Selasa, 01 Maret 2011

1 Cafe 5 Curhat

Ketika remang senja telah sempurna menghilang berganti kelam langit tak berbintang. Cafe franchise justru kian jelita bermandikan lampu lampu yang ditata apik memancarkan atmosfer romantisme megah dan berkelas.Kursi kursi diarea teras dan dalam cafe pun penuh sesak dibanjirin pengunjung yang bercanda riang satu sama lain, atau sekadar duduk manis menikmati sajian,beberapa kelompok tamu yang baru tiba terpaksa celingukan mencari meja kosong.

tokoh 1 . Seorang pria tampan awal tiga puluhan yang duduk dimeja nomor 17 deket jendela cafe.

Pria ini mengenakan kemeja biru dan berjas, necis, tampan, rapi, khas golongan ekskutif muda.Gelisah ia. Berulang kali dilirik arloji yang melingkari pergelangan kirinya, mendesah mengalihkan mata kejalanan macet diluar jendela, sesekali memainkan keypad blackberry keluaran terbarunya, lalu menyeruput secangkir kopi yang menemaninnya dari beberapa menit lalu.beberapa kali blackberrynya menjerit dan selalu dijawabnya dengan pesan yang sama " Nanti ku telepon balik dari rumah, pukul sembilanan lah . Kamu kan tahu jam segini aku pasti ada di Cafe menunggu kemacetan sedikit mereda Oke..?"

Haduh, kapan sih jalanan tidak lagi macet benaknya, belum lagi angkot yang seenaknya berhenti naik turun penumpang, ditambah again jalanan yang berlubang, Payah pemerintah kota semua tidak ada yang beres kerjanya.

Eh, hujan turun ? celaka ! pakai hujan segala sih, tambah macet kalau begini. Nyampe rumah jam berapa nih ? Hah....

Kacau ! bosen mengumpat menyalahkan orang yang ditudingnya bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang tiap hari dialaminya.

Pria tampan tadi mulai berandai andai, asyik juga kalau ada sopir pribadi pasti ga harus cape cape mengemudi, tapi lebih Sip bila kantorku didepan rumah , atau Ehm aku menang lotere 10 Milyar wow bye bye bye banting tulang ! ia senyum senyum membayangkan khayalannya terwujud, Ah tak mungkin hidup memang tak pernah adil bagiku.

Tiba tiba matanya tertarik pada seorang pemuda yang mengemudikan sebuah mobil merah berlogo kuda jingkrak dari negera menara PISA. Fiu ! pria tampan tadi bersiul , jalan boleh macet namun berada dikokpit mobil itu pasti tak ada istilah lelah mengemudi.Hebat cowok itu , masih muda sudah sukses aku ingin menjadi dia. Andai dia adalah aku bahagia pasti !

Bruk !

"A... duh, maaf tuan, saya tidak sengaja. " Sebuah suara mendadak membuyarkan lamunan. Seorang Bapak paruh baya pucat pias berupaya dengan tangannya mengeringkan celana mahal pria tampan itu yang tersiram kopi. aget bercampur marah, pria itu spotan berdiri Heh, amu buta ya ? ditaruh dimana matamu ? Gila ! pria tampan tadi terus memaki tak memperdulikan lagi tatapan belasan pasang mata pengunjung cafe, Seorang laki laki berseragam karyawan menghampiri dan berusaha menenangkan pria tadi, Name tag bertulis Manajer tersemat di seragamnya.

Maaf Tuan maaf sekali atas kejadian ini , dia karyawan baru , Saya atas nama cafe amat menyesalkan insiden ini, Namun jangan khawatir, Tuan kami akan mengganti segala kerugian Tuan.

Plak ! tanpa sempat dicegah tempelengan mendarat di Bapak paruh baya itu, yang dengan cepat berjalan keluar Cafe.Sementara Manajer cafe itu hanya bisa mendesah iba penuh sesal.

Tokoh 2 . Seorang pemuda didalam kokpit mobil sport berlogo kuda jingkrak

Pemuda tadi imut, terlihat terpelajar amat cocok mengendarai si kuda jingkrak ini , namun tak seorang pun menduga bahwa ia bukan pemilik mobil itu, pemuda imut tadi bekerja disebuah bengkel mobil impor bagian pengantaran pastinya, ia bertugas mengantarkan mobil yang selesei di service pada pemiliknya. dan seperti hari hari biasanya pemuda itu juga terjebak kemacetan,nyambil memindah mindahkan frekuensi radio dia mulai menggerutu, mengapa semua memilih pulang kerja berbarengan ? gantian gitu lho..!

Aduh hujan lagi, sempurnalah kesialanku hari ini setelah macet harus mencuci mobil canggih ini ditempat siempunya lagi nanti. Tanpa sengaja matanya perhatikan sebuah cafe disamping jalan,penuh rasa iri dipandangin pengunjung yang memasuki cafe. Ah kapan aku bisa makan dicafe seperti itu ? Huh memang dunia tak adil aku cuma lulusan SMU mana mungkin seperti mereka ? menjadi sopir itu satu satunya yang dapat kulakukan. Mobilnya belum juga bergerak matanya pun masih terpaku pada cafe, tiba tiba sebuah sepeda motor berbelok memasuki halaman cafe kemudian berhenti didepan pintu bertulis Staff only, pengemudinya turun lalu mengambilnya sesuatu dari dalam boks, bergegas masuk kedalam cafe tadi.

Hmm , pengantar pesanan, benaknya enak juga pekerjaan itu, sama sama pengantar tapi dia bebas macet, kemana mana naik motor, jam kerja juga jelas, udah ada jadwal pelanggan mana yang di tuju ,lagi lagi pemuda itu membandingkan tak puas ia akan takdirnya. Mendadak ekor matanya menangkap keributan didalam lewat jendela besar cafe. Seorang Pria berkemeja menempeleng keras seorang bapak paruh baya .Eh ada apa ya ! ia bertanya tanya dalam hati, tak urung ditatapnya terus bapak tadi yang bergegas keluar cafe dan setengah ragu saat hendak menyeberang jalan. Ia melambai lambaikan tangan, pemuda di dalam senyum mengejek takut amat tertabrak sih pa ? macet begini siapa yang bisa maju ? Dasar kampungan.

Tokoh 3. seorang remaja pengantar pesanan yang mengemudikan sepeda motor boxnya.
Remaja itu mengenakan jaket hitam bergambar logo perusahaan,lincah ia mengendalikan motornya dilengkapin helm fullface menutup sempurna wajahnya, belai rintik hujan diacuhkan begitu aja.Hah... tiap hari rutinitas serupa keluhnya di hati, jalanan macet berdebu mesti kujelajahi untuk mengantar barang barang bodoh ini.Baru nyampe ? sapa seorang pelayan cafe yang menerima nota tanda terima plus uang darinya. Ya macet luar biasa diluar. Bagaimana pengunjung ramai? yup beginilah setiap malam kerja melayani tamu demi gaji ala kadarnya pelayan cafe itu dengan nada kurang ramah. Remaja tadi hanya cengengesan, gaji ala kadarnya gimana? lha wong pengunjung cafe tajir semua tipnya pasti gede tak dapat dibandingkan dengan gajiku yang UMR dong,mereka sih enak ada tip dan sesekali bisa bawa pulang hidangan lezat dari cafe, sementara aku harus mengukur jalan dan tip dari mana?
Ia berandai andai sembari sirik seorang pelayan membawa nampan pesanan kesalah satu meja tamu cafe.Ah aku ingin bertukar tempat dengan dia kalau bisa, dunia memang tak adil padaku remaja itu menghela nafas.

Tokoh 4. Seorang pelayan cafe yang tengah membereskan sebuah meja yang baru saja ditinggalkan pengujung.
pelayan berseragam putih itu tampak necis dengan rambut pendeknya disisir rapi cekatan ia menempatkan piring gelas kotor ke atas nampan lalu mengelap meja hingga bersih. Tak nyampe satu menit pelayan tadi telah berjalan kembali ke dapur cafe." Meja 17 !" seru seorang koki dari dapur sambil menunjuk sebuah piring dan secangkir pesanan pelayan itu tak menjawab lalu membawa pesanan pengujung di meja 17 tadi ke depan. Huh mau maunya aku berprofesi seperti ini, merendahkan diri melayani orang orang bodoh berkantung tebal yang enteng membuang puluhan ribu hanya demi secangkir kopi, dan aku seorang sarjana yang terjebak dicafe ini.susah payah kuliah di universitas hanya untuk ditolak kerja disana sini.ujung ujungnya jadi pelayan,aku tak pantas bernasib sehina ini.
" Silahkan tuan " dipaksakan senyum ramah saat menghidangkan pesanan meja 17.Baru saja pelayan tadi hendak pergi pengunjung itu memanggilnya, Hei...hei..kamu ngga tahu saya pelanggan cafe ini ya? mana krimernya sana"ambilkan.!"
" Segera tuan," nyambil memaksakan seulasan senyum, kesel campur kangum juga pada pengunjung meja 17,sombong tapi dia berhak angkuh seorang eksekutif, kaya,berkuasa, punya pengaruh, apa lagi kurangnya..? andai aku seperti dia, alangkah senengnya, semua bisa ku beli.ya, olehku seorang sarjana.
Tokoh 5. seorang bapak paruh baya yang sedang menyeberang depan cafe dibawah gerimis
Kemeja lusuh yang dipakai sudah agak basah saat ia berhasil mencapai sebeerang, gerakannya takut takut saat menyelinap disela mobil mobil yang berbaris padat merayap karena macet, ketika itu matanya menangkap bulan sabit dari arah sebuah gang kecil sebuah panggilan gaib menariknya mendekat tanpa bisa nolak bergegas ia memburunya. "Alhamdulillah," kalimat itu yang keluar dari mulutnya ketika tiba disebuah mesjid didalam dua orang menjadi makmum jamaah shalat isya, ia bergegas mengambil wudhu lalu turut menjadi makmum.Setelah salam bait bait doa ia panjatkan. "Ya Rabbi,mudahkanlah segala urusan anakku amanatMU yang telah kau ambil minggu lalu, ampuni dosa dosanya dan terima amalnya."Ya Rabbi, anakku bukanlah orang yang kaya namun ia tak miskin budi pekerti,anakku bukan juga sarjana yang pintar tapi ia mampu mnengajariku ilmu yang bermanfaat."Ya Rabbi anakku bukan orang penting dimata manusia ia hanya seorang petugas kebersihan rendahan, namun ia anak yang shaleh yang tak pernah mengeluh sulitnya hidup kami melainkan kata penghiburan yang terucap padaku sebagai penawar."Ya Rabbi terangkanlah hatiku karena kebodohan kami belum mampu mengikhlaskannya penuh tawakkal...

0 komentar:


Followers

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Blog's Stats

 

Smile Corner | Copyright © 2011
Designed by Rinda's Templates | Picture by Wanpagu
Template by Blogger Platform