mereka, mata yang belum berdosa, begitu menyejukkan dipandang." Aku hanya diam sambil cemberut, tapi memang benar juga sih kata katanya tadi.hanya dengan melihat bayi bayi itu begitu menyejukkan.

Hari itu, sehabis kuliah bersama diteras rumahnya yang teduh. Tiba tiba saja putri menatapku serius. " Mi, aku mau cerita." Tentang apa, Put? tentanng penyakit indahmu itu?" Putri tersenyum menanggapi godaanku. " Ya, itu juga. Kau my best friends aku pikir kamu berhak Tahu." wajahnya murung mendadak. Wah serius nih kayanya segera saja aku tak berkata apa apa lagi siap mendengarkan. " Aku anak pungut, Mi," katanya tanpa basa basi. Aku berharap itu cuma gurauan. " Waktu pertama kali diberitahu, aku marah pada semuanya, bahkan juga marah sama Tu...Han."

Aku bertanya takut - takut tak tega " Terus siapa orang tuamu? " " Entahlah, Mi aku ditemukan didepan rumah mama bapaku yang sekarang." tiba tiba saja aku tahu kenapa dia senang sekali dengan bayi bayi yang dirumah sakit. " Maaf, Put, soal dirumah sakit itu. Aku nggak Tau....."

" Nggak pa pa, Mi . Yah dulu memang aku melihat bayi itu untuk mengasihani diri sendiri, tapi alhamdulillah , sekarang aku bisa melihat bayi itu semata mata sebagai keindahan." Aku menatapnya bingnung tak mengerti. Putri mengetahui kebingunganku, ia pun melanjutkan kata katanya

" Aku dapat hidayah-ya, MI."" Hidayah? petunjuk gitu?" ya, dalam kemarahanku waktu itu mama bapa menghadirkan seorang guru ngaji guna menjawab semua kemarahan ku. Aku masih berpikir pikir apa yang dikatakan guru ngaji hingga bisa putri mengindahkan apapun yang ada didepannya. Lagi lagi Putri bisa baca pikiran ku. "Ya, tadinya nasihat dari guru itu kutolak semuanya , masuk kuping kanan ke luar kuping kiri , hingga beliau mengajakku melihat dan mengkaji surat Ar- Rahman."

Wah, aku benar benar tak tahu isi surat itu semakin bingnung aku menoleh ke arahnya.Ar- Rahman?"

" Ya, disurat itu dijelaskan segala macam kenikmatan Dia anugerahkan kepada kita. Di surat itu pula Allah bertanya berulang ulang kali. Dengan khusyuknya putri membaca sebuat ayat " Fabi"ayyi aalaa"irabbikumatukadzdzibaan... Dan nikmat Tuhan yang manakah yang hendak kalian dustakan?" Aku kaget karena putri sudah menangis tanpa suara ." A... aku merasa Allah menamparku, Mi. Aku merasa sudah berburuk sangka pada- Nya. Aku segera memeluk my best friends itu, membiarkan ia menangis dibahuku.

Sejak hari itu, kami makin dekat erat, bahkan aku mulai bisa menikmati keindahan yang dirasakannya. Seperti saat ini. Dari dalam bus kami melihat hujan yang turun derasnya. Saat penumpang lain menatap cemas , kami berdua menghirup aroma indah yang keluar dari aspal panas yang tertimpa hujan, menatap jalan yang indah, berkilat terbersihkan dari debu jalan .Ah betapa indahnya.

tetapi esok paginya dunia sungguh tak indah bagiku, aku menyesal setengah mati, tak menghidupkan Hp dan melemparnya ke laci.Begitu kunyalakan ada puluhan sms dan mailbox , pesan sama dari orang yang sama bapa mamanya Putri. " Putri kecelakaan, tolong cepat datang!"

Aku bergegas menumpang ojek kerumah sakit. Rupanya dimalam itu sehabis pulang bersamaku, putri keluar lagi. " Ingin melihat indahnya bintang katanya," kata mama putri lirih sambil mengajakku kekamar putri. Ia lalu menceritakan betapa ketika itu putri baru saja keluar nunggu angkot tiba tiba saja sebuah truk pengangkut pasir menabraknya. " Dia menyebut terus namamu," Suara mama putri terasa datang jauh dari alam lain. Sebab disaat yang sama aku melihat putri yang sekujur tubunya penuh perban berlumuran darah mungkin kedua tangan kaki nya patah., hanya menyisakan wajah manis yang terpejam , suara yang terdengar hanya suara bapanya membacakan surat yasin penuh keharuan dan suara monitor jantung yang menusuk nusuk kuping.

Ajaib tiba tiba saja putri membuka matanya, begitu melihat kehadiranku, putri langsung mengulas senyum yang kuhapal, tangannya mengisyaratkan agar aku mendekat. Dengan menabahkan hati aku mendekat dan membalas senyumnya, begitu mendekat tangan putri menuju keatas sambil berkata jelas, seolah tak ada sakit yang dideritanya." Mi, yang ini indah sekali kau harus lihat, Mi." tengkukku tiba tiba dingin tak ada apa apa disana selain langit kamar , aku belum mau kehilangan my best friends ya Allah. Suara tasbih yang menyadarkanku, aku pun tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Putri rupanya belum puas , dia masih menunjukkan telunjuknya keatas." Kamu harus lihat , Mi."aku pun mengikuti telunjuknya, menatap keatas lalu ditengah suara monitor jantung berpacu ku dengar lagi suara yang hadir dihari hariku bersamanya " Indah, ya?"lalu diam, senyap tak ada lagi suara putri , suara monitor jantung menjelma sutu tiiiit yang panjang, kutolehkan wajah ke bawah penuh penolakan. terlihat wajah putri yang terseyum dalam diam. Tersenyum dalam Keindahan-Nya.

"Ya, Putri, memang indah aku membantin dalam haru."

" Innalillahi wa inna ilaihiraajiun."

2 komentar:


Eka Febby Setiani mengatakan...

Setuju,Indah memang.Semua ciptaan`NYA ^_^


Phipi mengatakan...

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukadzdziban..
Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kita dustakan.. :)

semoga ini menjadikan kita pribadi yang lebih pandai bersyukur..aamiin ^^


Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform